DAFTAR JUDUL SKRIPSI JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TERBARU

  1. FUNGSI PENGAWASAN DPRD TERHADAP IMPLEMENTASI PERDA NO. 4 TAHUN 2004 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN (Studi Deskriptif Pada DPRD Kabupaten Bandung).
  2. IMPLEMENTASI KONSEP GOOD GOVERNMENT DI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG
  3. KAJIAN TENTANG UPAYA GURU PKn DALAM MENGEMBANGKAN KECERDASAN MORAL SISWA : Studi Kasus di SMP Lab. School UPI Bandung
  4. PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA MATERI PERSAMAAN KEDUDUKAN WARGA NEGARA (Penelitian Tindakan Kelas pada Mata Pelajaran di Kelas X-7 SMA Negeri 11 Bandung)
  5. PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKn (Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas X-5 SMAN 15 Bandung)
  6. POLA KADERISASI PARTAI POLITIK;Studi Kasus Terhadap DPD PDI Perjuangan Jawa Barat
  7. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN VALUES TIME PIE DALAM UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS VII D DI SMP PASUNDAN 3 BANDUNG:Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII D SMP Pasundan 3 Bandung
  8. SUATU KAJIAN TENTANG PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT UNTUK MEMILIKI AKTA PERKAWINAN (Studi Kasus terhadap Masyarakat Desa Karang Tengah Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi)
  9. PENGARUH KESADARAN POLITIK WARGA NEGARA TERHADAP TINGKAT PARTISIPASI POLITIK DALAM PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH (Studi Deskriptif Analitik Pada Masyarakat Kota Serang-Banten)
  10. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING) UNTUK MENINGKATKAN  MOTIVASI BELAJAR SISWA (Penelitian Tindakan Kelas pada Mata Pelajaran PKn di Kelas VII B  SMP Negeri 1 Lembang)
  11. STUDI TENTANG PERANAN POLRI DALAM MEMBERANTAS PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA (Studi Kasus di POLWILTABES Bandung)
  12. PENGARUH KELOMPOK TEMAN SEBAYA TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG SISWA DI SEKOLAH (Studi Deskriptif Analitik terhadap Siswa Kelas XI SMA Kartika Silwangi 2 Bandung)
  13. SUATU KAJIAN TENTANG TRADISI KEPERCAYAAN MASYARAKAT TERHADAP NYI POHACI  (Studi Kasus terhadap Masyarakat Desa Babakan Raden, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor)
  14. KINERJA GURU PKN DALAM MENINGKATKAN NASIONALISME SISWA(Studi Deskriptif di SMA Negeri 1 Cisurupan Garut)
  15. PERSEPSI MASYARAKAT KECAMATAN WARUNGKONDANG TERHADAP PERPOLISIAN MASYARAKAT (COMMUNITY POLICING) DI POLSEK WARUNGKONDANG DALAM WILAYAH HUKUM POLRES CIANJUR
  16. STUDI TENTANG PERANAN GURU DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Banjar).
  17. PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KEWARGANEGARAAN DALAM KEGIATAN BERORGANISASI DI SEKOLAH: Studi Deskriptif Analitik Terhadap Siswa Pengurus dan Anggota OSIS, Pramuka dan PMR di SMA Negeri I Cibadak Kabupaten Sukabumi.
  18. PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KEWARGANEGARAAN (CIVIC SKILLS) SISWA (Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran di Kelas X.4 SMA Negeri 2 Purwakarta)
  19. MEKANISME PENYUSUNAN PERATURAN DESA MENURUT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 72 TAHUN 2005 TENTANG DESA (STUDI DESKRIPTIF ANALITIS DI DESA NEGLASARI KECAMATAN BANJARAN KABUPATEN BANDUNG)
  20. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) MELALUI TEKNIK DISKUSI UNTUK  MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT  SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN  KEWARGANEGARAAN   (Penelitian Tindakan Kelas Di Kelas X-2 SMA Negeri 4 Cimahi)
  21. KESADARAN HUKUM WARGA NEGARA TERHADAP KEPEMILIKAN KARTU TANDA PENDUDUK (KTP) DI KOTA BANDUNG  (Studi Kasus Kepemilikan Kartu Identitas Penduduk Musiman (KIPEM) di RW 04 Kelurahan Isola Kecamatan Sukasari Bandung)
  22. KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA BANDUNG DALAM MELINDUNGI HAK ANAK JALANAN (STUDI KASUS DI KOTA BANDUNG)
  23. PENERAPAN MODEL “PELELANGAN NILAI” UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN (PENELITIAN TINDAKAN KELAS PADA KELAS VIII-6 DI SMP NEGERI 1 BANDUNG)
  24. “PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKN” : Penelitian Quasi Eksperimen di Kelas VIII SMP Negeri 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat
  25. PENERAPAN MODEL “PELELANGAN NILAI” UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN: Penelitian Tindakan Kelas Pada Kelas VIII-6 di SMP Negeri 1 Bandung
  26. KAJIAN TENTANG NILAI-NILAI BUDAYA PELAKSANAAN TRADISI UPACARA TOLAK BALA DI DESA NAGRAK KABUPATEN SUMEDANG : Studi Deskriptif Tentang Upacara Tolak Bala di Desa Nagrak Kabupaten Sumedang
  27. PERANAN PERADILAN AGAMA DALAM MENYELESAIKAN KASUS CERAI THALAK
  28. SEBAGAI UPAYA MENYELESAIKAN KONFLIK KELUARGA (Studi Kasus di Pengadilan Agama Cimahi)
  29. Pengembangan Metode Cooperative Learning Model Jigsaw Dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa (Penelitian Tindakan Kelas Pada Pembelajaran Di SMP Negeri 5 Bandung Kelas VII A).
  30. IMPLEMENTASI MODEL INKUIRI SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KEWARGANEGARAAN (CIVIC SKILLS) SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKN (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VIII F SMP Negeri 6 Cimahi)
  31. PERANAN GURU PKn DALAM MEMBINA KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH MELALUI PENDEKATAN KETELADANAN GURU (Studi Kasus di SMP Negeri 4 Malangbong Garut)
  32. PENERAPAN MEDIA PETA KONSEP PADA PELAJARAN PKn UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG KONSEP PERSAMAAN KEDUDUKAN WARGA NEGARA (Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas X di SMA Angkasa Lanud Huseinsastranegara)
  33. KINERJA BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD) DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI BIDANG PEMBANGUNAN : Studi Komparatif BPD Desa Cikujang dan Desa Ponggang Kecamatan Serangpanjang Kabupaten Subang
  34. PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING MELALUI TEKNIK JIGSAW DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA
  35. KAJIAN TENTANG KINERJA PELAYANAN PUBLIK BIDANG PENDIDIKAN DI ERA OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN BOGOR (Studi Kasus di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor)
  36. SOSIALISASI NILAI-NILAI POLITIK DALAM KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN POLITIK DI PESANTREN FAUZAN
  37. LATAR BELAKANG SOSIAL KENAKALAN REMAJA DI KOTA BANDUNG (Studi Deskriptif Pada Siswa SMK Di Kota Bandung).
  38. PERBANDINGAN PARTISIPASI POLITIK SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 18 KOTA BANDUNG DENGAN SISWA SEKOLAH MENGENGAH ATAS NEGERI 1 BALEENDAH KABUPATEN BANDUNG SEBAGAI PEMILIH PEMULA DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN 2009
  39. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING SEBAGAI ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN UNTUK
  40. MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DALAM MATERI MENGHARGAI PERSAMAAN KEDUDUKAN WARGA NEGARA (Penelitian Tindakan Kelas Siswa Kelas X-1 Di SMA Negeri 4 Cimahi)
  41. PENGEMBANGAN MEDIA ELEKTRONIK TENTANG ISU-ISU POLITIK UNTUK MENINGKATKAN SIKAP POLITIK SISWA DALAM MATA PELAJARAN PKN (Studi Kuasi Eksperimen di SMA Puragabaya Bandung)
  42. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn (Penelitian Tindakan Kelas X SMA Negeri 4 Cimahi)
  43. KAJIAN TENTANG PEMBELAJARAN YANG BERSIFAT EKSKLUSIF DAN ELITIS : Studi Kasus di SMA Negeri 1 Ciwidey
  44. STUDI KOMPARATIF TENTANG FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN REMAJA DI SMAN KOTA BANDUNG
  45. KESADARAN HUKUM MASYARAKAT MENGENAI TRADISI PERNIKAHAN DIBAWAH UMUR TERHADAP HAK ANAK MENURUT UU NO. 1 TAHUN 1974 DAN UU NO. 23 TAHUN 2002 (STUDI KASUS DI DESA KARANGANYAR KECAMATAN KANDANG HAUR KABUPATEN INDRAMAYU)
  46. PENERAPAN MODEL PEMBALAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN (Penelitian Tindakan Kelas terhadap siswa kelas XI IPA 4 SMAN 8 Bandung)
  47. PERANAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT DALAM MENANGANI PERKARA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA SEBAGAI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 (Studi Kasus Penanganan Korban KDRT Oleh Lembaga Perlindungan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga( LPK2DRT)
  48. PEMANFAATAN BERITA POLITIK SEBAGAI MEDIA STIMULUS
  49. DALAM PKn KONTEKSTUAL : Studi Deskriptif di PGRI I Subang kelas X
  50. PERANAN PARTAI POLITIK DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN BERKONSTITUSI PADA KADER PARTAI : Studi Kasus di DPD PDIP Provinsi Jawa Barat
  51. FENOMENA KENAKALAN REMAJA DI KOTA CIMAHI
  52. PERANAN KEGIATAN PALANG MERAH REMAJA DALAM MEMBINA SIKAP KEMANUSIAAN SISWA : Studi Deskriptif PMR SMA Negeri 1 Jatiwangi Kabupaten Majalengka
  53. NASIONALISME GENERASI MUDA DALAM ERA OTONOMI KHUSUS PAPUA
  54. PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEM SOLVING METHOD) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKN
  55. KORELASI ANTARA MOTIVASI SISWA DLM MENGIKUTI MATAPELAJARAN PKN PADA KELAS II MTS MUH. WANGON KAB. BANYUMAS CAWU I TH PELAJARAN
  56. PARTISIPASI MASYARAKAT DLM MENCEGAH MASALAH KEPENDUDUKAN MELALUI TRANSMIGRASI DI KAB. KULON PROGO DIY
  57. PERANAN PERUSAHAAN UMUM PEGADAIAN DLM MELINDUNGI MASYARAKAT DARI PARA RENTENIR DI KAB. GROBOGAN TH
  58. PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR ANTARA SISWA YG ORANG TUANYA BERPENDIDIKAN SMP KE BAWAH DG ORANGTUANYA BERPENDIDIKAN SMA KE ATAS DI KELAS XI SMU MUH. I TEMANGGUNG
  59. BIMBINGAN BELAJAR INDIVIDUAL MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN PADA SISWA KELAS I SDN KANDANGAN KEC. KANDANGAN KAB. TEMANGGUNG TH PELAJARAN
  60. PENDIDIKAN AKHLAK DAN PKN DI PONDOK PESANTREN ANAK-ANAK MAMBA’UL HISAN METESEH TEMPURAN MAGELANG
  61. AKIBAT WANPRESTASI DALAM PELAKSANAAN PERJANJIAN SEWA BELI KENDARAAN BERMOTOR PADA UD. SHINTA MOTOR
  62. STUDI PERBANDINGAN PRESTASI BELAJAR PPKN ANTARA SISWA YG ORANGTUANYA BERPENDIDIKAN SMA KE BAWAH DG SISWA YG ORANG TUANYA BERPENDIDIKAN DI ATAS SMA PADA KELAS XI MA MU’ALIMAT MUH. YK TH PELAJARAN
  63. PERAN BELAJAR TUNTAS DLM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKN PADA SISWA KLAS II SD MUH. WIROBRAJAN III YK TH PELAJARAN
  64. PEMBAGIAN WARISAN BAGI JANDA MENURUT HUKUM ADAT DESA KRONGGEN KEC. BRATI KAB. GROBOGAN TH
  65. PERSEPSI MASYARAKAT THD PROYEK PENSERTIFIKATAN TANAH DI DESA TAMBIREJO KEC GAJAH KAB DEMAK
  66. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP SIKAP DEMOKRASI KEPEMIMPINAN PRESIDEN GUSDUR DI ERA REFORMASI DI DESA NGARUS KEC. PATI KAB. PATI TH
  67. PENERAPAN SANGSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI PN PATI
  68. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KOMITE SEKOLAH PLOSORAHARJO KEC. TOROH KAB. GROBOGAN
  69. HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DG PILIHAN STUDI DI PT. PADA SISWA KELAS XII SMU PANCASILA PURWODADI TH PELAJARAN
  70. PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NO 30 TH 1980 TTG PERATURAN DISIPLIN PNS DI LINGKUNGAN KANTOR KEC. WEDARI JAKSA KAB. PATI
  71. PENGARUH PENGAMBILAN KEPUTUSAN YG DILAKUKAN KEPALA SEKOLAH THD KINERJA GURU-GURU SD DI KEC. PATI KAB.PATI
  72. PENGARUH PELAJARAN AKIDAH AKHLAK TERHADAP PERILAKU SISWA KELAS IX MTS SUNAN MURIA GUNUNGWUNGKAL KAB. PATI TA
  73. FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN WAJIB BELAJAR PENDIDIKAN DASAR 9 TH DI DESA SARI KEC. GAJAH KAB. DEMAK
  74. PERSEPSI MASYARAKAT THD HUKUM PERKAWINAN ANTAR AGAMA SEBELUM DAN SESUDAH BERLAKUNYA UU NO I TH 1974 ( STUDI KASUS DI KEC. TRANGKILAN KAB. PATI)
  75. PENGARUH PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) THD PEMBANGUNAN DI DESA PUTAT KEC. PURWODADI KAB. GROBOGAN
  76. PERSEPSI MASYARAKAT THD KEBERADAAN ANGGOTA BPD HUBUNGANNYA DG DUKUNGAN THD KEPUTUSAN BPD DESA TAMBANGHARJO
  77. STUDI KORELASI ANTARA MOTIVASI BELAJAR DG MOTIVASI MELANJUTKAN STUDI KE PT PADA SISWA KELAS XI SMU PANCASILA PURWODADI TH PELAJARAN
  78. STRATEGI PERPUSTAKAAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA KELAS X SMUN I PATI TH PELAJARAN
  79. DAMPAK PERJUDIAN TERHADAP MASYARAKAT DESA WOLO KEC. PENAWANGAN KAB. GROBOGAN TH
  80. PERAN UNIT PENGELOLA KEUANGAN (UPK) PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN (PKK) DLM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI DESA TAMBAHMULYO KEC. GABUS KAB. PATI
  81. PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) (STUDI KASUS PADA ORANG TUA SISWA SDN KEMBANGAN KEC. BONANGKAB.DEMAK)
  82. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP BANTUAN PROYEK KETAHANAN PANGAN (PKP) DLM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI DESA KEBOLAMPANG KEC. WINONG KAB. PATI
  83. PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA DLM KELUARGA THD MORALITAS SISWA SMP N I KUNDURAN KAB. BLORA TH PELAJARAN
  84. STUDI KORELASI ANTARA PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PKN DG KESADARAN NASIONAL PADA SISWA KELAS XII SMU PGRI I PATI TH PELAJARAN
  85. PERSEPSI MASYARAKAT PENYUSUNAN APBDES DI DESA TRUWOLU KEC. NGARINGAN TH
  86. KESIAPAN GURU-GURU SD DI KEC. GEMBONG PATI THD PELAKSANAAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) TH PELAJARAN
  87. PERANAN KELUARGA DLM MENANAMKAN SIKAP DISIPLIN ANAK PADA USIA REMAJA DI DESA BAKARAN KULON KEC. JUWONO KAB. PATI TH
  88. HUBUNGAN ANTARA KEGIATAN EKSTRA KULIKULER KEPRAMUKAAN DG SIKAP NASIONALISME SISWA SDN MANGUNAN KEC. TAHUNAN KAB. JEPARA
  89. STUDI KORELASI ANTARA INTENSITAS TATAP MUKA DG PRESTASI BELAJAR WARGA BELAJAR KEJAR PAKET C DI KEC. BRATI KAB. GROBOGAN TH PELAJARAN
  90. PENGARUH NILAI UN MURNI SMP THD PRESTASI BELAJAR KELAS X SEMESTER I SMUN 2 PATI TH PELAJARAN
  91. PERANAN GURU THD MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SDN NGARAP-ARAP I KRC. NGARINGAN TH PELAJARAN
  92. PENGARUH INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA THD KEDISIPLINAN ANAK DI MTS MIFTAHUL FALAH BETAHLAWANG KEC. BONANG KAB. DEMAK
  93. STUDI EKSPERIMEN TTG PENGARUH KOMUNIKASI TOTAL THD PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI PKN BAGI SISWA SLB/B YPLB PURWODADI GROBOGAN TH PELAJARAN
  94. PENGARUH MINUMAM KERAS THD KETENTRAMAN MASYARAKAT DESA WOLO KEC. PENAWANGAN KAB. GROBOGAN THN

 

http://uomo241.blogspot.com/2015/04/100-daftar-judul-skripsi-jurusan.html

Advertisements

Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.

Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Istilah penelitian kuantitatif sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk membedakannya dengan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Sebagai contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel, mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka pribadi masa depan mereka dari setahun yang lalu hingga hari ini. Menurut ketentuan ukuran sampel statistik yang berlaku, maka 79% dari penemuan dapat diproyeksikan ke seluruh populasi dari sampel yang telah dipilih. pengambilan data ini adalah disebut sebagai survei kuantitatif atau penelitian kuantitatif.

Ukuran sampel untuk survei oleh statistik dihitung dengan menggunakan rumusan untuk menentukan seberapa besar ukuran sampel yang diperlukan dari suatu populasi untuk mencapai hasil dengan tingkat akurasi yang dapat diterima. pada umumnya, para peneliti mencari ukuran sampel yang akan menghasilkan temuan dengan minimal 95% tingkat keyakinan (yang berarti bahwa jika Anda survei diulang 100 kali, 95 kali dari seratus, Anda akan mendapatkan respon yang sama) dan plus / minus 5 persentase poin margin dari kesalahan. Banyak survei sampel dirancang untuk menghasilkan margin yang lebih kecil dari kesalahan.

Beberapa survei dengan melalui pertanyaan tertulis dan tes, kriteria yang sesuai untuk memilih metode dan teknologi untuk mengumpulkan informasi dari berbagai macam responden survei, survei dan administrasi statistik analisis dan pelaporan semua layanan yang diberikan oleh pengantar komunikasi. Namun, oleh karena sifat teknisnya metode pilihan pada survei atau penelitian oleh karena sifat teknis, maka topik yang lain tidak tercakup dalam cakupan ini.

https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kuantitatif

Penelitian kualitatif

Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori ini juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Kriyantono menyatakan bahwa “riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.”. Penelitian kualitatif menekankan pada kedalaman data yang didapatkan oleh peneliti. Semakin dalam dan detail data yang didapatkan, maka semakin baik kualitas dari penelitian kualitatif ini. Bebeda dengan kuanitatif, objek dalam penelitian kualitatif umumnya berjumlah terbatas. Dalam penelitian ini, peneliti ikut serta dalam peristiwa/kondisi yang sedang diteliti. Untuk itu hasil dari penelitian ini memerlukan kedalaman analisis dari peneliti. Selain itu, hasil penelitian ini bersifat subjektif sehingga tidak dapat digeneralisasikan. Secara umum, penelitian kualitatif dilakukan dengan metode wawancara dan observasi. Melalui metode ini, peneliti akan menganalisis data yang didapatkan dari lapangan dengan detail. Peneliti tidak dapat meriset kondisi sosial yang dioservasi, karena seluruh realitas yang terjadi merupakan kesatuan yang terjadi secara alamiah. Hasil dari penelitian kualitatif juga dapat memunculkan teori atau konsep baru apabila hasil penelitiannya bertentangan dengan teori dan konsep yang sebelumnya dijadikan sebagai kajian dalam penelitian.[1]

Penelitian kualitatif jauh lebih subjektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.

Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan pewawancara atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari pewawancara atau moderator group.

Jenis penelitian yang sering kurang dilakukan dari survei karena mahal dan sangat efektif dalam memperoleh informasi tentang kebutuhan komunikasi dan tanggapan dan pandangan tentang komunikasi tertentu. Dalam hal ini sering metode pilihan dalam kasus di mana pengukuran atau survei kuantitatif tidak diperlukan.

Kode etik

Dalam penelitian kualitatif, identitas dan peran informan serta informasi-informasi yang disampaikan menjadi hal-hal yang berharga sehingga peneliti harus memiliki tanggungjawab untuk memperlakukan identitas diri dan informasi yang disampaikan oleh informan. Identitas dan informasi tersebut dapat dibuka atau tertutup untuk khalayak, tergantung dari kesepakatan antara peneliti dan informan yang tertulis dalam formulir kesepakatan (consent form). Peneliti boleh membuka identitas selama informan sepakat dan peneliti juga harus menghargai keputusan apabila informan ingin identitasnya dilindungi.

Dalam pengambilan data penelitian kualitatif, sebaiknya peneliti mendapatkan izin baik secara tertulis ataupun lisan sehingga penelitian tidak melanggar norma-norma yang mungkin dianut oleh informan atau objek penelitian.

Jaringan

Selain penelitian yang melibatkan masyarakat dan media komunikasi yang dihasilkan, kegiatan dan manajemen komunikasi dengan informan terdapat aspek penting lainnya yaitu organisasi komunikasi yang belajar untuk sepenuhnya pemahaman dimensi tentang bagaimana sebuah organisasi berkomunikasi dan apa yang bekerja dan apa yang tidak dalam hal ini termasuk pemeriksaan penggunaan pola komunikasi elektronik sistem seperti e-mail, Voice-Mail, intranet, dll, analisis pola arus komunikasi dalam jaringan, sistem umpan balik dan komunikasi informal seperti memo.

Penelitian di daerah-daerah yang sering dilakukan oleh sistem teknologi komunikasi dan audit personel profesional seperti lembaga periset.

https://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif