Spatial planning education campaign launched

The Jakarta Post, Jakarta | Jakarta | Fri, July 27 2012, 8:38 AM
A- A A+

Paper Edition | Page: 9

Why do sidewalks in Kemang, South Jakarta, only have a width of 1 meter? Why is there a four-story house in my neighborhood that blocks the sunlight to my own house? Why is there a 24-hour minimarket next to my house? These are some of the questions related to city spatial planning that Jakartans may have in mind.

To inform ordinary citizens about spatial planning in Jakarta, on Wednesday the Rujak Center for Urban Studies (RCUS) launched booklets and a video which are aimed at doing just that.

The 68-page booklet, entitled Tata Ruang Untuk Kita (City Spatial Planning For Us), contains relevant information, such as the definition of city spatial planning and things that residents can do to improve it.

“We want the city’s residents to know more about city spatial planning … spatial planning can only work properly when all the stakeholders have enough information,” Elisa Sutanudjaja, program director of the urban study group, said at the Goethe Institute, Menteng, Central Jakarta, on Wednesday.

The booklet is written in plain Indonesian language, and includes colorful illustrations and photos to make learning about city spatial planning less daunting for ordinary citizens. It also contains laws on city spatial planning so that readers can educate themselves about their rights to participate in city spatial planning and become more aware whenever violations occur.

RCUS has initially printed 2,000 copies of the book, which are available for free. “We will distribute the books to other NGOs and academic institutions,” Elisa said.

In order to reach a wider audience, RCUS also produced a 10-minute-long video, showing basic information regarding city spatial planning.

The video, also entitled City Planning For Us, can be viewed on YouTube and the RCUS website starting next week.

“After the Ramadhan fasting month ends in August, we will work together with P2B and the National Development Planning Board [Bappenas] to conduct courses on city spatial planning for the heads of subdistricts throughout the city.” (han)

Ongkos haji Rp33 juta

Oleh Monitor Depok| 18 jam 54 menit lalu

JAKARTA, MONDE: Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan besaran Biaya Penyelenggaraan Haji (BPIH) untuk tahun 2012. Biaya Penyelenggaraan Haji sudah ditetapkan lewat Peraturan Presiden No 67 tahun 2012.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Bahrul Hayat menjelaskan, rata BPIH tahun 2012 ini sebesar US$3.617 atau sekitar Rp33.276.400. Ada kenaikan sekitar US$84 dari tahun lalu. “Tahun 2011 BPIH sebesar US$3.533 atau Rp32.503.600,” kata Bahrul saat jumpa pers di Gedung Kemenag, Jakarta, kemarin.

BPIH 2012 sebesar US$3.617 yang dibebankan kepada setiap jamaah haji, lanjut Bahrul, terdiri dari tiga komponen biaya. Yakni, biaya penerbangan sebesar US$2.204 dan biaya akomodasi Mekkah dan Madinah sebesar US$1.008.  “Komponen terakhir adalah pengembalian biaya kepada jamaah haji sejumlah US$405,” katanya.

Adapun untuk tahun ini, Kemenag juga menyiapkan 12 embarkasi, yaitu Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Lombok.

Untuk pembayaran, mulai dilakukan dari tanggal 26 Juli 2012 sampai 16 Agustus 2012. Pembayaran diperpanjang mulai 27-31 Agustus pada Bank Penerima Setoran BPIH. “Jika kuota belum terpenuhi, maka pelunasan pembayaran akan diperpanjang dari 3-7 September 2012,” katanya.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kuota yang disiapkan sebanyak 194.000 untuk jamaah haji reguler, dan 17 ribu kuota yang disiapkan untuk jamaah haji khusus. “Jadi tiap tahun kita memberangkatkan 211.000 jamaah yang terbagi dua, jamaah reguler dan jamaah khusus,” ujar Bahrul.

Sementara jamaah yang masih masuk dalam waiting list berjumlah 1,9 juta orang dengan total uang setoran awal sebanyak Rp44 triliun. “Jumlah itu termasuk yang berangkat tahun ini, dengan setoran awal tiap jamaah ada yang masih Rp20 juta ada yang sudah Rp25 juta,” katanya.(vn)