Kucing Itu

Oleh: Yusuf Efendy

Sekarang sudah hari ke sembilan. Yudi masih belum mengerti lewat mana kucing itu biasa masuk, jam berapa kucing itu biasanya masuk, dan apa yang merangsang kucing itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

Akhir-akhir ini Yudi kembali mengulang kebiasaannya bangun malam. Kebiasaan untuk melakukan sekedar dua raka’at shalat tahajud atau shalat sunnah hajat. Kebiasaan itu sebelumnya sudah terhenti agak lama. Apalagi setelah dia merasakan hidupnya sedikit agak senang. Tapi sekarang, dia merasakan bahwa kehidupannya agak sedikit oleng. Dia tidak dapat memberikan uang yang diminta istrinya meskipun hanya sepuluh ribu rupiah untuk belanja harian. Oleh karena itu dia sudi bangun malam untuk mengadukan persoalannya kepada sang Khalik sambil memohon solusi.

Malam itu Yudi bangun pukul dua lewat empat puluh lima menit. Ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu’, dan melakukan shalat di ruang tengah, persis di depan kamar tidur anaknya. Dia tidak melakukan shalat di kamar, tempat dia biasanya melakukan shalat sendiri di rumah. Dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya.

Setelah selesai mengadukan persoalan dan mengajukan permohonan untuk ditunjukkan solusi menghadapi sulitnya hidup, Yudi mengambil sebuah buku dari deretan buku yang ada dalam rak miliknya. Dia berjalan ke ruang tamu sambil menekan saklar lampu yang menempel di dinding, kurang lebih lima langkah dari tempat dia mengambil buku.

“Sialan!” Yudi memekik ketika seekor kucing melompat dari kursi tamu ke arah pintu depan, bersamaan dengan menyalanya lampu. Kucing berwarna hitam pekat sebesar bidak catur kreasi seniman Bali yang dimainkan di halaman sebuah hotel sebagai penarik wisatawan itu, menatap Yudi sambil menyiratkan permohonannya untuk dibukakan pintu. Yudi tidak memperhatikan apa jenis kelamin kucing yang membuatnya terperanjat itu.

Entah karena Yudi mengerti bahasa kucing atau karena dia ingin mengusir kucing itu keluar, tanpa diperintah Yudi membuka pintu depan. Seolah bahasanya dimengerti oleh manusia dihadapannya, tanpa pamit dan tanpa disuruh, kucing itu berjalan keluar dengan tenangnya. Kucing itu tidak berlari seperti kucing yang ketakutan. “Aku tahu dari tatapan matanya bahwa orang ini tidak galak,” mungkin begitu kira-kira yang ada di kepala kucing itu, sambil berlalu. Yudi menutup kembali pintu dan mulai membaca buku yang telah dipegangnya. Konsentrasi Yudi membaca terganggu oleh pertanyaan lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke dalam rumahnya. Yudi menduga bahwa kucing itu masuk lewat pintu depan ketika anaknya lupa menutup pintu saat keluar menemui temannya. Tujuannya paling-paling hanya untuk mencuri ikan asin, baik yang sudah digoreng maupun yang masih mentah, yang biasanya terdapat di dalam rumah.

Malam berikutnya kejadian kemarin berulang kembali. Yudi bangun, ke kamar mandi, melakukan shalat, mengambil buku dari rak, dan ke ruang tamu sambil menyalakan lampu. Melompat seekor kucing ke arah pintu depan, Yudi membuka pintu, kucing keluar, Yudi menutup pintu, dan duduk di kursi tamu untuk mulai membaca buku. Hanya saja, kali ini Yudi tidak mengeluarkan sumpah serapah seperti malam sebelumnya. Tapi, ketika Yudi baru hendak mulai membaca buku, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Yudi merasakan bahwa ion-ion rasa ketakutan sedang menjalar dalam sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar agak kencang dan sumsum tulang belakangnya terasa mendesak ke atas.

Yudi mengarahkan pandangannya ke ruang-ruang di bagian belakang. Dari ruang tamu tempat dia duduk, dia melihat ke arah kamar belakang di pojok sebelah kiri yang berfungsi seperti gudang. Kemudian ke arah kamar mandi dan ke arah dapur di sisi kanan. Semuanya lengang. Lampu lima watt di kamar belakang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang bergerak. Karena suasana malam itu sudah menjelang pagi, dan Yudi tahu bahwa anak-anak serta istrinya ada di rumah, rasa takutnya tidak sehebat seperti yang dia rasakan ketika sesuatu terjadi padanya sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi, kehadiran kucing misterius ini justru mengingatkannya pada kejadian tiga tahun yang lalu itu.

Waktu itu, Yudi baru pulang dari Banten dengan membawa mobil Suzuki Carry milik temannya. Malam sebenarnya belum begitu larut. Arloji di tangan Yudi menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit. Tapi demi kepraktisan dan setelah menelpon pemiliknya, mobil itu tidak dikembalikan kepada tuannya. Ketika mobil diparkir di depan rumah tetangga yang persis di depan rumahnya. Dari dalam mobil Yudi melihat dari dalam rumahnya seorang perempuan menyibakkan gorden dan memandang ke arahnya. Yudi dapat melihat bayangan itu dengan jelas karena di bagian tengah rumahnya, sebelum direnovasi seperti sekarang ini, terletak sebuah aquarium berlampu yang mampu memperjelas sosok seseorang di depannya.

Yudi mengunci pintu mobil dan memeriksa kaca-kaca jendela. Kemudian ia berjalan ke arah pintu rumah setelah menggeser pintu gerbang beroda yang biasa tidak terkunci. Tapi, ketika Yudi hendak masuk ke dalam rumah, dia merasa heran. Kenapa istrinya yang sudah tahu bahwa ia pulang tidak membukakan pintu. “Mungkin si Mamah menyangka bahwa yang bawa mobil itu bukan aku.” Yudi menduga apa yang ada di kepala istrinya. Dan ini logis. Selain Yudi tidak punya mobil, tempat mobil itu diparkir juga memperkuat dugaan ini. Oleh karena itu, tanpa harus mengetuk pintu, Yudi dapat membuka pintu itu dengan sebuah anak kunci yang selalu ia bawa dalam saku celananya.

Yudi masuk sambil mengucapkan salam yang tidak terlalu keras. Dan memang, maksud salam ini hanya sebagai etika memasuki rumah yang selalu ia jaga. Oleh karena itu, ketika salamnya tidak ada yang menjawab, Yudi tidak terlalu risau. Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk membuka pakaian. Ketika masuk ke dalam kamar sambil menyalakan lampu, Yudi tidak melihat istrinya tertidur di situ. “Mungkin si Mamah ikut tidur di kamar anak-anak,” pikir Yudi sambil melepas pakaian.

Yudi masuk ke kamar mandi yang pintunya berhadap-hadapan dengan pintu kamar tidurnya. Mengambil air wudlu’ lalu melaksanakan shalat isya yang belum sempat dilakukannya di perjalanan. Setelah selesai melakukan shalat dan berdoa sebentar, Yudi merasakan keanehan. Mengapa istrinya tidak menghampirinya di kamar depan? Apakah istrinya tidak terganggu oleh suara Yudi di kamar mandi ketika mengambil air wudlu? Tidak mungkin, jika istrinya tidak tahu bahwa dia sudah pulang. Bukankah sebentar tadi, istri Yudi sudah melihat kepulangannya lewat gorden? “Si Mamah dengan Anak-anak ingin menciptakan keceriaan rumah dengan bermain petak umpet.” Yudi menepis keanehannya.

Yudi bangkit. Melepaskan kain sarung yang ia kenakan ketika shalat, melipat sajadah yang tadi ia bentangkan, dan berjalan ke arah kamar anaknya. Yudi menyibakkan kain gorden di kamar anaknya dan menyalakan lampu. Yudi tidak menemukan kedua anaknya yang masih kecil-kecil, dan juga istrinya. “Jangan bercanda akh!” teriak Yudi sambil berjalan ke arah kamar belakang. Kamar ini sebelumnya merupakan kamar pembantu yang pernah bekerja untuk keluarga Yudi sebelum para pembantu itu berhenti.

Yudi mendorong pintu kamar yang tidak terkunci, dan menyalakan lampu kamar itu. Dia pun tidak menemukan anak-anak dan istrinya disana. “Enggak takut weeee!” teriak Yudi lagi sambil menuju pintu belakang. “Mereka pasti bersembunyi di luar rumah lewat pintu belakang,” pikir Yudi di dalam hati. Dan betapa terkejutnya Yudi ketika dia tahu bahwa pintu belakang masih terkunci rapat. Sambil agak sedikit berlari, Yudi kembali ke kamar depan. Dia tidak melihat siapapun disana, dan tidak terdengar cekikikan tanda kemenangan dalam permainan petak umpet.

Secepat kilat Yudi berlari ke ruang tamu, menyalakan lampu, dan membuka pintu depan sampai ternganga. Yudi berdiri di sisi luar pintu, merasakan detak jantung yang berdebar-debar kencang sambil memikirkan apa dan siapa yang tadi dia lihat menyibakkan gorden rumah.

Entah karena mendengar bunyi pintu dibuka, atau karena kebetulan, atau karena merasa dititipi pesan yang harus disampaikan, Bude Wagiman tetangga Yudi di depan rumah keluar sambil berkata. “Pak, Ibu dengan anak-anak tadi sore pergi ke Depok. Katanya mau nginap.” “Oh, … Terima kasih Bude,” kata Yudi sambil menyembunyikan rasa takutnya. Bude Wagiman masuk lagi ke dalam rumahnya setelah menyampaikan pesan itu tanpa bertanya ini itu.

Yudi masuk ke kamar, mengambil kunci mobil, dan keluar rumah dengan menutup dan mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. Lalu Yudi membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya, menutup pintu, dan merebahkan badanya di jok bagian tengah. Matanya tidak bisa terpejam.

Setelah tidak berhasil mencoba memejamkan mata di dalam mobil selama kurang lebih dua puluh satu menit, Yudi bangkit dan keluar dari dalam mobil itu. Kemudian, Yudi masuk ke dalam rumah, menyalakan semua lampu di seluruh ruangan, masuk ke dalam kamar tidur, mengunci pintu kamar itu, dan membaringkan tubuhnya di atas spring bed sambil menutupi bagian muka dan kepala dengan bantal sampai akhirnya ia pun tertidur.

Pengalaman yang Yudi alami tersebut membuat dia percaya bahwa di rumahnya juga tinggal sejenis makhluk halus sebangsa jin. Dan jauh sebelum komplek tempat rumahnya ramai dihuni orang, Yudi pernah mendengar suara-suara aneh seperti langkah orang berjalan, suara orang di kamar mandi, dan lain-lain ketika dia sesekali coba menginap di rumah ini sebelum mereka tempati seperti sekarang. Kehadiran kucing misterius ini mempertebal keyakinannya.

Malam berikutnya dan berikutnya lagi, kehadiran kucing itu terus berulang sampai malam kesembilan ini. Kucing itu tetap menyisakan tiga pertanyaan yang belum terjawab. Lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke rumah Yudi.

Cibinong, 28 April 2002

Advertisements

One thought on “Kucing Itu

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s