CARA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN YANG PERLU KITA COBA LAKUKAN

Bayangkan gambaran sebuah SMA berikut ini.

Mulai sekitar pukul 6.15 pagi kesibukan warga sekolah terutama siswa sibuk memasuki gerbang sekolah dengan berpakaian rapi, bersih, dan enak dipandang. Kegiatan berlangsung sampai pukul 6.45.

Para siswa langsung menuju kelasnya masing-masing, sementar para guru menuju ke ruangan guru untuk menempati meja kerjanya masing-masing pula. Tenaga kependidikan lain, masuk ke ruangannya masing-masing.

Pukul 6.45 gerbang sekolah ditutup dan tidak ada lagi yang boleh masuk, baik siswa, guru, kepala sekolah, dan warga sekolah lainnya.

Semua siswa mulai melakukan kegiatan literasi. Ada yang membaca kitab suci sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing, ada pula yang membaca buku-buku keagamaan. Yang lain ada yang membaca buku cerita fiksi, dan ada juga yang membaca buku-buku cerita inspirasional. Semua berjalan dengan keinginan masing-masing.

Terlihat juga siswa yang ngobrol dengan temannya, dan ada juga yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang belum sempat dikerjakan di rumah.

Sementara di ruang guru, terlihat ada yang sedang sarapan, ada pula yang sedang membuka-buka buku. Sepertinya sedang melihat-lihat kembali materi yang akan disampaikan.

Pukul 7.00 bel berbunyi. Guru yang bertugas pada jam pertama, bergegas memasuki kelas masing-masing. Tak lama berselang, terdengar dari setiap kelas lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan. Ini biasa dilakukan setelah siswa berdoa sebelum jam pertama dimulai.

Setelah memerikasa kehadiran siswa, guru akan meminta siswa untuk berdoa bagi temannya yang tidak masuk karena sakit, atau untuk keluarga yang juga sedang sakit. Setelah itu guru, memberikan paraf pada buku kendali siswa untuk kegiatan literasi yang dilakukan oleh siswa. Dalam buku kendali tersebut, tercantum catatan kegiatan literasi yang dilakukan pada hari itu. Contohnya, pada kolom kegiatan literasi, ada siswa menuliskan; membaca Al-Qur’an, surat … ayat…sampai ayat…. ada juga yang menuliskan; membaca cerpen dengan judul…karangan…. ada juga yang menuliskan; membaca novel dengan judul …. dari halaman… sampai halaman…. dan sebagainya.

Selanjutnya, guru akan melakukan kegiatan pembelajaran dengan gaya mereka masing-masing.

Pada saat pergantian jam, yang terlihat hanyalah guru yang keluar dari sebuah kelas, dan langsung masuk ke kelas lain, atau guru yang masuk ke kelas setelah sebelumnya menunggu di ruang guru. Sementara para siswa semuanya tetap di kelas masing-masing. Tidak terlihat ada siswa yang minta izin ke toilet apalagi minta izin ke kantin. Kalau pada saat pergantian jam saja, tidak ada yang minta izin keluar, apalagi pada saat jam pelajaran berlangsung. Kegiatan ke toilet atau ke kantin, mereka lakukan pada saat jam istirahat berlangsung, baik pada istirahat pertama pukul 10.00 s.d. pukul 10.20, atau pada jam istirahat kedua, yaitu pukul 12.20 s.d. pukul 13.00. diluar jam-jam tersebut, siswa tetap berada di kelas, begitu juga dengan guru-gurunya.

Kegiatan sekolah selesai pukul 15.40. sebelum siswa pulang, guru mata pelajaran terakhir, akan meminta siswa berdiri dan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional atau salah satu lagu daerah yang mereka pilih. Setelah selesai, masih dalam posisi berdiri, salah seorang siswa, biasanya ketua kelas, untuk menyiapkan, dan memimpin untuk berdoa sebelum pulang.

Berada di lingkungan sekolah seperti itu, tentu saja membuat kita senang dan bangga.

Pertanyaannya:

  1. Bagaimana kira-kira, adakah gambaran sekolah seperti itu di Depok?
  2. Mungkinkah kita menciptakan lingkungan pendidikan yang seperti itu?
  3. Bagaimana caranya, dan apa yang harus kita lakukan agar suasana sekolah kita bisa seperti gambaran sekolah diatas?

Ya, saya setuju dengan Bapak/Ibu jika di Depok belum ada sekolah seperti dalam gambaran diatas. Paling tidak, selama saya menjadi guru yang baru 28 tahun, saya belum pernah menemukan sekolah seperti itu. Mudah-mudahan, ada diantara Bapak dan Ibu yang sudah pernah menemukannya. Tidak di Depok tidak apa-apa yang penting sekolah seperti itu memang ada di dunia ini, hehehe.

Untuk pertanyaan kedua, saya termasuk orang yang percaya, bahwa lingkungan seperti itu bisa kita ciptakan. Buat saya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi kalau kita sudah bersama-NYA. (Biar kelihatan lebih alim, atau bentuk kesombongan saya, terserah akh. Hehehe). Sebab, kalau kita tidak yakin berhasil, maka kita tidak akan melakukan apapun untuk mewujudkannya).

Pertanyaan ketiga bisa saya jelaskan dengan sedikit menyampaikan pengalaman. Untuk lingkungan sekolah belum pernah dilaksanakan, meskipun saya sudah pernah mengusulkan. Tapi saya memang tidak ingin bermain diluar daerah kewenangan saya. Oleh karena itu, saya hanya melakukannya di kelas yang saya ajar saja, dan tentu saja di kelas binaan saya, dimana saya menjadi wali kelasnya.

Untuk membuat kita disiplin, tentu saja kita harus memiliki peraturan atau tata tertib, syukur kalau tata tertib atau peraturan tersebut dibuat atau melibatkan semua pihak. Jika peraturannya untuk siswa, maka siswa harus diajak bicara. Jika peraturannya untuk guru, tentu saja guru harus diajak juga bicara.

Tapi yang paling penting dari semua peraturan adalah penerapannya. Sebagus apapun peraturan yang kita buat, tidak berarti apa-apa jika tidak kita terapkan. Jangan membuat peraturan yang sulit untuk diterapkan. Apalagi kalau penerapannya mengharuskan orang lain, yang belum tentu mau melaksanakan peraturan itu. Contoh kasus, jika peraturannya berbunyi; gerbang sekolah ditutup pukul 7.00, dan yang bertugas menutup gerbang adalah petugas satpam, maka satpam cukup melaksanakan tugasnya dengan menutup gerbang. Jangan diberi pekerjaan lain, misalnya membuka kembali gerbang karena yang terlambat adalah guru, atau siswa yang terlambat diantar orang tua, atau karena cuaca hujan, atau karena jalanan macet, dan sebagainya. Peraturan yang terlalu banyak excuse tidak akan pernah berhasil. Apalagi kalau ada peraturan gerbang ditutup, tapi pas liat lebih dari 25 siswa terperangkap di pintu gerbang, kepala sekolah memberi izin untuk siswa masuk, saya jamin peraturan seperti itu tidak akan pernah bisa dijalankan.

Pengalaman saya dulu ketika menerapkan jam 7.00 gerbang ditutup, mungkin bisa dipertimbangkan. Setelah sebelumnya disosialisasikan, hari pertama pemberlakukan pukul 7.00 gerbang ditutup, saya mendapati lebih dari 75 siswa terperangkap di pintu gerbang. Ada yang meminta masuk karena ada ulangan, ada yang takut dimarahi orang tua kalau pulang, dll. Saya tidak bergeming, dan saya tinggalkan mereka dengan gerbang terkunci. Ketika saya intip, mereka satu persatu pulang.

Pada hari kedua, saya mendapati lagi kurang lebih 75 siswa terparangkap di gerbang. Tapi yang membuat saya bangga, tak seorangpun yang kemarin terlambat ada dalam kelompok yang terlambat hari ini.

Hari ketiga, saya masih menemukan 5 siswa yang terlambat. Ada satu siswa yang diantar oleh ayahnya, dan ayahnya meminta izin kepada saya agar anaknya diizinkan masuk. Dia berjanji untuk sekali ini saja. Alhamdulillah, saya bisa meyakinkan orangtua tersebut bahwa yang saya lakukan adalah untuk kebaikan putrinya dan sekolah tempat putrinya menimba ilmu. Mungkin beliau kecewa, tapi intinya saya tidak memberi izin siswa masuk jika gerbang sudah ditutup, apapun alasannya. Oleh karena itu, saya tidak pernah bertanya alasan atas perbuatan orang lain, sampai sekarang.

Hari keempat dan seterusnya, saya tidak lagi berurusan dengan siswa yang terlambat. Bukannya tidak ada siswa yang terlambat, tapi semua siswa tahu, jika mereka ingin masuk mereka harus datang sebelum gerbang ditutup. Jika mereka bangun kesiangan, mereka tidak akan coba-coba berangkat ke sekolah. Mereka akan memilih, tetap di rumah atau pergi main entah kemana (emang gua pikirin, hehehe).

Bandingkan dengan peraturan sebelumnya, terlambat 10 menit boleh masuk dengan diberikan hukuman. Ada hukuman push up, scout jump, lari di lapangan, bersih-bersih, dll. Semuanya tidak berhasil mengurangi siswa terlambat.

Itu adalah contoh mengajarkan atau membiasakan disiplin yang bisa diterapkan di sekolah.

Karena peraturan seperti ini tidak diberlakukan di tataran sekolah, saya tidak putus asa, dan sayapun tidak kecewa. Saya memberlakukan peraturan yang bisa saya lakukan sendiri. Saya terapkan ini di setiap kelas yang saya ajar. Alhamdulillah saya masih bisa menerapkannya di 14 kelas yang saya ajar (9 kelas B. Inggris wajib, 5 kelas B. Inggris Lintas Minat). Saya hanya bilang, kalau Bapak sudah di kelas, kamu tidak boleh masuk. Kalau pelajaran sudah dimulai, kamu tidak boleh keluar, apapun alasannya. Bapak tidak perlu marah sama kamu dan kamu tidak perlu benci sama Bapak. Alhamdulillah, kegiatan saya berjalan lancar. Semua siswa sudah ada di dalam kelas, setiap kali pelajaran saya akan dimulai. Meskipun ada teman guru yang komplain, karena ada anak yang menolak mengantar Ibu ini pulang, karena si anak takut terlambat masuk kelas pak Yusuf. Mantaappp.

Saran saya, jangan pernah memikirkan apa yang harus orang lain lakukan. Kerjakan saja sebaik-baiknya apa yang bisa kita kerjakan. Melatih disimplin siswa kita, bisa dimulai dari kelas kita masing-masih. Percayalah, ketika kita melatih kedisiplinan, tidak terasa, kita akan otomatis menjadi guru yang disiplin. Tidak perlu pakai kekerasan, baik verbal apalagi fisik, tidak perlu pakai ancaman, apalagi tidak benar-benar dilakukan, dan tidak perlu menggunakan hukuman macam-macam. Dari pada menghukum yang terlambat, lebih baik memberi hadiah yang datang lebih awal. Siswa yang disiplin adalah sesuatu yang positif, sedangkan menghukum adalah sesuatu yang negatif. Sesuatu yang positif tidak bisa dicapai dengan sesuatu yang negatif. Ini hanyalah perbedaan paradigma atau cara pandang kita. Jika ingin hasil positif, lakukan yang positif. Budaya malu harus kita ganti dengan budaya bangga. Dari pada bilang saya malu datang terlambat, lebih baik kita bilang saya bangga datang lebih awal. Merdeka!!!!

Depok, 2 April 2018

Yusuf Efendy

One thought on “CARA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN YANG PERLU KITA COBA LAKUKAN

Silakan tulis komentar anda di kolom yg disediakan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s