Selamat jalan, Emak

Oleh: Yusuf Efendy

Matahari Sabtu baru masuk ke peraduannya satu setengah jam yang lalu. Suara azan Isya’ di Mushalla dekat rumah baru saja hilang dari pendengaran. Anak-anak ada yang berlari kesana kemari di bawah terang lampu neon sepuluh watt yang dipasang setiap rumah di pinggir jalan dalam komplek perumahan itu. Ada beberapa kelompok ibu-ibu yang terdiri dari tiga sampai empat orang yang sedang ngobrol di depan rumah di luar pagar. Dan Yudi sedang ngobrol dengan beberapa tetangga di depan rumah ketika telepon berdering. Hendri adiknya yang tinggal beberapa blok dari tempatnya tinggal memberi khabar.

“Ada telepon dari Padang. Emak meninggal,” suara Hendri terdengar sedikit serak.

“Kapan? Kok dari Padang? Telepon Marvin, mau pulang bareng engga?” tanya Yudi sambil memerintah adiknya tanpa memberikan kesempatan menjelaskan.

Dalam batin Yudi berkecamuk pertanyaan; mengapa berita ini dari Padang, mengapa tidak abangnya atau adiknya saja yang menyampaikan berita ini, mengapa berita itu tidak disampaikan langsung melalui telepon rumahnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Memang sih, kalau dikait-kaitkan, sebenarnya bisa saja berita itu berasal dari sana. Tapi kan jarak dari tempat ibunya tinggal ke kota Padang, sama dengan dua kali ke tempat Yudi berada. Kenapa untuk berita sepenting dan segenting itu harus dipantulkan dengan sudut empat puluh lima derajat? Kenapa tidak ditembak langsung? Mungkinkah dengan teknologi canggih seperti sekarang, hal-hal seperti itu tidak signifikan untuk diperdebatkan? Bukankah biaya pulsa akan jauh lebih mahal? Apakah abangnya terlalu sibuk untuk pergi melarikan mobil Pak Tuo sejauh dua puluh kilometer ke tempat wartel terdekat berada? Ataukah dia tidak tega meninggalkan jenazah ibunya? Kalau begitu, kenapa tidak di suruh saja adiknya untuk pergi menelpon? Apakah karena dia seorang gadis lantas tidak boleh dimintai tolong? Ataukah adiknya masih terus menerus menangis di dekat ibunya? “Oh, ini pasti trik untuk membuat aku dan adik-adikku, Hendri dan Marvin, pulang kampung bersama. Ini pasti lelucon yang tidak lucu,” pikir Yudi di dalam hati. Tapi siapa, orang yang berani main-main dengan kematian? Apalagi ini menyangkut ibunya yang sangat ia cintai. Terlebih setelah ayahnya meninggal dua belas tahun yang lalu.

Hati Yudi mulai gundah. Meskipun batinnya dipenuhi rasa keraguan tentang kebenaran berita ini, Yudi tetap merencanakan untuk segera pulang kampung. “Kalau ternyata ibunya tidak meninggal seperti kata berita itu, perjalanan ini tidak terlalu salah untuk dilakukan. Terlebih empat hari lagi bulan puasa akan tiba,” pikir Yudi di dalam hati.

“Mah, kamu dengan anak-anak tidak usah ikut. Si Hendri juga tidak perlu pergi dengan istri dan anaknya. Kalau ada telepon dari Marvin, suruh tunggu di rumah si Am. Tolong kasih tahu pak Jajat, saya tidak bisa ikut koreksi ujian besok,” perintah Yudi pada istrinya sebelum berangkat.

Dengan menggunakan Vespanya, Yudi dan Hendri berangkat. Mereka menuju rumah Amrin, saudara sepupunya yang pengusaha konveksi tas wanita, di bilangan Kota Bambu Tanah Abang. “Kita coba pinjam mobil si Am. Siapa tahu dia juga mau ikut,” kata Yudi kepada Hendri sambil tetap memacu vespanya.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima menit ketika mereka tiba di rumah Amrin. Marvin, adik Yudi di bawahnya persis, sudah berada di sana dan mungkin sudah menyampaikan berita itu pada si empunya rumah.

“Siapa yang ngasih khabar, Yud?” tanya Amrin setelah mempersilakan tamunya yang baru datang masuk.

“Engga tau! Tapi yang jelas, si Hendri yang terima khabar,” kata Yudi agak sedikit pelan.

Mereka mendengarkan penjelasan Hendri dengan seksama dan mencoba menganalisis kemungkinan kebenaran berita tersebut.

“Bagaimana, boleh pakai mobil enggak, Am?”

“Enggak usah!. Kita minta si Abin mengantar kita, sampai ke Merak saja. Dari seberang kita coba naik taxi. Kalau tidak ada, kita carter mobil di sana,” jawab Amrin sambil menampakkan wajah ketidak setujuannya membawa mobil pribadi.

“Baik, kalau begitu. Saya ikut bagaimana bagusnya saja!” Suara Yudi terdengar lirih.

Mereka berangkat bertujuh dalam kijang sembilan puluh lima yang melaju seperti tikus yang ujung ekornya dibakar seseorang atau seperti pelari yang sedang adu kecepatan tanpa busana sehelaipun. Tidak ada kendaraan lain yang tidak terlewati, termasuk sedan Mercy berwarna hitam. Mobil yang mereka tumpangi menggunakan lajur kanan hampir dua pertiga perjalanan mereka di jalan tol.. Seratus dua puluh kilo meter hanya mereka tempuh dalam waktu enam puluh menit.

Setelah semua penumpang turun, Helmi, adik Amrin yang dipanggil Abin yang tadi mempiloti Kijang dengan kecepatan kilat, dan seorang karyawannya, kembali pulang ke Jakarta, sedangkan yang lain berjalan menuju loket dan langsung naik ke kapal setelah membeli karcis.

Dua pertiga perjalanan di kapal telah berlalu ketika Edi, saudara jauh Yudi, yang biasa mondar mandir naik turun kapal, mengajukan usul. “Kita numpang mobil profit (kendaraan dengan plat nomor putih karena baru keluar dari dealer) saja!” ajak Edi sambil mengajak yang lain turun ke lambung kapal tempat semua kendaraan diparkir.

“Tuh!” kata Marvin, ketika masih di tangga turun, sambil menunjuk BMW 318i baru. Mereka mencoba berjalan mendekati mobil itu, dan merasa senang ketika sang sopir ada di dalamnya. Setelah berdialog lewat pintu depan, yang dibuka separo kacanya, dengan sopir yang duduk santai di kursi empuk sambil mendengarkan musik, Yudi menyatakan niatnya untuk menumpang. Kampung tempat ibunya tinggal, akan dilewati BMW itu. Seperti mudah diduga, kehadiran lima orang pria tak di dikenal, meskipun wajah mereka tidak menampakkan kesangaran, ditambah suasana malam yang belum berakhir, membuat sopir itu tidak mudah percaya. Dan dengan suara yang agak dibuat tenang, sopir itu bilang, “Maaf Pak. Sekarang di jalan banyak polisi.”

Memahami apa yang sebenarnya dikhawatirkan sang sopir, mereka tidak memaksa. Dan mereka pergi meninggalkan sang sopir dengan analisisnya sendiri. Sang sopir membayangkan apa yang akan terjadi bila mereka diberi tumpangan. Kemungkinan yang paling baik adalah sang sopir akan mendapatkan teman ngobrol sepanjang perjalanan.

Tidak berapa lama, kapalpun berlabuh. Cuaca malam cukup tenang sehingga suasana pelabuhan tidak menakutkan. Mereka turun dari kapal dan berjalan menuju terminal angkutan umum di pelabuhan itu. Dari situ mereka mencarter taxi yang biasa berpenumpang delapan orang, ke terminal Raja Basa. Dalam perjalanan yang biasanya memakan waktu satu setengah jam itu, hampir semua dari mereka sempat memejamkan mata.

Fajar mulai menyingsing dan terdengar sayup-sayup suara azan dari kejauhan ketika mereka menjelang tiba di terminal tujuan. Hanya dalam hitungan menit dari jari sebelah tangan, mereka sudah sampai di terminal Raja Basa. Mereka mencari mushalla di dalam terminal itu dan menemukannya persis di sebelah pos polisi yang agak terlindung oleh pepohonan yang sengaja ditanam. Perjalanan mereka masih tersisa tiga sampai empat jam lagi. Oleh karena itu, mereka tidak berlama-lama berada di dalam mushalla. Setelah semua selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, mereka keluar dan pergi menuju terminal sebelah Barat, tempat angkutan kota dan taxi menunggu penumpang.

Ketika melihat sebuah taxi diparkir, mereka menghampirinya dan menanyakan kemungkinan mau tidaknya sopir taxi itu dicarter pergi. Dengan alasan bahwa pulangnya tidak membawa penumpang, sopir taxi meminta ongkos dua kali lipat dari tarip biasa. Mereka menawar, tapi sopir taxi itu tidak bergeming. Akhirnya mereka batal pergi dengan menggunakan taxi. Hanya beberapa meter dari tempat taxi itu mangkal, terdapat ‘elf’ yang sedang menunggu dan mencari penumpang. Setelah menghitung kekurangan penumpang yang masih ditunggu untuk membuat ‘elf’ itu penuh, mereka meminta si sopir untuk menjalankan mobilnya dengan ongkos kekurangan tiga penumpang akan mereka bayar. Sopir setuju dan mobil mulai bergerak. Penumpang lain tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena sebagian besar mereka sudah menunggu selama lebih dari dua jam.

Perjalanan terasa cepat. Suasana jalan yang masih sepi dan pikiran sopir yang tidak harus mencari penumpang lagi, membuat perjalanan itu cukup menyenangkan. Tidak terasa mereka sudah sampai di Kota Bumi, ibu kota Kabupaten tempat ibu Yudi tinggal sebelum kabupaten ini dipecah dua. Untuk sampai ke rumah ibunya, Yudi masih harus melakukan perjalanan sejauh kurang lebih enam puluh kilometer lagi.

Sesampainya di Kota Bumi, mereka menawari sopir ‘elf’ untuk meneruskan perjalanan mengantar mereka. Tidak tahu apa yang sedang sopir itu cari, tawaran ongkos yang cukup, tidak membuat ia tertarik. Pak sopir keberatan karena dia harus segera kembali lagi ke terminal semula. Seperti sebelumnya, mereka tidak memaksa. Mereka pun akhirnya turun dari ‘elf’ itu.

Ketika sebuah angkot kuning yang tidak terlalu baru menghampiri mereka, tanpa berpikir panjang mereka mengajak sopirnya untuk mengantar mereka. Dengan tarip sehari setoran, angkot kuning itu bersedia mengantar mereka menapaki ujung perjalanan.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, keseimbangan laju angkot terasa agak sedikit goyang. Tidak lama kemudian terdengar bunyi jedug-jedug dari arah roda belakang sebelah kiri. Kendaraan tidak bisa berjalan. Setelah menghentikan kendaraannya yang masih agak di tengah, sang sopir turun memeriksa. “Sialan!” pekik sopir itu setelah tahu apa yang terjadi. Untungnya, ban cadangan ada di atas mobil. Meskipun sambil menggerutu, sopir yang mendapat bantuan dari para penumpangnya itu tetap mengganti ban yang gembos. Mungkin karena pengalamannya yang cukup memadai, penggantian ban itu mereka rasakan tidak terlalu lama. Setelah itupun mereka berangkat kembali.

Setengah jam sebelum tiba di rumah, ketika yang lain tidak punya lagi topik untuk dibicarakan atau karena merasakan lelahnya perjalanan, Yudi membayangkan apa yang akan dia ceritakan pada ibunya nanti sambil senyum-senyum sendiri, seperti orang lagi kasmaran, membayangkan betapa konyolnya perjalanan yang ia lakukan.

“Mak, sebenarnya Yudi tahu bahwa itu adalah telepon orang iseng. Masak iya sih berita meninggalnya Emak datangnya dari Padang? Memangnya Bang Kamil atau si Fatimah tidak bisa menelpon sendiri dari Bukit Kemuning? Memangnya Bang Kamil atau si Fatimah tidak bisa numpang nelpon dari kantornya si Mery di proyek bendungan itu? Kan engga masuk akal! Tapi karena Yudi pikir, ini bisa diambil positifnya, dengan datang rame-rame ketemu Emak, kenapa engga jalan aja? Apalagi ini sudah dekat puasa,” itulah yang ada dalam lamunan Yudi.

Yudi tersentak dari lamunannya ketika angkot yang membawanya, sudah berada di depan rumah. Dengan mata lelah, dia tatap keadaan sekitar. Bendera kuning dari kertas minyak, tampak di dua sudut halaman tanpa pagar. Kerumunan orang tampak di halaman dan di dalam rumah yang pintunya terbuka lebar. Suara orang membacakan yasin terdengar menggetarkan. Mata orang-orang yang berkumpul tampak seperti sedang menunggu kehadiran seseorang. Mereka serta merta menatap Yudi penuh tanda tanya. Seorang gadis berusia dua puluhan, bangkit dari kerumunan, dan langsung menyerbu serta merangkul Yudi yang tampak terpana, sekeluarnya dari dalam mobil. Sambil mengeluarkan isak tangis yang masih tersisa dan menatap wajah Yudi yang masih linglung, gadis itu berbisik pelan. “A..! Emak sudah pergi!”

Dengan ketegaran yang dibuat-buat, Yudi masuk menyeruak ke dalam kerumunan. Ini tidak terlalu sulit dia lakukan karena semua orang yang hadir, memberinya jalan. Ia tatap tubuh membujur yang ditutupi kain panjang warna coklat bermotif bunga. Dia buka kain bagian kepala dan ia jumpai tali kain kafan bagian ujung yang sengaja belum diikatkan. Ia tatap wajah berseri yang baru saja melepaskan semua beban berat kehidupan yang selalu menyertainya. Dengan derai air mata yang tak dapat dibendung dan dengan kehusukkan sebisa-bisanya Yudi mengucapkan, “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun” sambil membenamkan mukanya disamping muka ibunya.

Cibinong, Mei 2001

Advertisements

2 thoughts on “Selamat jalan, Emak

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s