Ide Dalam Tanda Petik

Oleh: Yusuf Efendy

“Mengarang itu gampang,” begitu kata Arswendo dengan judul bukunya. Aku setuju. Bahkan aku yakin bahwa mengarang bukan cuma gampang tetapi juga menyenangkan dan menghasilkan. Meskipun makna ungkapan itu baru aku rasakan setelah menanti selama tujuh belas tahun tahun!

***

Aku seorang sarjana. Namaku Yudi. Umur 38 tahun. Tinggi 157 cm. Rambutku lurus pendek. Muka bundar. Aku berkumis dan memiliki janggut yang aku bersihkan seminggu sekali. Pekerjaanku guru.

Aku mengajar di sebuah SMU Negeri. Anak-anak aku bimbing belajar Bahasa Inggris. Kemampuan mereka berbahasa Inggris menjadi tanggung jawabku. Aku harus membuat murid-muridku terampil menyimak semua yang berbahasa Inggris. Aku juga harus membuat mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Murid-muridku harus mahir membaca semua tulisan berbahasa Inggris, dan tentu saja mereka juga harus bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan, pendapat dan lain-lain dalam bahasa Inggris. Dari semua keterampilan yang harus diajarkan, keterampilan mereka menulis lebih mendapat perhatianku.

Untuk memupuk keterampilan murid-muridku menulis, aku sering meminta mereka untuk menuliskan apa yang mereka alami dan mereka lakukan pada saat liburan. Atau aku sering meminta mereka menuliskan pendapat, perasaan, tanggapan dan sejenisnya terhadap informasi yang mereka lihat, mereka dengar, atau yang mereka baca.

Jika aku melihat ada muridku yang tampak bingung mengerjakan perintahku, karena perintahnya sendiri memang sering tidak jelas, aku sering tanpa sadar mengucapkan kata-kata, ‘‘tulis saja apa yang ada dan lewat di kepalamu!” “Jangan takut salah, jangan takut ditertawakan, dan jangan takut tidak ada yang membaca.” Begitu aku sering memberi nasihat. Anehnya, aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang sering aku perintahkan kepada murid-muridku yang kebingungan itu.

Sekarang aku melakukannya. Aku akan menuliskannya. Dan aku akan menuliskan apa saja yang ada di kepalaku. Aku akan menceritakan apa yang aku pikirkan, ketika aku menyusuri belokan demi belokan jalan mendaki dengan sepeda motorku di kegelapan kabut suatu subuh di Puncak.

***

Hari ini aku bangun dini sekali. Suara kodok masih terdengar lamat-lamat dari pinggiran kali yang tidak terlalu jauh. Tidak ada kokok ayam. Tapi, suara burung tekukur Pak De Wagiman sesekali terdengar. Di luar hujan, meskipun tidak terlalu deras. Suara pak Haji yang biasa terdengar dari Mushalla di dekat rumah, yang biasanya muncul setengah jam sebelum waktu shalat subuh tiba, juga belum terdengar. Pak Husin, tetangga sebelah yang seorang pemilik sekaligus sopir angkot itu, belum memanaskan mesin angkotnya. Pak De Wagiman di depan rumah, belum berangkat ke pasar. Suara vespa tuanya yang menjadi tanda kepergiannya, belum terdengar ia nyalakan. Namun, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara speaker dari mesjid di kampung seberang kali Ciliwung. Meskipun demikian, suara hujan mampu memecah kesunyian malam.

Aku ke kamar mandi, mengambil air wudlu, kemudian shalat malam dua raka’at. Aku bangunkan istriku. Juga anak tertuaku yang sudah kelas enam SD. Kami bertiga makan sahur bersama dengan ikan ayam goreng Sukabumi yang sengaja aku beli sepulang mengawas Ujian Akhir Semester, mahasiswa Sekolah Tinggi tempatku biasa mencari tambahan uang belanja. Kami bermaksud melakukan puasa Sunnah Arafah sebelum Idul Adha tiba.

Selesai makan, anakku menyalakan Televisi. Dia mendapatkan acara yang selalu ingin dia tonton, pertandingan bola Liga Champion. Istriku melanjutkan tidurnya. Sedangkan aku sendiri membaca buku “Menulis dengan Emosi” yang baru aku beli kemarin.

Pukul empat tiga puluh, suara pak H. Kunkun membangunkan orang, terdengar dari Mushalla di dekat rumah.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihin nusuur. Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah. Waktu di Musholla At-Taqwa menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Sekali lagi, waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Waktu shubuh hari ini, jatuh pada pukul empat lewat tiga puluh delapan menit. Berarti masih ada waktu kurang lebih delapan menit lagi sebelum kita masuk ke waktu shubuh. Kepada Kaum Muslimin yang masih tidur, segeralah banguuun. Banguuun….! Ashsholatu Khoirum Minan Naum. Shalat itu lebih baik dari pada tidur. Bagi kaum muslimin yang ingin melaksanakan shalat subuh berjama’ah, harap bersiap-siap dan segeralah berangkat menuju Mushalla. Sekian terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Aku tutup buku yang sedang kubaca. Lalu aku ke kamar mandi. Adzan shubuh berkumandang ketika aku sedang mengguyur badan setelah memakai sabun. Selesai mandi aku pakai t-shirt, kupakai sarung, kuambil peci yang tersangkut di paku, kubentangkan sajadah. Aku melaksanakan shalat shubuh.

Setelah selesai, Aku ambil baju dan celana panjang yang tergantung. Kulipat. Kumasukkan ke dalam tas pakaian biru, yang biasa aku bawa. Kukenakan jinsku. Kupakai sweater. Kupakai jaketku yang bersleting sampai ke dagu. Kemudian kulapisi lagi dengan jaket hitam yang agak longgar. Kupakai sepatu setelah berkaus kaki. Kumasukkan kunci kontak. Kutaruh tas pakaian di lekukan antara stang dan jok. Kupakai helm. Kugunakan sarung tangan. Kukeluarkan Suzuki Tordano tahun 2000 kebanggaanku. Dan kuhidupkan.

Ketika aku menginjak gigi satu dan siap menarik gas, anakku yang bungsu bangun dan berteriak memanggilku dari dalam rumah. Dia meminta aku mengajaknya dulu mutar-mutar sebelum aku berangkat seperti biasanya. Aku ajak dulu dia memutari satu blok. Kemudian dia turun. Salim. Dan minta dicium.

Aku berangkat. Aku akan pergi ke Bandung. Setiap minggu aku memang harus pergi pulang ke Bandung dengan motorku. Aku belum selesai menjalani tugas belajar program S2. Naik bis sebenarnya jauh lebih nyaman. Apalagi, kalau naik Patas AC Executive. Lagi pula, uang beasiswa dari proyek yang aku terima, terhitung cukup untuk naik bis. Tapi, menurut hitunganku, dengan motor hanya menguras seperempat isi dompetku, dibandingkan kalau aku naik Bis Patas. Waktu tempuh pun relatif lebih cepat.

Kurang lebih satu kilometer aku meninggalkan rumah, hujan kembali turun rintik-rintik. Meskipun hujan hanya gerimis, kuputuskan untuk berhenti. Kubuka mantel hujanku dan kupakai, sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan. Aku terus melaju dalam remang lampu jalan yang belum dimatikan sambil menahan sakitnya tetes hujan yang mengenai mataku. Aku memang tidak memiliki jarak pandang yang cukup, bila kaca helmku aku turunkan.

Hujan baru reda setelah aku melewati Taman Safari. Persisnya di antara restaurant yang berbentuk pesawat dengan restaurant yang berbentuk kapal pinisi. Aku sengaja tidak melepas mantel hujanku. Aku mulai merasakan aroma dinginnya udara Puncak.

Baru saja aku memasuki Puncak, tepatnya di Gunung Mas, aku digulung kabut tebal. Udara dingin menembus lapis demi lapis jaketku, termasuk mantel hujanku. Aku merasakan dingin udara sampai ke tulang sum-sum. Tangan terasa kaku, kaki susah bergerak. Jarak pandang hanya sekitar dua meter. Lampu motor tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Kendaraan dari depan, baru tampak setelah di depan mata. Dan itu membuatku sering terkejut-kejut. Aku hanya bisa melaju dengan kecepatan 20 km/jam. Itupun harus aku lakukan dengan sering menahan napas. Terpaan angin yang kencang pada mantelku membuat motorku berjalan meliuk-liuk seperti penari ular. Dalam keadaan seperti itu aku membiarkan pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku sadar bahwa aku sudah sampai di Cianjur dan cuaca cukup terang.

***

Banyak yang terlintas di kepalaku saat aku berada di daerah Puncak. Aku ingat, bahwa aku kemarin baru saja mengambil jam tangan istriku, yang telah kutitipkan di service center Blok M lebih dari dua minggu. Aku ingat, bahwa aku lebih dari tiga kali, pergi pulang ke tempat itu hanya untuk membawa jam yang tidak sanggup bertahan lebih dari tiga hari setelah diperbaiki. Aku ingat tatapan penuh tanya, wanita-wanita penjaga show room di lantai bawah setiap kali aku lewat menyusuri tangga di sisi sebelah kanan. Aku ingat senyum manis pelayan bagian service, yang ia sunggingkan sesaat aku membelokkan badan ke bagian kiri setelah anak tangga terakhir. Aku ingat lambaian tangan Mas Yanto, si petugas service, dari balik kaca tembus pandang, tempat ia melakukan tugasnya.

Aku juga ingat, bahwa aku sengaja pergi hari itu ke blok M karena teman-teman istriku akan datang ke rumah. Aku ingat istriku bilang, bahwa bila aku ada di rumah ketika teman-temannya datang, mereka tidak akan merasa bebas. Aku ingat, bahwa istriku dan teman-temannya membuat buras (lontong isi) untuk acara hari ini di tempat mereka bekerja.

Aku ingat, bahwa sebelum pulang dari mengambil jam, aku mampir ke Gramedia. Aku ingat ketika aku pura-pura melihat-lihat sebelum akhirnya keluar lagi dari tempat alat tulis menulis di lantai bawah, karena aku salah masuk. Aku ingat tatapan curiga satpam toko itu ketika aku keluar lagi tanpa membeli apa-apa. Aku ingat bahwa aku meletakkan buku yang aku pilih di lantai dua, di tumpukan buku best seller, yang ada di lantai tiga. Aku ingat bahwa aku hanya membeli tiga buah buku seharga enam puluh ribuan.

Aku ingat, bahwa tadi malam aku selesai membaca buku kiat menulis cerpen. Aku ingat bahwa tadi malam aku bermimpi membuat cerpen yang bagus. Aku ingat bahwa aku masih mencari ide cerita untuk sebuah cerpen.

Dalam perjalanan itupun, aku mencoba merangkai kata-kata sebuah cerpen dalam imajinasiku. Aku membayangkan cerpenku dimuat di koran terkenal. Aku membayangkan bahwa aku, dengan penuh bangga, memperlihatkan cerpenku yang dimuat koran kepada dosen writing-ku. Aku juga membayangkan Professorku mengganti nilai writing-ku menjadi ‘A’.

Aku merasa puas. Ide yang aku cari untuk sebuah cerpen menampakkan wujudnya dalam perjalanan ini. Dan aku tidak merasakan dinginnya perjalanan itu.

Cibinong, Kamis, 21 Februari 2002

Advertisements

2 thoughts on “Ide Dalam Tanda Petik

  1. Wiih keren nih pak cerpennya, cerita bapak membuat saya menjadi lebih tahu untuk mencari ide bukan hanya untuk membuat cerpen saja, tapi untuk tugas di bidang lainnya !!

    106228

  2. wah,, pak saya sebenernya bingung mau ngasih respon apa . kayak nya menurut saya maksud dari cerita ”ide dalam tanda petik” itu bahwa untuk mendapatkan ide dalam membuat suatu karangan itu mudah . salah satunya dengan mengingat ingat kejadian yang pernah terjadi dengan kehidupan kita . ataupun dengan kejadian yang sedang terjadi di sekeliling kita . gitu ya pak?? hhehehe

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s