Short Story: The House

Dina Oktaviani   |  Sun, 11/02/2008 10:33 AM  |  Bookmark

For some unknown reason I cannot sleep. The faux-wooden tiles covering the floor fetch my eyes. I should have gone with real wood, but that’s not the reason I cannot sleep. Continue reading

Advertisements

Sebuah Perjuangan

Oleh: Yusuf Efendy

Ruangan itu tidak terlalu luas. Dindingnya bercat putih seperti yang belum begitu lama dikerjakan. Ukurannya kurang lebih tiga kali empat meter. Di bagian luar sebelah atas tampak ujung gulungan rolling door. Sedangkan di bagian dalam sebelah kirinya ada sebuah pintu tertutup untuk jalan ke ruang bagian belakang. Bila melihat ke sisi itu terdapat white-board besar yang menutupi dua pertiga bagian atas tembok. Di tengah ruangan terdapat enam buah meja ‘Olimpic’ berwarna abu-abu muda, yang disusun melingkar, dengan dikelilingi dua belas kursi untuk pertemuan. Ruangan ini mungkin garasi mobil pemilik rumah sebelum disulap menjadi ruang rapat oleh sebuah kantor Dinas PEMDA Kota yang baru berusia tiga tahun.

Yudi duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu. Di sebelah kanan kirinya, duduk teman-temannya yang mantan juara. Ada yang mantan juara tingkat Nasional, ada yang mantan juara tingkat Propinsi seperti dirinya, dan ada juga yang hanya mantan juara tingkat Kabupaten atau Kota. Persis di hadapannya duduk seorang Kepala Sub Dinas yang juga mantan juara, sedang memimpin rapat. Yudi mengikuti rapat panitia pemilihan guru teladan tingkat Kota.

“Mohon ma’af, acara kita agak sedikit terlambat dimulai.” Pimpinan rapat membuka acara, sambil menyampaikan beberapa alasan keterlambatan acara itu.

“Pelaksanaan seleksi ini, tidak bisa ditunda lagi. Mau tidak mau, besok harus kita laksanakan. Ada dua alasan. Pertama, pendaftaran terakhir ke tingkat Propinsi adalah tanggal …(sambil mencari-cari tanggal yang dimaksud dalam surat pemberitahuan dari panitia tingkat Propinsi yang ada di hadapannya)… oh ya, hari kemarin. Ah, gampanglah itu, pelaksanaannya kan masih satu bulan lagi. Kedua, peringatan HUT Kota sudah di depan mata. Orang PEMDA sudah meminta nama-nama juara tingkat Kota kepada kita untuk diumumkan pada peringatan HUT itu,” lanjut pimpinan rapat, seperti rapat itu ingin cepat ia tinggalkan.

“Besok, aku tidak bisa,” kata Yudi di dalam hati.

“Ah, bagaimana aku mengatakannya? Bagaimana kira-kira, tanggapan teman-temanku nanti? Bagaimana pula reaksi pimpinan rapat, yang langsung atau tidak adalah atasanku, dan berpengaruh pada karirku, bila aku mengatakan bahwa aku tidak bisa hadir besok?” lanjut Yudi sambil menampakkan kerut dahi dan tatapan kosongnya.

“Nanti saja, setelah rapat aku akan berbisik kepada pak Kasubdin, sambil aku jelaskan semuanya mengapa aku tidak bisa datang,” pikir Yudi dengan kemantapan yang agak dipaksakan.

Pimpinan rapat mengecek kesiapan untuk pelaksanaan besok. Dia memulai, dengan menanyakan apakah soal-soal untuk besok sudah dipersiapkan. “Sudah, Pak! Hanya saja belum digandakan,” sahut seorang staf yang duduk di sebelah, yang tidak mantan juara.

“Bagaimana dengan tempat pelaksanaannya?” Pimpinan rapat mengecek.

“Siap, Pak!” jawab staf itu sambil menggaruk-garuk kepalanya dan sedikit tersenyum. “Nanti saya konfirmasi lagi dengan kepala sekolahnya.” Staf itu meyakinkan sang pimpinan rapat.

Setelah merasa tidak ada persoalan lain, pimpinan rapat mempersilakan yang hadir untuk memberikan masukan.

“Kita tidak boleh lupa, bahwa pemilihan guru teladan bukan pemilihan guru terpintar,” begitu kata pak Nurdin, salah seorang anggota panitia dengan suara sedikit ngebas, mengingatkan yang lain.

“Betul!” kata pak Fachrudin menimpali. Ia menambahkan, bahwa penentuan juara jangan hanya didasarkan pada kemampuan akademis semata.

“Persoalannya adalah bagaimana caranya kita mengetahui kemampuan non akademis peserta besok,” tanya pimpinan rapat mencari solusi.

Ketika yang lain nampak sedang berpikir, Yudi memberi masukan. “Menurut saya, kita siapkan semacam formulir biodata, yang memberikan ruang selebar-lebarnya bagi peserta, untuk menuliskan pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar yang pernah diikutinya, dan juga penghargaan-penghargaan yang pernah mereka terima, termasuk menyebutkan karya-karya mereka yang patut dihargai. Dan kita tidak perlu menuntut peserta untuk memperlihatkan bukti fisiknya pada tahap penyisihan besok. Kita dapat meminta peserta yang masuk nominasi tiga besar, untuk membawa bukti fisik itu pada saat wawancara keesokan harinya.”

“Saya setuju dan sekaligus menugaskan pak Yudi untuk mempersiapkan konsep formulirnya,” Pimpinan rapat memberikan persetujuan, sekaligus perintahnya.

Mendengar itu, Yudi tersentak kembali karena dia benar-benar tidak bisa hadir besok. Dalam kepalanya berkumpul semua perasaan. Yudi sungkan, dia takut, dan dia malu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“Sebelumnya, saya mohon maaf karena sebenarnya saya tidak bisa membantu rekan-rekan dalam pelaksanaan besok,” Yudi memberanikan diri dengan suara agak sedikit bergetar. “Professor saya sudah menjadwalkan, bahwa besok adalah waktunya Ujian Tengah Semester, dan saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Oleh karena itu, sepulang dari rapat ini, saya akan segera berangkat ke Bandung,” lanjut Yudi tanpa menyebutkan bahwa dia belum lulus mata kuliah ini. Yudi gagal dan harus mengulang lagi mata kuliah dari Professor ini, karena semester lalu dia tidak mengikuti Ujian Akhir Semester yang disebabkan sakit. Dan syarat lulus mata kuliah yang diberikan oleh Professor ini, adalah ikut presentasi, ikut UTS dan ikut UAS. Sepertinya, hanya Professor ini saja dari sekian puluh Professor yang ada di Program Pasca Sarjana tempat Yudi kuliah, yang menerapkan peraturan itu. Bila salah satu tidak diikuti, meskipun dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, maka mahasiswa yang bersangkutan harus memulainya lagi dari awal. “Di Amerika, waktu saya kuliah dulu, tidak ada dosen yang memberikan excuse, meskipun sakit. Tapi mereka tetap saja baik kepada mahasiswa. Dan mahasiswa pun menghormatinya,” begitu komentar Profesornya di depan mahasiswa yang lain ketika Yudi melaporkan ketidak ikut sertaannya dalam UAS semester lalu.

“Baiklah kalau begitu. Ujian harus dinomorsatukan,” komentar pak Kasubdin yang membuat wajah Yudi sedikit cerah. “Saya mohon bantuan Pak Nurdin dan Pak Fachrudin untuk menangani tugas Pak Yudi,” tambah pak Kasubdin tanpa menunggu jawaban, dan segera menutup rapat itu.

***

Seperti biasa, hari ini Yudi sudah berada di kampus, sebelum waktu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Seperti kebiasaannya pula, dia sudah menyantap sepiring kupat tahu seharga dua ribu rupiah di sebuah pasar ketika dalam perjalanannya menuju kampus tempatnya menimba ilmu. Pasar itu hanya berjarak delapan puluh meter dari kontrakan yang ia isi seminggu sekali.

Ketika beberapa teman kuliahnya sudah berdatangan, ada yang memberi khabar bahwa UTS tidak jadi dilaksanakan hari ini. Ada jadwal wawancara untuk calon mahasiswa baru. Dan memang, di papan pengumuman yang berada di sisi kanan tembok koridor lantai bawah, Yudi sudah melihat jadwal itu dipampangkan. Yudi tidak begitu yakin dengan berita yang didengarnya itu, karena sepengetahuannya, Professor ini sering lebih memilih memberikan kuliah, meskipun hanya tiga puluh menit, dari pada harus meninggalkannya sama sekali. Namun demikian, Yudi merasa sedikit agak kecewa. Dia menyesal, kenapa tidak menelpon temannya dahulu sebelum berangkat ke Bandung kemarin. Kenapa dia tidak mencari tahu tentang kepastian ada tidaknya kuliah hari ini. Namun logikanya sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Ah, tidak mungkin Professor yang selalu tepat waktu ini tidak hadir lagi hari ini. Selain hari ini adalah jadwal UTS yang beliau tetapkan sendiri, minggu lalu pun beliau sudah tidak masuk karena ada acara Wisuda,” begitu pikir Yudi ketika akan berangkat kemarin sore.

Setelah menunggu, kurang lebih dua puluh menit dari jadwal biasanya, akhirnya muncul Nyonya Professor, istri Professor yang Yudi tunggu. Nyonya Professor itu, bukan suruhan suaminya. Dia mempunyai jadwal sendiri, dan dia juga memegang mata kuliah keahliannya. Jadwal kuliah Ibu yang belum bergelar professor ini, sebenarnya jam sepuluh nanti, setelah jadwal suaminya berakhir. Tapi, karena memang mereka berdua sering bertukar jam mengajar, yang mereka rundingkan di rumah, kehadiran Ibu ini pada jam pertama belum mengurangi kecemasan Yudi yang mengkhawatirkan ketidakhadiran Professornya. Yudi tetap ingin tahu kebenaran berita yang ia terima dari temannya tadi.

Meskipun sebenarnya, Ibu Doktor yang berwajah mirip Krisdayanti, dan berpostur tubuh seperti Yuni Sarah ini, (sepadan dengan kegagahan dan kegantengan suaminya), biasanya menginformasikan sebab-sebab pertukaran jam di awal kuliahnya, Yudi tidak bisa menunggu lebih lama. Oleh karena itu, ketika sang dosen baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan, Yudi langsung menyongsongnya di muka pintu. Yudi memberondong Ibu ini dengan pertanyaan.

“Bu, saya dengar hari ini Bapak tidak masuk.”

“Betul, Beliau ke Surabaya.” Ibu Doktor menjawab sambil menahan langkah.

“Apakah Bapak menitipkan pelaksanaan UTS kepada IBU?” Yudi menginginkan penegasan.

“Tidak. Dan Bapak juga, sepengetahuan saya, tidak menyerahkannya kepada bagian Akademik. Beliau ke Surabaya,” jawab Ibu Doktor sambil menampakkan sikap bersahabat.

“Kalau begitu, saya mohon izin untuk tidak ikut sit in di kelas Ibu hari. Saya ada keperluan.” Yudi memohon izin untuk pergi. Biasanya, untuk menyeimbangkan antara waktu di perjalanan dengan keberadaannya di Bandung, Yudi sering mengikuti kuliah yang diberikan oleh Ibu Doktor ini, meskipun sebenarnya sudah lulus. Dia melakukannya untuk memantapkan teori-teori yang dia pelajari semester lalu.

“Silakan, silakan!” Ibu Doktor memberikan izin sambil berjalan ke meja depan, tempat biasanya ia duduk, sebelum mempersilakan presenter yang giliran maju.

Tanpa menunggu lama, dan dengan tergesa-gesa Yudi berjalan agak sedikit berlari menuju rumah kontrakannya. Sesampainya di rumah, Yudi meletakkan tas kuliahnya, mengambil tas pakaian, dan pergi dengan motornya, yang tadi tidak dia bawa ke kampus. Ketika berangkat tadi pagi, motor Yudi tidak bisa dikeluarkan karena terhalang oleh Feroza milik pengontrak lain yang bekerja di kantor Telkom.

Yudi terus memacu motornya. Seperti orang kesetanan, Yudi memacu Suzuki Tornadonya yang masih gres itu, dengan kecepatan tinggi. Jarak dari rumah ke rumah, yang biasanya dia tempuh selama kurang lebih lima jam, bila menggunakan kendaraan umum, mampu dia taklukkan dalam waktu tiga jam. Oleh karena itu, sebelum arloji di tangannya menunjukkan tepat pukul sebelas siang, Yudi sudah berada di lokasi pemilihan guru teladan, lokasi yang sedianya tidak akan dikunjungi.

Tanpa basa basi, Yudi langsung berbaur dengan panitia lain. Yudi langsung ikut makan, ketika dia lihat teman-temannya sedang makan. Yudi ikut ke ruangan, ketika temannya pergi ke ruangan untuk mengawasi test tertulis yang sedang diikuti peserta. Yudi juga ikut memeriksa hasil pekerjaan peserta, ketika panitia yang lain melakukannya. Dan acara, baru berakhir sekitar pukul empat sore. Seperti anggota panitia lainnya, Yudi pun pulang dengan sebuah amplop dari Bendahara, yang isinya ditaksir sama dengan yang lain. “Alhamdulillah,” ucapnya terdengar.

Cibinong, 25 April 2002

Pengalaman Baru

Oleh: Yusuf Efendy

Seperti biasa, setelah istrinya sampai di rumah dari tempatnya mengajar, Yudi bersiap-siap hendak pergi Ke Bandung. Namun, ketika melewati mesin cuci yang terletak di dekat pintu kamar mandi, Yudi mencium aroma busuk comberan dari pakaian yang sudah terendam lama.

Istrinya tidak sempat mencuci dulu sebelum ia berangkat bekerja. Dan itu artinya tugas Yudi lah untuk membereskannya. Oleh karena itu tanpa perintah dari siapapun, Yudi menghidupkan mesin cuci itu dan membiarkan cucian di dalamnya diputar-putar dengan tenaga turbo yang dimiliki mesin itu.

“Kok, baru dicuci?! Nasi sudah dimatengin belum?!,” tanya istrinya sambil menekan dan memutar ke sebelah kiri tombol kompor gas yang di atasnya terletak dandang berisi aronan nasi dalam kukusan. Yudi tidak menjawab pertanyaan itu karena dia pikir itu bukan pertanyaan. Yang Yudi lakukan adalah mengucek-ngucek pakaian di mesin cuci dan memasukkannya satu persatu ke tempat pengering di mesin itu. Yudi memutar tombol pengering dilanjutkan dengan tombol drain untuk mengosongkan mesin itu dari air deterjen yang sudah menimbulkan aroma bau. Tidak lama kemudian Yudi memasang selang dari kran air ke mesin cuci dan mengisinya sampai batas bertanda ‘H’. Dia keluarkan pakaian-pakaian dari tabung pengering dan memasukkannya lagi ke tempat penggilingan pakaian yang sudah berisi air bersih itu dan membiarkan pakaian-pakaian itu digiling lagi beberapa saat. Setelah itu dia masukkan lagi ke pengering, memutar tombol, dan dia tinggalkan pakaian yang sedang dikeringkan itu ke kamar mandi. Yudi masih di kamar mandi ketika tanpa isyarat dan tanpa komando istrinya mengambil dan mengeluarkan cucian itu dan membawanya ke luar untuk dijemur.

Selesai membersihkan tubuhnya, berpakaian dan melaksanakan shalat dzuhur, Yudi memasukkan ke dalam tas pakaian yang biasa ia bawa; satu stel pakaian, satu buah T-shirt dan satu celana pendek, serta dua stel pakaian dalam. Dia juga memasukkan ke dalam tasnya, sebuah helm yang hanya bisa dipakai untuk melindungi kepala dari sengatan matahari seperti yang banyak dijual orang di pinggiran jalan, dan sebuah pamplet di selembar kertas quarto yang ia buat dengan power point kemarin malam yang sekarang sudah dilaminating.

Yudi berangkat setelah sebelumnya makan siang dengan nasi yang baru saja tanak. Sisa ikan Mas yang digoreng istrinya kemarin sore masih mampu membangkitkan selera makannya.

Yudi akan ke Bandung dengan sepeda motor mengikuti rutinitasnya setiap Selasa siang menjelang sore. Setiap Rabu pagi, Yudi harus mengikuti kuliah karena semester lalu dia belum lulus untuk mata kuliah ini. Hanya saja, kepergiannya kali ini diilhami oleh sesuatu yang melintas dalam kepalanya ketika dia sedang dalam perjalanan pulang minggu yang lalu. Ya, dalam perjalanan pulang minggu lalu itu terlintas ide untuk mencari orang yang mau pergi ke Bandung atau ke tempat-tempat yang ia lalui dengan membonceng sepeda motor miliknya. Yudi ingin merangkap menjadi tukang ojeg. “Selain mendapat teman di perjalanan aku pun akan mendapat uang pengganti bensin. Sedangkan orang yang mau ikut dapat menghemat waktu perjalanan. Orang itu bisa langsung berangkat dan terbebas dari kemacetan,” pikir Yudi waktu itu sambil muka berseri-seri. Dia tidak mau keterlambatan beasiswa untuk biaya hidup yang sudah hampir satu bulan ia tunggu membuatnya agak sedikit repot.

Di dekat jembatan penyeberangan yang hanya berjarak tiga puluh meter dari terminal Baranang Siang Bogor, Yudi menepikan motornya. Di mulut jalan kecil depan gedung salah satu milik IPB yang agak teduh dengan rindangnya pepohonan di kiri kanan jalan itu terdapat tiga minibus Mitsubishi jurusan Cianjur yang sedang menunggu penumpang. Sedangkan minibus jurusan Sukabumi mencari dan menunggu penumpangnya di bawah jembatan penyeberangan. Yudi memarkir motornya di bagian pinggir sebuah trotoar. Dia keluarkan sebuah pamplet dari dalam tasnya dan dengan ragu-ragu dia kalungkan tali pamplet itu ke leher. Yudi berdiri di samping motornya dengan bertopikan helm dari tasnya untuk menghalangi sengatan matahari. Yudi tampak seperti mahasiswa baru yang sedang dipelonco atau seperti buruh pabrik yang sedang melakukan aksi menuntut kenaikan gaji. Yudi memperhatikan orang-orang yang baru turun dari angkot atau dari Miniarta. Mereka berjalan melewati Yudi ke arah terminal dengan menghindari jembatan penyeberangan yang ada. Karena itulah dia berdiri di situ dengan suatu keyakinan bahwa semua orang yang lewat di depannya pasti menuju terminal. Dan memang dengan memperhatikan semua orang yang lewat, Yudi hanya melihat seorang bapak tua, berpakaian hitam-hitam agak lusuh tanpa alas kaki dengan menggendong sebuah karung terigu kumal yang tidak tahu apa isinya, yang terus berjalan ke arah pintu jalan tol.

Yudi menunggu dan terus menunggu dengan keringat yang mulai menetes dari keningnya. Dia rogoh saku celananya dan dengan saputangan yang dia temukan dari kantong celananya itu dia usap lelehan keringat di kening, turun ke leher dan dia putar sapu tangan itu sampai ke kuduknya. Belum ada seorang pun yang mau ikut pergi. Bahkan belum ada seorang pun yang secara khusus berhenti di depannya dan membaca apa yang tertulis dan terpampang di dadanya. Ada satu dua orang yang mencoba membaca apa yang tertulis itu dari kejauhan, tapi ketika mata mereka beradu pandang dengan Yudi, bagaikan kilat mereka langsung mengalihkan perhatian ke tempat lain. Mungkin mereka menganggap Yudi sedang melakukan aksi damai dan menuntut sesuatu. Mereka tidak peduli dan tidak perlu bersusah-susah untuk mencari tahu karena hal-hal seperti itu sudah menjadi kegiatan dimana-mana sejak reformasi terjadi dan tentu saja itu bukan lagi perkara aneh. Atau mungkin mereka menganggap Yudi sebagai orang gila baru yang sekarang masih berpakaian bersih, rapi dan lengkap yang dengan lamanya waktu akan berubah seperti orang gila yang biasa melintas di tempat itu tanpa busana, berambut seperti bekas sumbu kompor minyak tanah dan kotor seperti kerbau dari kubangan, yang tentu saja baunya seperti segerobolan kecoak yang keluar dari bagian bawah WC yang sedang dibongkar.

Minibus ke Cianjur yang paling depan sudah dipenuhi penumpang dan siap berangkat. Sopir mobil berikutnya memajukan kendaraannya agak sedikit ke depan ke posisi yang ditinggalkan mobil pertama dan turun setelah mematikan mesin. Yudi berjalan mendekati sopir itu sambil berkata dengan bahasa Sunda, “Pak, punten ngiringan milarian panumpang?” “Naon eta?” tanya sopir itu sambil membaca yang terpampang di dada. Dia membaca tulisan itu. Bunyinya, “Mau coba naik motor? Ke Bandung Rp. 11.000. Ke Cianjur Rp. 6.000. Langsung Ngacir. Bebas Macet. Kecepatan bisa diatur.” “Naon maksudna?”, tanya sopir itu meminta penjelasan. “Kalau ada orang yang mau ke Bandung atau ke Cianjur bonceng motor saya siap membawanya dengan ongkos seperti ini”, jawab Yudi dengan penuh semangat. “Ooo, kalau gini mah hari libur coba!”, nasihat sopir itu sambil berjalan ke arah teman-teman yang tadi dia tinggalkan. Yudi merasa senang. Paling tidak dia tahu bahwa masih ada orang yang ingin tahu maksud kehadirannya di tempat itu.

Yudi kembali lagi ke tempat tadi dia berdiri. Masih belum didapat seorang pun penumpang. Kali ini, setiap ada yang lewat Yudi memanggil-manggil sambil menunjuk-nunjukkan telunjuk jari kanannya ke tulisan yang ada di dadanya. Memang hampir semua orang yang Yudi panggil meresponnya dengan menoleh, tapi mereka semuanya tetap terus berjalan tanpa peduli apa yang Yudi maksudkan.

Waktu sudah berlalu kurang lebih satu jam sejak dia pertama kali sampai di tempat itu. Mobil kedua pun kini sudah terisi penuh dan siap berangkat. Ketika Yudi berpikir betapa sulitnya mencari, meskipun hanya seorang, penumpang, dia teringat pertanyaan ‘naon maksudna’ yang dilontarkan sopir tadi. Bila sopir yang sudah membaca tulisan itu saja masih juga meminta penjelasan, bagaimana dengan yang belum atau tidak membaca? Yudi baru sadar bahwa cara yang dia lakukan tidak efektif untuk menyampaikan maksud yang ingin dia sampaikan. Oleh karena itu Yudi mencoba cara yang dia lihat dilakukan oleh para kondektur dan para calo minibus yang dari tadi beraksi. Bila Yudi melihat ada orang berjalan sendiri, baik pria maupun wanita yang ditaksir beratnya tidak lebih dari delapan puluh kilogram, dia mendekati orang itu sambil nyerocos Cianjur Bandung, Cianjur Bandung, yang tentu saja sambil ditinggalkan berlalu oleh orang-orang yang dia sapa. Ketika dia menawari Cianjur Bandung pakai motor, orang yang dia tawari hanya tersenyum. Dan ada juga yang ketika dia tawari Cianjur Bandung, orang itu mengatakan saya mau ke Jakarta. Yudi tidak mengejar orang ini dengan pertanyaan berikutnya karena itu bukan orang yang sedang dia cari dan orang itu juga mungkin tidak bermaksud untuk pergi ke Jakarta dengan diantar motor.

Hari semakin senja. Orang yang lewat semakin jarang. Frekuensi bulak balik menepi untuk berteduh dan mendekati orang yang lewat yang dilakukan Yudi sudah semakin kecil. Dan akhirnya setelah mobil ketiga siap-siap untuk berangkat meskipun belum terisi penuh, Yudi menghentikan usahanya. Yudi naiki sepeda motornya, dia hidupkan, dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Perasaan penasaran Yudi untuk mendapatkan penumpang belum meredup. Dia ingat teori-teori tentang keberhasilan seperti; jangan pernah menyerah, bila sudah tiga kali gagal coba sekali lagi anda pasti berhasil, jarak antara sukses dan gagal itu hanya beberapa detik atau hanya beberapa mili meter, anda akan berhasil kalau anda yakin berhasil, dan sebagainya dan sebagainya. Oleh karena itu ketika baru saja Yudi selesai memutar di jalan tol dan keluar lagi, karena semua kendaraan diarahkan kesana termasuk sepeda motor, dia masih menyusuri pinggiran jalan tempat orang-orang biasanya menunggu kendaraan. Persis di depan Hero yang berseberangan dengan mesjid besar Al-Ghifari, berdiri seorang perempuan berambut lurus yang mengenakan semacam sweater berwarna hijau tentara dan bercelana hitam sebetis sambil menyelendangkan tas dan menenteng bungkusan plastik putih yang agak digulung. Yudi memberhentikan motornya persis di depan gadis itu, membuka kaca helm, dan menyapanya. “Mbak, Cipanas, Cianjur, Bandung?” “Lewat sini terus, lurus sampai Ciawi. Nanti kalau disuruh muter lewat jalan tol di Ciawi, dari situ belok kiri jangan ambil lurus. Kalau lurus ke Sukabumi”, jawab gadis itu sedikit sopan. Tahu bahwa gadis itu bukan menjawab pertanyaannya, Yudi pergi sambil mengucapkan terima kasih.

Tidak lama menarik gas motornya Yudi sampai di daerah deretan rumah-rumah besar yang terhalang pohon-pohon yang rindang yang berseberangan dengan Hotel Ririn, hotel kelas melati yang berada di daerah lembah di sisi kanan jalan. Di depan gerbang pagar sebuah rumah duduk sambil bersandar di tembok pagar seorang perempuan berambut lurus yang ia ikat seperti ekor kuda, berkaus putih bergambar Donald bebek yang berlengan hijau muda, dan bercelana putih panjang sebetis. Sambil memperlambat laju motornya Yudi memperhatikan perempuan itu. Kurang lebih enam puluh meter dari tempat perempuan itu berada, masih dengan motor yang lambat, Yudi menoleh ke belakang bagian kiri ke tempat wanita itu duduk. Ketika itulah Yudi melihat wanita itu berdiri dan memandang ke arahnya. Yudi memberhentikan motornya dan ketika dia lihat wanita itu masih memandang ke arahnya, dia memutar lagi motornya untuk menghampiri perempuan itu. Tahu bahwa motor itu menghampirinya, wanita itu mendekat ke tepi jalan.

“Kemana? Puncak, Cipanas, Cianjur?” Yudi tetap di atas motor dan mengharap bahwa ini adalah buah dari kesabarannya.

“Ke Hotel.” Wanita itu berbisik genit sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Yudi. Dalam pikirannya terbayang bahwa ini adalah hidung belang pertama yang akan mengisi dompetnya yang tinggal berisi lima lembar ribuan plus dua buah coin lima ratusan yang ia sembunyikan di balik sepotong photo yang telah digunting sebesar kartu gaple yang terselip di sela-sela dompetnya.

“Hotel mana?” Yudi telah menduga profesi perempuan yang ada di sampingnya itu. “Kalau dia perempuan baik-baik, kenapa harus berbisik ke telingaku hanya untuk mengatakan hotel sebagai tujuannya,” pikir Yudi di dalam hati.

“Terserah Mas! Ada Monalisa, ada Mawar.” Perempuan itu tambah yakin bahwa rizkinya sudah di depan mata.

“Di daerah mana itu?” Yudi ingin tahu tempat yang biasanya dipakai berbuat begituan oleh para hidung belang dan penjaja daging sekerat ini.

“Tuh, di daerah situ.” Perempuan itu menunjuk arah yang akan Yudi lalui. “Di Monalisa tempatnya agak bersihan. Kalau di Mawar tempatnya agak kotor. Padahal harganya sama. Empat puluh lima ribu.” Perempuan itu memberi referensi tempat sambil ingin menunjukkan kepada Yudi bahwa ia orang yang memperhatikan kebersihan.

“Untuk kamunya berapa?” Yudi menyelidik sambil menyembunyikan apa yang ada di kepalanya. “Berapa sebenarnya harga sewa yang ditawarkan perempuan ini untuk sekerat daging miliknya yang seharusnya menjadi semahal harga diri itu?” Yudi bertanya di dalam hati.

“Terserah, Mas! Kalau saya sih mintanya seratus lima puluh. Mas mau ngasihnya berapa?” Perempuan itu bergelayut manja di pundak kiri Yudi sambil sedikit merebahkan badannya ke bagian kiri tubuh Yudi. “Kalau ditawar lima puluh ribu pun, karena sebagai penglaris, aku mau,” tambah perempuan itu di dalam hati.

“Masak siang-siang begini?” Yudi yang belum pernah melakukan itu dengan istrinya di siang hari selama perkawinannya yang menghasilkan tiga putra seperti sekarang ini membayangkan rasa yang lain.

“Kalau malam, sekarang tidak ada perempuan, Mas! Mereka takut kena razia. Polisi sering mengadakan razia.” Perempuan itu memberi alasan sambil menampakkan raut wajah yang membayangkan keadaan razia.

“Oh…, sangkain lebih enak.” Yudi tidak bisa memendam apa yang dia pikirkan sambil sedikit mesam mesem. “Kalau begitu kita ke Bandung aja, yuk!” Yudi berniat mengakhiri pertemuan itu. Dia tidak mau perempuan itu menyeretnya ke perbuatan yang menjadi penghambat diterimanya semua amal baik. Dia juga tidak mau uang di dompetnya yang hanya cukup untuk makan sehari di Bandung itu berpindah tangan. Dia justru mau bersusah-susah mencari penumpang seperti itu pun sebenarnya karena ingin mencari duit untuk sekedar beli bensin.

Keyakinan Yudi bahwa perempuan ini tidak akan mau diajak pergi selain ke hotel, membuatnya mampu mengucapkan ajakannya itu dengan sedikit mantap. Dan seperti dugaan Yudi, perempuan itu menolaknya sambil menunjukkan kekecewaan usahanya yang tidak berbuah duit. Sebagai trik pamungkas untuk memindah isi dompet Yudi, perempuan itu merengek manja minta diberi sekedar uang jajan.

“Kalau mau duit, makanya ikut ke Bandung,” bujuk Yudi sambil menginjak gigi satu dan menarik gas motornya ngeloyor pergi. Perempuan yang ditinggalkan itu bengong, tapi Yudi tidak peduli.

Yudi memacu motornya seperti orang kesetanan tanpa mengharap lagi ada penumpang yang mau ikut dengannya. Mobil terakhir yang tadi berangkat beberapa menit lebih dulu sudah dia lewati. Mobil kedua, dia jumpai di sekitar Rindu Alam Puncak. Dan ketika Yudi masuk Cipanas, mobil pertama baru hendak berjalan lagi setelah menurunkan atau menaikkan penumpang. Yudi membayangkan komentar para sopir dan mungkin penumpang yang tadi memperhatikan tingkah laku dan gerak geriknya di dekat jembatan penyeberangan depan terminal. Yudi tidak perduli sampai akhirnya dia tiba di Bandung bersamaan dengan berkumandangnya azan maghrib.

Cibinong, 2 Mei 2002