Perjalanan Pulang

Oleh: Yusuf Efendy

Yudi baru saja keluar dari ruangan. Pukul tujuh lebih sedikit tadi pagi dia dan teman-temannya mengikuti Ujian Tengah Semester. Sedangkan dua jam terakhir mereka selesai melakukan diskusi dengan tiga orang presenter dari teman-temannya sendiri.

Yudi berjalan meninggalkan ruangan tanpa menunggu dosen dan teman-temannya –yang sebenarnya adalah adik tingkatnya– keluar. Dia berjalan ke arah tangga sebelah Timur dan menapaki satu persatu anak tangga mulai dari lantai tiga itu sampai ke lantai dasar sambil agak sedikit berlari. Dia teruskan lari kecilnya sampai ke pintu tengah karena pintu samping, baik yang di bagian Timur maupun yang di bagian Barat, tidak pernah dibuka. Dia hampiri sepeda motor yang tadi diparkir di emperan gedung bekas laboratorium sebuah jurusan di Universitasnya. Dia hidupkan sepeda motornya. Dan dia susuri jalan yang sama dengan jalan yang ia lalui ketika tadi pagi masuk.

Setelah berhenti sebentar di mulut gerbang kampus yang berdekatan dengan Bank BNI untuk menyerahkan tanda parkir yang dia terima ketika masuk, Yudi menarik lagi pedal gas motornya berjalan ke arah ke luar dan membelokkannya ke sebelah kanan menyusuri jalan raya menurun dengan dua belokan. Dia turuni jalan itu dengan sesekali menginjak rem untuk menjaga motornya tidak nyelonong terlalu kencang.

Sekitar dua puluh meter lagi sampai di pertigaan, Yudi membawa motornya menepi. Dia naikkan motornya ke trotoar sebelah kanan jalan dan memberhentikannya persis di depan Rumah Makan Padang yang ada di seberang kampus Institut Pariwisata.

“Nasi putih aja dengan sop, seperti biasa!” Yudi mengarah ke meja tengah yang selalu ia tempati. “Tolong iriskan tomat dan ditaburi gula putih sedikit,” pinta Yudi pada pelayan berambut kribo yang selalu dia lihat berkaus hitam ketika menyodorkan segelas air minum dan air kobokan.

“Pakai sedikit susu seperti biasa, Pak?” Pelayan itu meminta penegasan.

“Ya. Terima kasih kalau sudah tahu apa yang sering saya minta!”

Memang, sejak maag-nya kambuh dan menyebabkannya tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester yang berakibat pada keharusannya mengikuti lagi mata kuliah yang sekarang dia ambil, Yudi tidak berani menyantap makanan bersantan, makanan yang pedas-pedas, dan gulai kambing (termasuk di dalamnya sate kambing dan gulai cincang). Dia tidak ingin mengulang lagi kuliah hanya karena dia tidak bisa menahan diri dari makanan-makanan seperti itu. Bila sakit pada saat giliran presentasi, mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi bila sakit itu terjadi pada saat UTS, apalagi UAS, itu benar-benar bisa membuat rencana studi menjadi kacau. Alasan sakit dengan keterangan dokter yang oleh dosen lain mungkin akan dipertimbangkan, tidak berlaku untuk Professor ini. “Tidak ikut salah satu berarti tidak ada nilai akhir, titik!” komentar Professornya ketika Yudi melaporkan ketidak-ikutsertaannya dalam UAS semester lalu.

Sepiring nasi putih dan semangkuk sop tulang iga sapi khas masakan padang terhidang di hadapan Yudi. Nasi berbentuk setengah tempurung kecil di atas piring dan mangkuk berisi tiga potong tulang yang dibalut daging yang mudah copot dan sebelah kentang mengundang selera makannya. Tanpa menunggu datangnya irisan tomat bertabur gula dan susu yang dipesannya, Yudi langsung melahap makanan itu dengan agak sedikit cepat.

Belum lagi nasinya habis, irisan tomat di piring sudah tersaji di meja. Tak lama setelah suapan terakhir nasi di piringnya dan meneguk setengah isi air putih di dalam gelas, Yudi mengaduk-aduk tomat di piring dan menyantapnya sendok demi sendok. Yudi pergi meninggalkan Rumah Makan itu setelah membayar delapan ribu lima ratus rupiah.

Yudi menyusuri pinggiran jalan bagian kanan yang sering terhalang oleh angkot hijau yang berhenti menurunkan penumpang, sebelum akhirnya masuk ke jalur jalan yang benar setelah berbelok ke sebelah kanan. Setelah melewati angkot-angkot kuning yang parkir menunggu penumpang dan Rumah Makan Bundo tempat ia biasanya makan malam, Yudi membelokkan sepeda motornya ke jalan yang persis berada di pojok ‘Sangkuriang’. Dari situ ke tempat kontrakannya hanya berjarak sekitar lima puluh meter. Oleh karena itu, tidak lama kemudian, Yudi sudah berada di kontrakan rumah bernomor dua belas.

Tidak banyak yang dilakukan Yudi di kamar kontrakannya. Dia hanya ke kamar mandi. Mengambil air wudlu. Shalat dzuhur dengan kain sarung yang ada di ujung dipannya. Selesai.

Dia tarik tas pakaian yang dia letakkan di kolong meja belajar. Dia lipat pakaian kotor yang tergantung di kastok belakang pintu. Memasukkannya ke dalam tas. Mengenakan T-shirt abu-abu bergaris hitam kecil dan jeans yang kemarin dia kenakan. Yudi keluar dari kamar setelah mengenakan sweater putih bercampur warna biru yang dilapisi dengan jaket tebal seperti berpakaian yang biasanya ia lakukan ketika hendak bepergian. Tentu saja Yudi sudah bersepatu dan mematikan lampu kamar. Yudi tinggalkan kamar itu sampai minggu berikutnya.

Yudi berangkat dengan mengambil jalan pintas. Dia tujukan motornya ke arah bila orang hendak ke Politeknik Negeri Bandung dan mengambil jalan yang turun menikung di pertigaan. Selanjutnya dia pindahkan gigi motornya ke gigi satu di daerah pemancingan untuk bersiap melawan tanjakan dengan ketinggian sekitar tujuh puluh derajat. Yudi terus melaju sampai akhirnya tiba di Cimahi dari arah Cihanjuang.

Meskipun Yudi sudah mengalami sendiri sulitnya mencari orang yang mau ngojeg ke tempat yang akan dilaluinya, dia masih ingin mencobanya lagi. “Kemarin tidak ada yang mau kan karena dari Bogor ke sini. Sekarang kan kebalikannya.” Yudi mencoba berargumentasi kepada dirinya sendiri. Memang, kemarin siang menjelang sore Yudi berada di depan terminal seperti orang gila. Belum lagi bila dia ingat tanggapan keliru seorang gadis yang diajak bonceng motor malah menunjukkan arah jalan ke Puncak, Cipanas, dan Cianjur. Dan pengalaman yang paling membuat dia kaget setengah mati kemarin adalah ketika seorang perempuan yang sebenarnya berpakaian tidak terlalu seronok mengajaknya ke hotel di siang bolong pada saat dia sendiri mencari penumpang untuk hanya sekedar uang bensin.

Kali ini Yudi akan menerapkan jurus ampuh yang dia peroleh melalui ilham yang dikirimkan Tuhan ke dalam kepalanya. Ya, Yudi akan selektif memilih calon penumpang yang akan dia tawari ikut. “Selain pria, tidak perlu ditawari. Itu pun harus dilihat secara seksama apakah orang itu benar-benar akan bepergian atau tidak,” pikir Yudi di dalam hati. “Aku pun harus menggunakan bahasa daerah orang sini yang memang sangat aku kuasai.” Yudi meneguhkan dirinya sendiri.

Sepanjang perjalanannya dari Cimahi sampai Padalarang, Yudi tidak menemukan orang dengan ciri-ciri yang ada di kepalanya. Oleh karena itu, dia terus melaju meskipun tidak terlalu kencang. Sepeda motornya hanya dipacu pada kecepatan di gigi tiga.

Persis di depan pom bensin Ciburui, Yudi menghentikan motornya. Di depannya berdiri seorang laki-laki setinggi seratus enam puluhan dan berat sekitar lima puluhan. Laki-laki ini berpakaian seperti seragam Departemen Perhubungan.

Setelah membuka helmnya, Yudi menyapa laki-laki itu. “Pak, ngantosan mobil kamana?”

“Ah, kadinya caket.”

“Kana ojeg kersa? Sawios ongkosna mah ongkos kana mobil. Kaleresan abdi bade ka Bogor.” Yudi mengajak laki-laki itu dengan ramah dan percaya diri. Dan ketika laki-laki itu dengan heran memandang Yudi dari ujung rambut ke ujung sepatu, dengan tangkas Yudi melanjutkan bujukannya. “Hayu akh supados enggal dugi!” Yudi menyodorkan helm yang sudah dia persiapkan.

Dengan agak sedikit ragu, laki-laki itu menerima helm yang disodorkan Yudi kepadanya dan naik ke atas motor. Mereka berjalan. Yudi merasa senang dan dia akan mencoba menggunakan cara seperti itu lagi kepada yang lainnya setelah laki-laki ini sampai di tempat tujuannya. Dan untuk melumat getaran keraguan yang dirasakan berasal dari laki-laki yang ada di belakangnya itu, Yudi berbasa-basi dengan menanyakan mau kemana, apakah pulang kerja atau mau berangkat kerja, dan meminta pendapat laki-laki itu tentang apa yang dia lakukan ini.

Tidak lama setelah melewati daerah Cipatat yang berbelok-belok seperti kelok ampek puluh ampek di daerah menjelang Danau Maninjau Sumatra Barat sana, Yudi diminta menepi. Laki-laki itu turun di seberang pom bensin pertama yang ada di sebelah kanan jalan. Sambil menyerahkan helm, Laki-laki itu memberi Yudi uang dua ribu lima ratus rupiah yang katanya sudah dilebihkan seribu rupiah. Yudi meneruskan perjalanan sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian ini.

Di daerah Ciranjang, mata Yudi mencari-cari. Tidak ada orang dengan ciri-ciri yang ada di kepalanya. Dia menarik lagi tali gas motornya dan mulai memacunya dalam kecepatan tinggi. Dia tidak memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu kendaraan selain yang berada di daerah-daerah ramai atau di persimpangan. Dengan begitu perjalanannya menjadi semakin cepat.

Yudi sampai di Cianjur. Dia lakukan pencarian seperti sebelumnya. Dia lagi-lagi tidak menemukan penumpang disana. Tapi, ketika baru saja melewati tikungan tapal kuda yang menjadi tanda telah dekatnya kota Cianjur bila datang dari arah Jakarta, Yudi melihat seorang pemuda berkemeja putih dan bercelana hitam berdiri di pinggir jalan. Dengan cara yang sama yang Yudi lakukan ketika membujuk penumpang pertama, pemuda itu ikut. Yudi menjalankan lagi sepeda motornya.

Ketika melewati pom bensin yang berada di sebelah kanan jalan, Yudi memperhatikan jarum penunjuk bahan bakar pada motornya. Jarum itu hampir menempel ke garis merah dengan tanda ‘E’. Yudi tidak membelokkan motornya ke pom bensin itu. Dia bermaksud mengisi bahan bakar di pom bensin satu lagi yang ada di kiri jalan tidak jauh di arah depannya. Ketika pom bensin yang dia maksud sudah terlihat di depan, Yudi mohon izin kepada penumpang di belakangnya untuk mampir sebentar. Penumpang itu tidak keberatan. Namun, ketika Yudi membelokkan motornya ke kiri, terdapat rantai besar terbentang menghalangi kendaraan yang mau masuk ke pom itu. Yudi tidak terlalu kecewa meskipun tidak jadi mengisi bensin, karena dia ingat bahwa masih terdapat satu lagi pom bensin yang tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Pom bensin itu terletak di kanan jalan di seberang pasar Cipanas. Yudi jalan lagi.

Di depan restaurant Simpang Raya yang terletak tidak jauh menjelang Istana Cipanas, Yudi diminta menghentikan motornya. Pemuda itu turun dengan memberikan uang seribu rupiah. Yudi bernyanyi-nyanyi kecil sambil menjalankan motornya. Kenyataan hari ini sangat berbeda dengan kemarin. Dua orang yang sudah ikut menumpang dengannya dalam perjalanan pulang ini menambah rasa percaya dirinya. Dan Yudi percaya bahwa sisa perjalanannya masih akan memberinya tambahan pembeli bensin.

Yudi sudah melewati pasar Cipanas. Di pinggir jalan sejajar dengan ujung pagar pemisah jalan, berdiri seorang lelaki. Dia berpakaian seperti orang kampung yang sedang pergi ke kota. Kemeja nya bermotif kotak-kotak berwarna coklat yang sudah agak pudar, dipasangkan dengan celana warna biru yang juga belel, ditambah alas kaki berupa sandal lily. Dari gerak gerik matanya terlihat bahwa dia sedang menunggu kendaraan. Oleh karena itu, meskipun secara teknis orang ini tidak memenuhi kriteria yang diharapkan menjadi penumpang, Yudi menawari lelaki itu tumpangan. “Ah, moal. Bade ngantosan heula rerencangan,” kata lelaki itu menyampaikan penolakannya. Yudi ingat isi buku pemasaran yang pernah dibacanya. “Jangan mudah percaya dengan jawaban ‘tidak’ ketika menawarkan sesuatu kepada calon konsumen.” Dan teori ini mendapat pembenaran. Ketika Yudi mengatakan ongkosnya terserah bapak, lelaki itu menyebutkan tiga ribu rupiah sampai Cisarua. Untuk memenuhi komitmen pada ucapannya sendiri, Yudi tanpa ragu mempersilakan lelaki itu naik. Dan mereka pun langsung berangkat.

Perasaan senang membuat Yudi lupa bahwa bensin yang ada di tangki sudah hampir mengering. Tapi, karena dia baru tersadar setelah mendekati Puncak Pas, Yudi tidak memilih kembali ke Cipanas. Kalaupun bensinnya habis di tengah jalan, Yudi tidak terlalu bingung. Setelah melewati Puncak Pas, perjalanan akan terus menurun. Dan sebelum jalan menurun itu habis di pintu tol Gadog, Yudi akan dapat menemukan tiga pom bensin yang dapat menyuplai bahan bakar motornya.

Suasana Puncak begitu menyenangkan. Sinar Matahari menebar di pucuk-pucuk daun teh yang terbentang luas. Kabut yang biasanya tampak di musim hujan tidak terlihat. Kendaraan yang lalu lalang tidak begitu ramai. Dan terdengar desahan lelaki di belakangnya yang sedang menikmati lenggak-lenggok sepeda motor yang seperti penari jaipong.

Sampai juga akhirnya penumpang ketiga ini di tujuannya. Setelah meminta Yudi berhenti di depan mesjid dekat pasar, lelaki itu memberi Yudi ongkos. Sesuai perjanjian, lelaki itu akan membayar tiga ribu rupiah. Oleh karena itu meskipun uangnya sepuluh ribuan, lelaki itu tetap meminta tujuh ribu sebagai uang kembalian.

Yudi meneruskan perjalanannya. Karena sudah dekat ke tempat tinggalnya, Yudi tidak berniat mencari lagi penumpang. Tiga orang penumpang sudah dianggapnya cukup sebagai permulaan. Yudi melewati sebuah pom bensin. Tapi, karena berada di kanan jalan, dia malas memotong jalan. Yudi seperti menantang tangki motornya, untuk sampai benar-benar kering. Tetapi, ketika Yudi temui pom bensin di sebelah kiri jalan, dia tidak berani bertaruh dengan tidak membelokkan motornya. Dan di pom bensin inilah Yudi mengisi tangki motornya.

“Penuh, Bang!” pinta Yudi pada petugas pompa. Setelah diisi penuh, angka rupiah yang tertera di mesin pompa menunjukkan enam ribu tujuh ratus lima puluh rupiah. Yudi merogoh uang di kantong celananya dan dia keluarkan uang sepuluh ribu yang ia terima dari penumpang terakhir. Setelah menerima uang kembalian yang hanya tiga ribu dua ratus rupiah, Yudi melanjutkan sisa perjalanan ke rumah nya.

Yudi sampai di rumah dengan selamat. Dan dia tersenyum sendiri ketika menghitung di dalam hati berapa rupiah uang yang dia keluarkan untuk memenuhi tangki motornya. “Dengan sedikit usaha, satu tangki bensin hanya seharga tiga ratus rupiah. Dan ini artinya tidak perlu khawatir dengan kenaikan BBM yang diumumkan setiap bulan,” gumamnya penuh semangat.

Cibinong, 4 Mei 2002.

Advertisements

One thought on “Perjalanan Pulang

  1. Cerpen ini memang tidak ada duanya, membuat saya dapat menjadi manusia yang lebih bersyukur lagi.

    106228

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s