Sebuah Perjuangan

Oleh: Yusuf Efendy

Ruangan itu tidak terlalu luas. Dindingnya bercat putih seperti yang belum begitu lama dikerjakan. Ukurannya kurang lebih tiga kali empat meter. Di bagian luar sebelah atas tampak ujung gulungan rolling door. Sedangkan di bagian dalam sebelah kirinya ada sebuah pintu tertutup untuk jalan ke ruang bagian belakang. Bila melihat ke sisi itu terdapat white-board besar yang menutupi dua pertiga bagian atas tembok. Di tengah ruangan terdapat enam buah meja ‘Olimpic’ berwarna abu-abu muda, yang disusun melingkar, dengan dikelilingi dua belas kursi untuk pertemuan. Ruangan ini mungkin garasi mobil pemilik rumah sebelum disulap menjadi ruang rapat oleh sebuah kantor Dinas PEMDA Kota yang baru berusia tiga tahun.

Yudi duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu. Di sebelah kanan kirinya, duduk teman-temannya yang mantan juara. Ada yang mantan juara tingkat Nasional, ada yang mantan juara tingkat Propinsi seperti dirinya, dan ada juga yang hanya mantan juara tingkat Kabupaten atau Kota. Persis di hadapannya duduk seorang Kepala Sub Dinas yang juga mantan juara, sedang memimpin rapat. Yudi mengikuti rapat panitia pemilihan guru teladan tingkat Kota.

“Mohon ma’af, acara kita agak sedikit terlambat dimulai.” Pimpinan rapat membuka acara, sambil menyampaikan beberapa alasan keterlambatan acara itu.

“Pelaksanaan seleksi ini, tidak bisa ditunda lagi. Mau tidak mau, besok harus kita laksanakan. Ada dua alasan. Pertama, pendaftaran terakhir ke tingkat Propinsi adalah tanggal …(sambil mencari-cari tanggal yang dimaksud dalam surat pemberitahuan dari panitia tingkat Propinsi yang ada di hadapannya)… oh ya, hari kemarin. Ah, gampanglah itu, pelaksanaannya kan masih satu bulan lagi. Kedua, peringatan HUT Kota sudah di depan mata. Orang PEMDA sudah meminta nama-nama juara tingkat Kota kepada kita untuk diumumkan pada peringatan HUT itu,” lanjut pimpinan rapat, seperti rapat itu ingin cepat ia tinggalkan.

“Besok, aku tidak bisa,” kata Yudi di dalam hati.

“Ah, bagaimana aku mengatakannya? Bagaimana kira-kira, tanggapan teman-temanku nanti? Bagaimana pula reaksi pimpinan rapat, yang langsung atau tidak adalah atasanku, dan berpengaruh pada karirku, bila aku mengatakan bahwa aku tidak bisa hadir besok?” lanjut Yudi sambil menampakkan kerut dahi dan tatapan kosongnya.

“Nanti saja, setelah rapat aku akan berbisik kepada pak Kasubdin, sambil aku jelaskan semuanya mengapa aku tidak bisa datang,” pikir Yudi dengan kemantapan yang agak dipaksakan.

Pimpinan rapat mengecek kesiapan untuk pelaksanaan besok. Dia memulai, dengan menanyakan apakah soal-soal untuk besok sudah dipersiapkan. “Sudah, Pak! Hanya saja belum digandakan,” sahut seorang staf yang duduk di sebelah, yang tidak mantan juara.

“Bagaimana dengan tempat pelaksanaannya?” Pimpinan rapat mengecek.

“Siap, Pak!” jawab staf itu sambil menggaruk-garuk kepalanya dan sedikit tersenyum. “Nanti saya konfirmasi lagi dengan kepala sekolahnya.” Staf itu meyakinkan sang pimpinan rapat.

Setelah merasa tidak ada persoalan lain, pimpinan rapat mempersilakan yang hadir untuk memberikan masukan.

“Kita tidak boleh lupa, bahwa pemilihan guru teladan bukan pemilihan guru terpintar,” begitu kata pak Nurdin, salah seorang anggota panitia dengan suara sedikit ngebas, mengingatkan yang lain.

“Betul!” kata pak Fachrudin menimpali. Ia menambahkan, bahwa penentuan juara jangan hanya didasarkan pada kemampuan akademis semata.

“Persoalannya adalah bagaimana caranya kita mengetahui kemampuan non akademis peserta besok,” tanya pimpinan rapat mencari solusi.

Ketika yang lain nampak sedang berpikir, Yudi memberi masukan. “Menurut saya, kita siapkan semacam formulir biodata, yang memberikan ruang selebar-lebarnya bagi peserta, untuk menuliskan pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar yang pernah diikutinya, dan juga penghargaan-penghargaan yang pernah mereka terima, termasuk menyebutkan karya-karya mereka yang patut dihargai. Dan kita tidak perlu menuntut peserta untuk memperlihatkan bukti fisiknya pada tahap penyisihan besok. Kita dapat meminta peserta yang masuk nominasi tiga besar, untuk membawa bukti fisik itu pada saat wawancara keesokan harinya.”

“Saya setuju dan sekaligus menugaskan pak Yudi untuk mempersiapkan konsep formulirnya,” Pimpinan rapat memberikan persetujuan, sekaligus perintahnya.

Mendengar itu, Yudi tersentak kembali karena dia benar-benar tidak bisa hadir besok. Dalam kepalanya berkumpul semua perasaan. Yudi sungkan, dia takut, dan dia malu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“Sebelumnya, saya mohon maaf karena sebenarnya saya tidak bisa membantu rekan-rekan dalam pelaksanaan besok,” Yudi memberanikan diri dengan suara agak sedikit bergetar. “Professor saya sudah menjadwalkan, bahwa besok adalah waktunya Ujian Tengah Semester, dan saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Oleh karena itu, sepulang dari rapat ini, saya akan segera berangkat ke Bandung,” lanjut Yudi tanpa menyebutkan bahwa dia belum lulus mata kuliah ini. Yudi gagal dan harus mengulang lagi mata kuliah dari Professor ini, karena semester lalu dia tidak mengikuti Ujian Akhir Semester yang disebabkan sakit. Dan syarat lulus mata kuliah yang diberikan oleh Professor ini, adalah ikut presentasi, ikut UTS dan ikut UAS. Sepertinya, hanya Professor ini saja dari sekian puluh Professor yang ada di Program Pasca Sarjana tempat Yudi kuliah, yang menerapkan peraturan itu. Bila salah satu tidak diikuti, meskipun dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, maka mahasiswa yang bersangkutan harus memulainya lagi dari awal. “Di Amerika, waktu saya kuliah dulu, tidak ada dosen yang memberikan excuse, meskipun sakit. Tapi mereka tetap saja baik kepada mahasiswa. Dan mahasiswa pun menghormatinya,” begitu komentar Profesornya di depan mahasiswa yang lain ketika Yudi melaporkan ketidak ikut sertaannya dalam UAS semester lalu.

“Baiklah kalau begitu. Ujian harus dinomorsatukan,” komentar pak Kasubdin yang membuat wajah Yudi sedikit cerah. “Saya mohon bantuan Pak Nurdin dan Pak Fachrudin untuk menangani tugas Pak Yudi,” tambah pak Kasubdin tanpa menunggu jawaban, dan segera menutup rapat itu.

***

Seperti biasa, hari ini Yudi sudah berada di kampus, sebelum waktu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Seperti kebiasaannya pula, dia sudah menyantap sepiring kupat tahu seharga dua ribu rupiah di sebuah pasar ketika dalam perjalanannya menuju kampus tempatnya menimba ilmu. Pasar itu hanya berjarak delapan puluh meter dari kontrakan yang ia isi seminggu sekali.

Ketika beberapa teman kuliahnya sudah berdatangan, ada yang memberi khabar bahwa UTS tidak jadi dilaksanakan hari ini. Ada jadwal wawancara untuk calon mahasiswa baru. Dan memang, di papan pengumuman yang berada di sisi kanan tembok koridor lantai bawah, Yudi sudah melihat jadwal itu dipampangkan. Yudi tidak begitu yakin dengan berita yang didengarnya itu, karena sepengetahuannya, Professor ini sering lebih memilih memberikan kuliah, meskipun hanya tiga puluh menit, dari pada harus meninggalkannya sama sekali. Namun demikian, Yudi merasa sedikit agak kecewa. Dia menyesal, kenapa tidak menelpon temannya dahulu sebelum berangkat ke Bandung kemarin. Kenapa dia tidak mencari tahu tentang kepastian ada tidaknya kuliah hari ini. Namun logikanya sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Ah, tidak mungkin Professor yang selalu tepat waktu ini tidak hadir lagi hari ini. Selain hari ini adalah jadwal UTS yang beliau tetapkan sendiri, minggu lalu pun beliau sudah tidak masuk karena ada acara Wisuda,” begitu pikir Yudi ketika akan berangkat kemarin sore.

Setelah menunggu, kurang lebih dua puluh menit dari jadwal biasanya, akhirnya muncul Nyonya Professor, istri Professor yang Yudi tunggu. Nyonya Professor itu, bukan suruhan suaminya. Dia mempunyai jadwal sendiri, dan dia juga memegang mata kuliah keahliannya. Jadwal kuliah Ibu yang belum bergelar professor ini, sebenarnya jam sepuluh nanti, setelah jadwal suaminya berakhir. Tapi, karena memang mereka berdua sering bertukar jam mengajar, yang mereka rundingkan di rumah, kehadiran Ibu ini pada jam pertama belum mengurangi kecemasan Yudi yang mengkhawatirkan ketidakhadiran Professornya. Yudi tetap ingin tahu kebenaran berita yang ia terima dari temannya tadi.

Meskipun sebenarnya, Ibu Doktor yang berwajah mirip Krisdayanti, dan berpostur tubuh seperti Yuni Sarah ini, (sepadan dengan kegagahan dan kegantengan suaminya), biasanya menginformasikan sebab-sebab pertukaran jam di awal kuliahnya, Yudi tidak bisa menunggu lebih lama. Oleh karena itu, ketika sang dosen baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan, Yudi langsung menyongsongnya di muka pintu. Yudi memberondong Ibu ini dengan pertanyaan.

“Bu, saya dengar hari ini Bapak tidak masuk.”

“Betul, Beliau ke Surabaya.” Ibu Doktor menjawab sambil menahan langkah.

“Apakah Bapak menitipkan pelaksanaan UTS kepada IBU?” Yudi menginginkan penegasan.

“Tidak. Dan Bapak juga, sepengetahuan saya, tidak menyerahkannya kepada bagian Akademik. Beliau ke Surabaya,” jawab Ibu Doktor sambil menampakkan sikap bersahabat.

“Kalau begitu, saya mohon izin untuk tidak ikut sit in di kelas Ibu hari. Saya ada keperluan.” Yudi memohon izin untuk pergi. Biasanya, untuk menyeimbangkan antara waktu di perjalanan dengan keberadaannya di Bandung, Yudi sering mengikuti kuliah yang diberikan oleh Ibu Doktor ini, meskipun sebenarnya sudah lulus. Dia melakukannya untuk memantapkan teori-teori yang dia pelajari semester lalu.

“Silakan, silakan!” Ibu Doktor memberikan izin sambil berjalan ke meja depan, tempat biasanya ia duduk, sebelum mempersilakan presenter yang giliran maju.

Tanpa menunggu lama, dan dengan tergesa-gesa Yudi berjalan agak sedikit berlari menuju rumah kontrakannya. Sesampainya di rumah, Yudi meletakkan tas kuliahnya, mengambil tas pakaian, dan pergi dengan motornya, yang tadi tidak dia bawa ke kampus. Ketika berangkat tadi pagi, motor Yudi tidak bisa dikeluarkan karena terhalang oleh Feroza milik pengontrak lain yang bekerja di kantor Telkom.

Yudi terus memacu motornya. Seperti orang kesetanan, Yudi memacu Suzuki Tornadonya yang masih gres itu, dengan kecepatan tinggi. Jarak dari rumah ke rumah, yang biasanya dia tempuh selama kurang lebih lima jam, bila menggunakan kendaraan umum, mampu dia taklukkan dalam waktu tiga jam. Oleh karena itu, sebelum arloji di tangannya menunjukkan tepat pukul sebelas siang, Yudi sudah berada di lokasi pemilihan guru teladan, lokasi yang sedianya tidak akan dikunjungi.

Tanpa basa basi, Yudi langsung berbaur dengan panitia lain. Yudi langsung ikut makan, ketika dia lihat teman-temannya sedang makan. Yudi ikut ke ruangan, ketika temannya pergi ke ruangan untuk mengawasi test tertulis yang sedang diikuti peserta. Yudi juga ikut memeriksa hasil pekerjaan peserta, ketika panitia yang lain melakukannya. Dan acara, baru berakhir sekitar pukul empat sore. Seperti anggota panitia lainnya, Yudi pun pulang dengan sebuah amplop dari Bendahara, yang isinya ditaksir sama dengan yang lain. “Alhamdulillah,” ucapnya terdengar.

Cibinong, 25 April 2002

Advertisements

8 thoughts on “Sebuah Perjuangan

  1. Kerenn pak ceritanya, bisa jadi inspirasi saya dan banyak orang pastinya. Perjuangan bapak dalam menghadapi dosen yang agak sulit gitu, sangat menjadi pelajaran untuk saya nantinya di bangku kuliah.

    106228

  2. Assalamualaikum. Subhanallah cerita nya sungguh menginspirasi saya semoga dapat membukakan pintu mata bathin orang lain juga
    Walaikumsalam wr.wb

    125107

  3. bagus sih Pak, cuma saya kurang mengerti sebenarnya apa yang mau ditonjolkan dari cerpen ini. Akhir ceritanya terasa menggantung… Apa sebenarnya tujuan tokoh Yudi itu? Apakah ingin menunjukkan bahwa dia akhirnya bisa melakukan kewajibannya sebagai panitia pemilihan guru teladan?

    Maaf ya Pak kalo kepanjangan komentarnya, mudah-mudahan nanti cerpen-cerpen Bapak bisa lebih keren lagi!!! Bagus lho buat inspirasi kita bikin cerpen… hehehe

  4. kalo saya jadi bapak mah saya paling marah-marah sendiri pas tau kalo dosennya ga bisa datang lho. apalagi kampusnya juga jauh. kan capek . hhehehe . tapi namanya juga sebuah perjuangan jadi ga boleh nyerah donk,,,,,

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s