Tiga Musibah Beruntun

Oleh: Yusuf Efendy

Hari semakin malam. Ia merebahkan badannya sejam yang lalu setelah menutup warungnya yang hampir bangkrut. Sudah berkali-kali ia rubah posisi tidurnya. Menghadap ke dinding sambil memunggungi istrinya. Menghadap ke arah istrinya yang sudah terlelap bersama putrinya yang baru berusia dua tahun. Menghadap ke langit-langit yang terbuat dari bilik bambu. Tengkurab sambil menutupi kepala dengan satu lagi bantal. Semua posisi itu tidak ada yang mampu mengantarnya tidur. Waktu selama satu jam belum cukup untuk membuatnya benar-benar tertidur.

Hendri heran. Dia bingung. Dia tidak habis pikir. Dan dia tidak pernah mengerti mengapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini. Mengapa Tuhan tidak menunjukkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Mengapa Tuhan tidak mengingatkan apa-apa yang sudah dia lupakan. Mengapa. Mengapa Tuhan harus memberinya semua cobaan berat ini. Mengapa Dia menghukumnya seberat ini. Mengapa. Mengapa harus tiga musibah beruntun yang ia alami dalam waktu yang begitu singkat.

***

Sekembalinya dia bekerja selama tiga tahun di Johor Bahru Malaysia dia menikahi Tugimah gadis asal Kebumen yang ia kenal ketika sama-sama bekerja di sebuah Mal di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Dia memilih mengontrak sebuah rumah di pinggiran komplek tempat keluarga kakaknya tinggal di daerah Cibinong Bogor.

Ia membuka usaha sendiri. Dia membuka sebuah warung kelontong.

Dia belanjakan semua sisa uang hasil jerih payahnya bekerja di Malaysia. Dia isi warungnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Di warungnya tersedia beras, telur ayam, minyak goreng, kecap, deterjen, sabun cuci, sabun mandi, minyak tanah, air mineral, gas elpiji, dan lain-lain. Dia pun menyediakan rokok. Meskipun kecil warung itu terlihat cukup lengkap.

Sejak saat itu hari-harinya menjadi sibuk. Pagi-pagi dia buka warungnya. Dia layani pembeli yang hampir tidak putus sampai sekitar pukul sepuluh pagi. Pada jam-jam sepi pembeli dia pergi ke pasar, belanja keperluan warung, segera pulang kembali untuk melayani pembeli yang biasa datang sore hari. Begitu rutinitasnya sehari-hari.

***

Baru saja satu tahun Hendri merasakan banyaknya pembeli yang mengunjungi warungnya, dia menghadapi ancaman serius. Tidak tanggung-tanggung dan tidak mungkin terlawan. Sebuah mini market berdiri tegak tidak jauh dari warungnya. Mini market itu tampak seperti raksasa yang mencibir di depan seorang kerdil. Dan memang, akhirnya apa yang dia cemaskan menjadi kenyataan. Warungnya hanya mampu menyisakan gas elpiji dan air mineral sebagai barang dagangan. Kedua barang ini mampu bertahan karena sistem penjualannya diantar ke rumah. Rokok masih laku karena jarang orang pergi ke mini market hanya untuk membeli sebatang rokok, meskipun ingin membeli rokok Dji Sam Soe. Oleh karena itu ketika ada kerabatnya yang bersuamikan orang Malaysia dan menetap di sana, membantunya menambah modal, uang itu dia belikan tabung-tabung gas elpiji dan galon-galon air mineral. Dia pun membeli sebuah motor bebek tahun delapan puluh empatan yang dia gunakan untuk mengantar gas elpiji dan atau air mineral yang dipesan pelanggan melalui telepon.

Suatu sore dua hari menjelang lebaran Hendri bermaksud mengantar pesanan elpiji dari pelanggan di perumahan sebelah. Seperti biasa dia harus melewati jalan raya yang ramai. Tapi jalan ramai yang harus dia lalui sebelum sampai ke perumahan itu hanya sekitar dua ratus meter panjangnya. Oleh karena itu dia mengendarai motornya hanya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, dan dia hanya berani menjalankan motornya di jalan itu dengan memilih agak ke tepi.

Kurang lebih lima puluh meter sebelum sampai di rumah pelanggan, persis di mulut sebuah gang, tiba-tiba pantat sebuah kerbau menabrak motor yang sedang ia kendarai. Rupanya kerbau itu sedang mengadu kekuatan dengan si penuntun yang menariknya memasuki gang itu. Hendri tersungkur. Dia terpelanting ke tengah jalan. Dia lupa segalanya untuk sesaat. Dia tersadar kembali setelah beberapa saat dan melihat kerumunan orang. Rupanya di dekatnya juga tergeletak sebuah vespa dengan seorang pengendaranya yang terluka. Hendri tahu dari salah seorang yang menolongnya bahwa kerbau yang mendorongnya dan kemudian tertabrak oleh pengendara vespa itu, juga menyeret si penuntunnya yang tidak sempat membuka lilitan tali pada tangannya.

Untunglah Hendri tidak luka terlalu parah. Meskipun velk depan sepeda motornya membentuk angka delapan dan tidak bisa dipakai lagi, namun dia hanya mengalami luka-luka yang tidak terlalu serius di bagian lutut, paha, dan lengan sebelah kanan. Setelah diperban di rumah sakit dia masih bisa berjalan. Dan diantar oleh tetangganya, dia mencoba menyusuri jejak kaki kerbau sampai ke pemiliknya.

Sesampainya di sekitar tempat kerbau itu berada, dia datangi rumah pak RT untuk meminta izin menemui pemiliknya. Pak RT menjelaskan bahwa kerbau itu adalah kerbau tandingan, kerbau yang dimiliki banyak orang untuk disemblih besok sebelum Idul Fitri. Hendri mohon izin untuk menemui ketua kelompok tandingan itu, tapi pak RT menyarankannya untuk datang keesokan harinya agar suasana bisa lebih tenang. Hendri mengikuti saran itu dan terus pulang.

Besoknya setelah lewat pukul tiga sore, dengan diantar oleh kakaknya, Hendri datang lagi ke kampung itu dan menjumpai ketua RT yang kemarin dia temui. Dengan wajah yang tampak agak sedikit masam, pak RT menemui mereka. Mereka merasakan aroma kekecewaan yang akan mereka hadapi. Dan benar, Pak RT mendapat laporan dari penuntun kerbau itu bahwa kerbau mereka ditabrak motor dan kabur menyeret penuntunnya. Kerbau itu sudah disembelih tadi pagi. Keinginan mereka untuk menemui ketua kelompok tandingan itu tidak dikabulkan pak RT karena takut terjadi keributan. Pak RT berjanji setelah hari raya nanti akan datang ke rumah Hendri bersama yang lainnya. Dijanjikan seperti itu mereka akhirnya pulang masih dengan memendam rasa penasaran.

Lebaran sudah berlalu hampir satu bulan. Sepeda motor sudah diperbaiki. Tapi pak RT dan ketua kelompok tandingan belum juga muncul. Hendri sudah tidak perduli dan dia sudah pasrah.

Menggunakan sepeda motor bekas kecelakaan membuat Hendri tidak tenang. Stang motornya terasa agak berat. Keseimbangan motor terasa agak kurang. Oleh karena itu dia putuskan untuk menjual motor itu dan menggantinya dengan yang lain.

Baru saja dia mencoba untuk menawarkan motor itu dari mulut ke mulut, sudah ada orang yang berminat membelinya. Entah karena harganya murah atau karena orang tersebut betul-betul membutuhkan motor, yang jelas harga sudah disepakati tiga juta rupiah. Besok akan diadakan transaksi.

Sore harinya Hendri pergi membetulkan saklar lampu sen yang sedikit macet. Dia pergi ke sebuah bengkel yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Dia lakukan ini karena dia merasa tidak enak menjual barang yang sedikit ada masalah. Sepulang dari membetulkan saklar sen ini, ketika di pikirannya terbayang uang yang akan dia terima besok, tiba-tiba sebuah sedan putih yang sedang meluncur tidak terlalu cepat menyambarnya dari belakang seperti burung elang menangkap mangsa. Dia tersungkur. Motornya terpelanting beberapa meter.

Menyadari kejadian ini, pengemudi sedan putih yang berpakaian seperti seragam PEMDA keluar dari mobilnya. Dengan dibantu oleh orang yang berada di sekitar tempat kejadian, mereka mengangkat Hendri ke dalam mobil itu dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah yang hanya berjarak kurang lebih tujuh ratus meter. Lukanya tidak begitu parah tapi lengan kanannya agak sedikit retak. Hendri pulang. Dan motornya dibawa oleh penambrak untuk diperbaiki. Hari berikutnya Hendri pergi ke Cimande untuk mengurutkan tangannya yang retak.

Seperti yang sudah dijanjikan, calon pembeli motor datang ke rumah Hendri. Dia membawa sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membayar motor. Karena motor itu sudah diberinya tanda jadi seratus ribu, paling tidak uang yang dibawa calon pembeli itu sebesar dua juta sembilan ratus ribu rupiah. Karena uangnya pecahan seratus ribu, maka uang sebanyak itu bisa dia sembunyikan di dalam kantong celana.

Transaksi tidak jadi dilaksanakan. Selain motornya tidak ada di tempat, kondisinya pun diperkirakan tidak semulus sebelumnya. Tanpa penjelasan pun sebenarnya calon pembeli itu tahu sebab-sebab batalnya transaksi. Calon pembeli tidak membatalkan keinginannya untuk membeli motor itu. Oleh karena itu dia tidak meminta kembali tanda jadi yang sudah ia serahkan. Namun demikian, calon pembeli itu mengatakan bahwa harga yang sudah disepakati mohon untuk ditinjau ulang. Dan ini akan dibicarakan kembali setelah motor itu selesai diperbaiki.

Satu minggu sudah berlalu. Motor yang dijanjikan akan diperbaiki dalam waktu dua hari, baru selesai setelah Hendri beberapa kali menelpon. Itupun minta tempo satu hari lagi setiap Hendri menghubunginya. Dan Hendri mulai menanyakan keberadaan motornya sejak hari yang dijanjikan. Yang membuat Hendri tambah kecewa adalah bahwa motor yang katanya mau diantarkan ke rumah, terpaksa harus diambil sendiri. Hendri benar-benar kecewa, tapi tak berdaya.

Sekembalinya motor di tangan, Hendri tidak menunggu lama. Dia datangi rumah calon pembeli yang kebetulan hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat Hendri membuka warung. Yang dicari tidak ada di tempat. “Tolong, nanti, datang ke rumah.” Hendri menitipkan pesan melalui perempuan yang mengaku sebagai istrinya.

Selepas maghrib menjelang isya, orang yang sedang Hendri tunggu datang ke rumahnya. Setelah bercakap-cakap sebentar, mereka keluar. Orang itu memperhatikan motor yang di depannya dengan seksama. Dia perhatikan bagian-bagian motor yang menurutnya perlu diperhatikan. Menatap, memegang, menggoyang-goyang, dan mencoba menghidupkan mesin. Tanpa mencoba menjalankan motor itu barang beberapa meter, si calon pembeli merasa tidak keberatan untuk meneruskan transaksi. Hanya saja dia meminta harga sedikit diturunkan. Dan entah apa sebabnya, motor itu tetap dia beli meskipun harganya hanya dikorting seratus ribu.

Hendri senang. Motor yang sudah dia anggap sebagai pembawa sial itu masih bisa dijualnya dengan harga yang cukup tinggi.

***

Hari Idul Adha, sekitar dua minggu setelah kecelakaan kedua terjadi, Hendri tidak pergi kemana-mana. Sakit pada lengan kanannya belum begitu sembuh. Tangannya belum bisa dia gunakan untuk mengangkat yang berat-berat. Namun hari itu dia lalui seperti biasa.

Entah karena apa malam setelah Idul Adha ini dia dan juga istrinya agak sedikit susah tidur. Mereka baru bisa tertidur sekitar pukul dua belas malam. Ini tidak seperti biasanya. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Tidak ada firasat apapun yang perlu dicermati dan diwaspadai.

Pagi harinya Hendri bangun agak terlambat. Ini dia maklumi karena tidur terlalu malam. Tapi begitu terkejutnya dia ketika melihat jendela gantung di sebelah pintu agak sedikit terbuka. Dia bangunkan istrinya yang masih tertidur dan dia sampaikan kemungkinan apa yang sudah terjadi dengan rumah mereka. Hendri merasa lebih terkejut lagi ketika melihat TV Samsung yang belum lunas cicilannya itu tidak ada di tempat, VCD yang biasa digunakan untuk menghentikan tangis anaknya raib, Active Speaker yang biasa membuat ruangan sempitnya menjadi bingar melayang, dan satu baki roti yang dititipkan orang untuk dijualkan tidak ada lagi entah kemana. Hendri lemas. Istrinya menjerit. Hendri keluar rumah, masuk lagi, dan keluar lagi. Dia suruh istrinya yang masih seperti orang limbung itu untuk menelpon kakaknya dan melaporkan apa yang telah menimpa mereka. Hendri sendiri pergi melapor ke tetangga sebelah rumah dan melapor juga kepada ketua RT.

Sebelum merasa terlambat Hendri yang ditemani kakaknya pergi menemui alamat orang pintar yang pernah direkomendasikan oleh salah seorang langganannya. Mereka pergi ke Ciracas. Mereka membawa seorang anak sebagai syarat bantuan orang pintar itu bisa dilaksanakan.

Setelah sampai dan ngobrol beberapa saat di tempat yang dituju, proses pencarian pun dimulai. Dengan menghitamkan kuku jempol kiri anak yang mereka bawa dengan menggunakan spidol dan dibacakan sedikit mantra, maka anak tersebut dapat melihat melalui kukunya apa yang ditanyakan kepadanya. Untuk mengetes kesiapan anak itu, mula-mula ditanyakan kepada anak itu apakah dia dapat melihat kakaknya melalui kuku yang sudah dihitamkan itu. Dia jawab “ada”. Ketika ditanya dimana sekarang kakaknya berada. Dia jawab “di dalam kelas”. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukan kakaknya. Dia menjawab ‘sedang ngobrol’. Ketika ditanya ‘apakah ada guru di dalam kelas itu’. Dia menjawab ‘tidak’. Selanjutnya ditanyakan pula tentang ibunya, sepupunya, adiknya, dan embah putrinya yang tinggal jauh dari tempat tinggalnya.

Setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab anak itu dengan cukup meyakinkan, barulah mereka bertanya tentang kejadian semalam. Hendri bertanya berapa orang maling yang datang. Anak itu menjawab ‘empat orang’. Lewat mana mereka masuk. “Lewat jendela”. Bagaimana cara mereka mengambil barang-barang yang hilang itu. “Dua orang di dalam dan dua orang di luar”. Menggunakan apa mereka membawa barang-barang itu. “Pakai motor”. Ada berapa motor yang mereka bawa. “Ada dua”. Motor apa yang mereka bawa. “RX King dan Yamaha bebek”. Apa warna motor-motor itu. “RX hitam, bebek merah”. Dimana mereka menyimpan barang-barang itu. “Di dalam rumah”. Bagai mana bentuk rumah tempat menyimpan barang-barang itu. “Rumah kontrakan”. Dan seterusnya dan seterusnya. Anak itu bisa melihat dan menunjukkan tempat-tempat barang itu disembunyikan. Hanya saja, terdapat sedikit kesulitan ketika anak itu harus menggambarkan lokasi yang dia maksud secara detil. Mungkin karena anak itu tidak mengenali di daerah mana persisnya tempat-tempat yang dia sebutkan tadi berada.

Dengan gambaran yang tidak begitu detil tentang tempat yang dimaksud, Hendri dan kakaknya mencoba untuk menyusuri tempat yang dimaksud. Dengan memfokuskan pencarian pada rumah kontrakan dua pintu mereka mulai bergerak. Mereka berharap, jenis motor yang dimaksud terdapat pula di rumah yang akan mereka cari. Tidak terpikir oleh mereka bahwa bisa saja motor itu merupakan motor pinjaman yang segera dikembalikan setelah pekerjaan mencurinya selesai dilaksanakan. Pencarian terus dilakukan dengan menyusuri jalan-jalan yang kadang-kadang melewati pematang sawah. Mereka mencari sampai Matahari hampir masuk ke peraduannya. Karena sudah hampir gelap, akhirnya mereka pulang. Tentu saja mereka tidak menemukan barang-barang yang sedang dicarinya.

Cibinong, Senin, 25 Februari 2002

Advertisements

One thought on “Tiga Musibah Beruntun

  1. Pak, cerpen bapak ini sangat mengisnpirasi saya ketika menghadapi musibah yang datang pada kehidupa saya ini.

    106228

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s