Perjalanan Pulang

Oleh: Yusuf Efendy

Yudi baru saja keluar dari ruangan. Pukul tujuh lebih sedikit tadi pagi dia dan teman-temannya mengikuti Ujian Tengah Semester. Sedangkan dua jam terakhir mereka selesai melakukan diskusi dengan tiga orang presenter dari teman-temannya sendiri.

Yudi berjalan meninggalkan ruangan tanpa menunggu dosen dan teman-temannya –yang sebenarnya adalah adik tingkatnya– keluar. Dia berjalan ke arah tangga sebelah Timur dan menapaki satu persatu anak tangga mulai dari lantai tiga itu sampai ke lantai dasar sambil agak sedikit berlari. Dia teruskan lari kecilnya sampai ke pintu tengah karena pintu samping, baik yang di bagian Timur maupun yang di bagian Barat, tidak pernah dibuka. Dia hampiri sepeda motor yang tadi diparkir di emperan gedung bekas laboratorium sebuah jurusan di Universitasnya. Dia hidupkan sepeda motornya. Dan dia susuri jalan yang sama dengan jalan yang ia lalui ketika tadi pagi masuk.

Setelah berhenti sebentar di mulut gerbang kampus yang berdekatan dengan Bank BNI untuk menyerahkan tanda parkir yang dia terima ketika masuk, Yudi menarik lagi pedal gas motornya berjalan ke arah ke luar dan membelokkannya ke sebelah kanan menyusuri jalan raya menurun dengan dua belokan. Dia turuni jalan itu dengan sesekali menginjak rem untuk menjaga motornya tidak nyelonong terlalu kencang.

Sekitar dua puluh meter lagi sampai di pertigaan, Yudi membawa motornya menepi. Dia naikkan motornya ke trotoar sebelah kanan jalan dan memberhentikannya persis di depan Rumah Makan Padang yang ada di seberang kampus Institut Pariwisata.

“Nasi putih aja dengan sop, seperti biasa!” Yudi mengarah ke meja tengah yang selalu ia tempati. “Tolong iriskan tomat dan ditaburi gula putih sedikit,” pinta Yudi pada pelayan berambut kribo yang selalu dia lihat berkaus hitam ketika menyodorkan segelas air minum dan air kobokan.

“Pakai sedikit susu seperti biasa, Pak?” Pelayan itu meminta penegasan.

“Ya. Terima kasih kalau sudah tahu apa yang sering saya minta!”

Memang, sejak maag-nya kambuh dan menyebabkannya tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester yang berakibat pada keharusannya mengikuti lagi mata kuliah yang sekarang dia ambil, Yudi tidak berani menyantap makanan bersantan, makanan yang pedas-pedas, dan gulai kambing (termasuk di dalamnya sate kambing dan gulai cincang). Dia tidak ingin mengulang lagi kuliah hanya karena dia tidak bisa menahan diri dari makanan-makanan seperti itu. Bila sakit pada saat giliran presentasi, mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi bila sakit itu terjadi pada saat UTS, apalagi UAS, itu benar-benar bisa membuat rencana studi menjadi kacau. Alasan sakit dengan keterangan dokter yang oleh dosen lain mungkin akan dipertimbangkan, tidak berlaku untuk Professor ini. “Tidak ikut salah satu berarti tidak ada nilai akhir, titik!” komentar Professornya ketika Yudi melaporkan ketidak-ikutsertaannya dalam UAS semester lalu.

Sepiring nasi putih dan semangkuk sop tulang iga sapi khas masakan padang terhidang di hadapan Yudi. Nasi berbentuk setengah tempurung kecil di atas piring dan mangkuk berisi tiga potong tulang yang dibalut daging yang mudah copot dan sebelah kentang mengundang selera makannya. Tanpa menunggu datangnya irisan tomat bertabur gula dan susu yang dipesannya, Yudi langsung melahap makanan itu dengan agak sedikit cepat.

Belum lagi nasinya habis, irisan tomat di piring sudah tersaji di meja. Tak lama setelah suapan terakhir nasi di piringnya dan meneguk setengah isi air putih di dalam gelas, Yudi mengaduk-aduk tomat di piring dan menyantapnya sendok demi sendok. Yudi pergi meninggalkan Rumah Makan itu setelah membayar delapan ribu lima ratus rupiah.

Yudi menyusuri pinggiran jalan bagian kanan yang sering terhalang oleh angkot hijau yang berhenti menurunkan penumpang, sebelum akhirnya masuk ke jalur jalan yang benar setelah berbelok ke sebelah kanan. Setelah melewati angkot-angkot kuning yang parkir menunggu penumpang dan Rumah Makan Bundo tempat ia biasanya makan malam, Yudi membelokkan sepeda motornya ke jalan yang persis berada di pojok ‘Sangkuriang’. Dari situ ke tempat kontrakannya hanya berjarak sekitar lima puluh meter. Oleh karena itu, tidak lama kemudian, Yudi sudah berada di kontrakan rumah bernomor dua belas.

Tidak banyak yang dilakukan Yudi di kamar kontrakannya. Dia hanya ke kamar mandi. Mengambil air wudlu. Shalat dzuhur dengan kain sarung yang ada di ujung dipannya. Selesai.

Dia tarik tas pakaian yang dia letakkan di kolong meja belajar. Dia lipat pakaian kotor yang tergantung di kastok belakang pintu. Memasukkannya ke dalam tas. Mengenakan T-shirt abu-abu bergaris hitam kecil dan jeans yang kemarin dia kenakan. Yudi keluar dari kamar setelah mengenakan sweater putih bercampur warna biru yang dilapisi dengan jaket tebal seperti berpakaian yang biasanya ia lakukan ketika hendak bepergian. Tentu saja Yudi sudah bersepatu dan mematikan lampu kamar. Yudi tinggalkan kamar itu sampai minggu berikutnya.

Yudi berangkat dengan mengambil jalan pintas. Dia tujukan motornya ke arah bila orang hendak ke Politeknik Negeri Bandung dan mengambil jalan yang turun menikung di pertigaan. Selanjutnya dia pindahkan gigi motornya ke gigi satu di daerah pemancingan untuk bersiap melawan tanjakan dengan ketinggian sekitar tujuh puluh derajat. Yudi terus melaju sampai akhirnya tiba di Cimahi dari arah Cihanjuang.

Meskipun Yudi sudah mengalami sendiri sulitnya mencari orang yang mau ngojeg ke tempat yang akan dilaluinya, dia masih ingin mencobanya lagi. “Kemarin tidak ada yang mau kan karena dari Bogor ke sini. Sekarang kan kebalikannya.” Yudi mencoba berargumentasi kepada dirinya sendiri. Memang, kemarin siang menjelang sore Yudi berada di depan terminal seperti orang gila. Belum lagi bila dia ingat tanggapan keliru seorang gadis yang diajak bonceng motor malah menunjukkan arah jalan ke Puncak, Cipanas, dan Cianjur. Dan pengalaman yang paling membuat dia kaget setengah mati kemarin adalah ketika seorang perempuan yang sebenarnya berpakaian tidak terlalu seronok mengajaknya ke hotel di siang bolong pada saat dia sendiri mencari penumpang untuk hanya sekedar uang bensin.

Kali ini Yudi akan menerapkan jurus ampuh yang dia peroleh melalui ilham yang dikirimkan Tuhan ke dalam kepalanya. Ya, Yudi akan selektif memilih calon penumpang yang akan dia tawari ikut. “Selain pria, tidak perlu ditawari. Itu pun harus dilihat secara seksama apakah orang itu benar-benar akan bepergian atau tidak,” pikir Yudi di dalam hati. “Aku pun harus menggunakan bahasa daerah orang sini yang memang sangat aku kuasai.” Yudi meneguhkan dirinya sendiri.

Sepanjang perjalanannya dari Cimahi sampai Padalarang, Yudi tidak menemukan orang dengan ciri-ciri yang ada di kepalanya. Oleh karena itu, dia terus melaju meskipun tidak terlalu kencang. Sepeda motornya hanya dipacu pada kecepatan di gigi tiga.

Persis di depan pom bensin Ciburui, Yudi menghentikan motornya. Di depannya berdiri seorang laki-laki setinggi seratus enam puluhan dan berat sekitar lima puluhan. Laki-laki ini berpakaian seperti seragam Departemen Perhubungan.

Setelah membuka helmnya, Yudi menyapa laki-laki itu. “Pak, ngantosan mobil kamana?”

“Ah, kadinya caket.”

“Kana ojeg kersa? Sawios ongkosna mah ongkos kana mobil. Kaleresan abdi bade ka Bogor.” Yudi mengajak laki-laki itu dengan ramah dan percaya diri. Dan ketika laki-laki itu dengan heran memandang Yudi dari ujung rambut ke ujung sepatu, dengan tangkas Yudi melanjutkan bujukannya. “Hayu akh supados enggal dugi!” Yudi menyodorkan helm yang sudah dia persiapkan.

Dengan agak sedikit ragu, laki-laki itu menerima helm yang disodorkan Yudi kepadanya dan naik ke atas motor. Mereka berjalan. Yudi merasa senang dan dia akan mencoba menggunakan cara seperti itu lagi kepada yang lainnya setelah laki-laki ini sampai di tempat tujuannya. Dan untuk melumat getaran keraguan yang dirasakan berasal dari laki-laki yang ada di belakangnya itu, Yudi berbasa-basi dengan menanyakan mau kemana, apakah pulang kerja atau mau berangkat kerja, dan meminta pendapat laki-laki itu tentang apa yang dia lakukan ini.

Tidak lama setelah melewati daerah Cipatat yang berbelok-belok seperti kelok ampek puluh ampek di daerah menjelang Danau Maninjau Sumatra Barat sana, Yudi diminta menepi. Laki-laki itu turun di seberang pom bensin pertama yang ada di sebelah kanan jalan. Sambil menyerahkan helm, Laki-laki itu memberi Yudi uang dua ribu lima ratus rupiah yang katanya sudah dilebihkan seribu rupiah. Yudi meneruskan perjalanan sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian ini.

Di daerah Ciranjang, mata Yudi mencari-cari. Tidak ada orang dengan ciri-ciri yang ada di kepalanya. Dia menarik lagi tali gas motornya dan mulai memacunya dalam kecepatan tinggi. Dia tidak memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu kendaraan selain yang berada di daerah-daerah ramai atau di persimpangan. Dengan begitu perjalanannya menjadi semakin cepat.

Yudi sampai di Cianjur. Dia lakukan pencarian seperti sebelumnya. Dia lagi-lagi tidak menemukan penumpang disana. Tapi, ketika baru saja melewati tikungan tapal kuda yang menjadi tanda telah dekatnya kota Cianjur bila datang dari arah Jakarta, Yudi melihat seorang pemuda berkemeja putih dan bercelana hitam berdiri di pinggir jalan. Dengan cara yang sama yang Yudi lakukan ketika membujuk penumpang pertama, pemuda itu ikut. Yudi menjalankan lagi sepeda motornya.

Ketika melewati pom bensin yang berada di sebelah kanan jalan, Yudi memperhatikan jarum penunjuk bahan bakar pada motornya. Jarum itu hampir menempel ke garis merah dengan tanda ‘E’. Yudi tidak membelokkan motornya ke pom bensin itu. Dia bermaksud mengisi bahan bakar di pom bensin satu lagi yang ada di kiri jalan tidak jauh di arah depannya. Ketika pom bensin yang dia maksud sudah terlihat di depan, Yudi mohon izin kepada penumpang di belakangnya untuk mampir sebentar. Penumpang itu tidak keberatan. Namun, ketika Yudi membelokkan motornya ke kiri, terdapat rantai besar terbentang menghalangi kendaraan yang mau masuk ke pom itu. Yudi tidak terlalu kecewa meskipun tidak jadi mengisi bensin, karena dia ingat bahwa masih terdapat satu lagi pom bensin yang tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Pom bensin itu terletak di kanan jalan di seberang pasar Cipanas. Yudi jalan lagi.

Di depan restaurant Simpang Raya yang terletak tidak jauh menjelang Istana Cipanas, Yudi diminta menghentikan motornya. Pemuda itu turun dengan memberikan uang seribu rupiah. Yudi bernyanyi-nyanyi kecil sambil menjalankan motornya. Kenyataan hari ini sangat berbeda dengan kemarin. Dua orang yang sudah ikut menumpang dengannya dalam perjalanan pulang ini menambah rasa percaya dirinya. Dan Yudi percaya bahwa sisa perjalanannya masih akan memberinya tambahan pembeli bensin.

Yudi sudah melewati pasar Cipanas. Di pinggir jalan sejajar dengan ujung pagar pemisah jalan, berdiri seorang lelaki. Dia berpakaian seperti orang kampung yang sedang pergi ke kota. Kemeja nya bermotif kotak-kotak berwarna coklat yang sudah agak pudar, dipasangkan dengan celana warna biru yang juga belel, ditambah alas kaki berupa sandal lily. Dari gerak gerik matanya terlihat bahwa dia sedang menunggu kendaraan. Oleh karena itu, meskipun secara teknis orang ini tidak memenuhi kriteria yang diharapkan menjadi penumpang, Yudi menawari lelaki itu tumpangan. “Ah, moal. Bade ngantosan heula rerencangan,” kata lelaki itu menyampaikan penolakannya. Yudi ingat isi buku pemasaran yang pernah dibacanya. “Jangan mudah percaya dengan jawaban ‘tidak’ ketika menawarkan sesuatu kepada calon konsumen.” Dan teori ini mendapat pembenaran. Ketika Yudi mengatakan ongkosnya terserah bapak, lelaki itu menyebutkan tiga ribu rupiah sampai Cisarua. Untuk memenuhi komitmen pada ucapannya sendiri, Yudi tanpa ragu mempersilakan lelaki itu naik. Dan mereka pun langsung berangkat.

Perasaan senang membuat Yudi lupa bahwa bensin yang ada di tangki sudah hampir mengering. Tapi, karena dia baru tersadar setelah mendekati Puncak Pas, Yudi tidak memilih kembali ke Cipanas. Kalaupun bensinnya habis di tengah jalan, Yudi tidak terlalu bingung. Setelah melewati Puncak Pas, perjalanan akan terus menurun. Dan sebelum jalan menurun itu habis di pintu tol Gadog, Yudi akan dapat menemukan tiga pom bensin yang dapat menyuplai bahan bakar motornya.

Suasana Puncak begitu menyenangkan. Sinar Matahari menebar di pucuk-pucuk daun teh yang terbentang luas. Kabut yang biasanya tampak di musim hujan tidak terlihat. Kendaraan yang lalu lalang tidak begitu ramai. Dan terdengar desahan lelaki di belakangnya yang sedang menikmati lenggak-lenggok sepeda motor yang seperti penari jaipong.

Sampai juga akhirnya penumpang ketiga ini di tujuannya. Setelah meminta Yudi berhenti di depan mesjid dekat pasar, lelaki itu memberi Yudi ongkos. Sesuai perjanjian, lelaki itu akan membayar tiga ribu rupiah. Oleh karena itu meskipun uangnya sepuluh ribuan, lelaki itu tetap meminta tujuh ribu sebagai uang kembalian.

Yudi meneruskan perjalanannya. Karena sudah dekat ke tempat tinggalnya, Yudi tidak berniat mencari lagi penumpang. Tiga orang penumpang sudah dianggapnya cukup sebagai permulaan. Yudi melewati sebuah pom bensin. Tapi, karena berada di kanan jalan, dia malas memotong jalan. Yudi seperti menantang tangki motornya, untuk sampai benar-benar kering. Tetapi, ketika Yudi temui pom bensin di sebelah kiri jalan, dia tidak berani bertaruh dengan tidak membelokkan motornya. Dan di pom bensin inilah Yudi mengisi tangki motornya.

“Penuh, Bang!” pinta Yudi pada petugas pompa. Setelah diisi penuh, angka rupiah yang tertera di mesin pompa menunjukkan enam ribu tujuh ratus lima puluh rupiah. Yudi merogoh uang di kantong celananya dan dia keluarkan uang sepuluh ribu yang ia terima dari penumpang terakhir. Setelah menerima uang kembalian yang hanya tiga ribu dua ratus rupiah, Yudi melanjutkan sisa perjalanan ke rumah nya.

Yudi sampai di rumah dengan selamat. Dan dia tersenyum sendiri ketika menghitung di dalam hati berapa rupiah uang yang dia keluarkan untuk memenuhi tangki motornya. “Dengan sedikit usaha, satu tangki bensin hanya seharga tiga ratus rupiah. Dan ini artinya tidak perlu khawatir dengan kenaikan BBM yang diumumkan setiap bulan,” gumamnya penuh semangat.

Cibinong, 4 Mei 2002.

Advertisements

Ide Dalam Tanda Petik

Oleh: Yusuf Efendy

“Mengarang itu gampang,” begitu kata Arswendo dengan judul bukunya. Aku setuju. Bahkan aku yakin bahwa mengarang bukan cuma gampang tetapi juga menyenangkan dan menghasilkan. Meskipun makna ungkapan itu baru aku rasakan setelah menanti selama tujuh belas tahun tahun!

***

Aku seorang sarjana. Namaku Yudi. Umur 38 tahun. Tinggi 157 cm. Rambutku lurus pendek. Muka bundar. Aku berkumis dan memiliki janggut yang aku bersihkan seminggu sekali. Pekerjaanku guru.

Aku mengajar di sebuah SMU Negeri. Anak-anak aku bimbing belajar Bahasa Inggris. Kemampuan mereka berbahasa Inggris menjadi tanggung jawabku. Aku harus membuat murid-muridku terampil menyimak semua yang berbahasa Inggris. Aku juga harus membuat mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Murid-muridku harus mahir membaca semua tulisan berbahasa Inggris, dan tentu saja mereka juga harus bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan, pendapat dan lain-lain dalam bahasa Inggris. Dari semua keterampilan yang harus diajarkan, keterampilan mereka menulis lebih mendapat perhatianku.

Untuk memupuk keterampilan murid-muridku menulis, aku sering meminta mereka untuk menuliskan apa yang mereka alami dan mereka lakukan pada saat liburan. Atau aku sering meminta mereka menuliskan pendapat, perasaan, tanggapan dan sejenisnya terhadap informasi yang mereka lihat, mereka dengar, atau yang mereka baca.

Jika aku melihat ada muridku yang tampak bingung mengerjakan perintahku, karena perintahnya sendiri memang sering tidak jelas, aku sering tanpa sadar mengucapkan kata-kata, ‘‘tulis saja apa yang ada dan lewat di kepalamu!” “Jangan takut salah, jangan takut ditertawakan, dan jangan takut tidak ada yang membaca.” Begitu aku sering memberi nasihat. Anehnya, aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang sering aku perintahkan kepada murid-muridku yang kebingungan itu.

Sekarang aku melakukannya. Aku akan menuliskannya. Dan aku akan menuliskan apa saja yang ada di kepalaku. Aku akan menceritakan apa yang aku pikirkan, ketika aku menyusuri belokan demi belokan jalan mendaki dengan sepeda motorku di kegelapan kabut suatu subuh di Puncak.

***

Hari ini aku bangun dini sekali. Suara kodok masih terdengar lamat-lamat dari pinggiran kali yang tidak terlalu jauh. Tidak ada kokok ayam. Tapi, suara burung tekukur Pak De Wagiman sesekali terdengar. Di luar hujan, meskipun tidak terlalu deras. Suara pak Haji yang biasa terdengar dari Mushalla di dekat rumah, yang biasanya muncul setengah jam sebelum waktu shalat subuh tiba, juga belum terdengar. Pak Husin, tetangga sebelah yang seorang pemilik sekaligus sopir angkot itu, belum memanaskan mesin angkotnya. Pak De Wagiman di depan rumah, belum berangkat ke pasar. Suara vespa tuanya yang menjadi tanda kepergiannya, belum terdengar ia nyalakan. Namun, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara speaker dari mesjid di kampung seberang kali Ciliwung. Meskipun demikian, suara hujan mampu memecah kesunyian malam.

Aku ke kamar mandi, mengambil air wudlu, kemudian shalat malam dua raka’at. Aku bangunkan istriku. Juga anak tertuaku yang sudah kelas enam SD. Kami bertiga makan sahur bersama dengan ikan ayam goreng Sukabumi yang sengaja aku beli sepulang mengawas Ujian Akhir Semester, mahasiswa Sekolah Tinggi tempatku biasa mencari tambahan uang belanja. Kami bermaksud melakukan puasa Sunnah Arafah sebelum Idul Adha tiba.

Selesai makan, anakku menyalakan Televisi. Dia mendapatkan acara yang selalu ingin dia tonton, pertandingan bola Liga Champion. Istriku melanjutkan tidurnya. Sedangkan aku sendiri membaca buku “Menulis dengan Emosi” yang baru aku beli kemarin.

Pukul empat tiga puluh, suara pak H. Kunkun membangunkan orang, terdengar dari Mushalla di dekat rumah.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihin nusuur. Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah. Waktu di Musholla At-Taqwa menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Sekali lagi, waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Waktu shubuh hari ini, jatuh pada pukul empat lewat tiga puluh delapan menit. Berarti masih ada waktu kurang lebih delapan menit lagi sebelum kita masuk ke waktu shubuh. Kepada Kaum Muslimin yang masih tidur, segeralah banguuun. Banguuun….! Ashsholatu Khoirum Minan Naum. Shalat itu lebih baik dari pada tidur. Bagi kaum muslimin yang ingin melaksanakan shalat subuh berjama’ah, harap bersiap-siap dan segeralah berangkat menuju Mushalla. Sekian terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Aku tutup buku yang sedang kubaca. Lalu aku ke kamar mandi. Adzan shubuh berkumandang ketika aku sedang mengguyur badan setelah memakai sabun. Selesai mandi aku pakai t-shirt, kupakai sarung, kuambil peci yang tersangkut di paku, kubentangkan sajadah. Aku melaksanakan shalat shubuh.

Setelah selesai, Aku ambil baju dan celana panjang yang tergantung. Kulipat. Kumasukkan ke dalam tas pakaian biru, yang biasa aku bawa. Kukenakan jinsku. Kupakai sweater. Kupakai jaketku yang bersleting sampai ke dagu. Kemudian kulapisi lagi dengan jaket hitam yang agak longgar. Kupakai sepatu setelah berkaus kaki. Kumasukkan kunci kontak. Kutaruh tas pakaian di lekukan antara stang dan jok. Kupakai helm. Kugunakan sarung tangan. Kukeluarkan Suzuki Tordano tahun 2000 kebanggaanku. Dan kuhidupkan.

Ketika aku menginjak gigi satu dan siap menarik gas, anakku yang bungsu bangun dan berteriak memanggilku dari dalam rumah. Dia meminta aku mengajaknya dulu mutar-mutar sebelum aku berangkat seperti biasanya. Aku ajak dulu dia memutari satu blok. Kemudian dia turun. Salim. Dan minta dicium.

Aku berangkat. Aku akan pergi ke Bandung. Setiap minggu aku memang harus pergi pulang ke Bandung dengan motorku. Aku belum selesai menjalani tugas belajar program S2. Naik bis sebenarnya jauh lebih nyaman. Apalagi, kalau naik Patas AC Executive. Lagi pula, uang beasiswa dari proyek yang aku terima, terhitung cukup untuk naik bis. Tapi, menurut hitunganku, dengan motor hanya menguras seperempat isi dompetku, dibandingkan kalau aku naik Bis Patas. Waktu tempuh pun relatif lebih cepat.

Kurang lebih satu kilometer aku meninggalkan rumah, hujan kembali turun rintik-rintik. Meskipun hujan hanya gerimis, kuputuskan untuk berhenti. Kubuka mantel hujanku dan kupakai, sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan. Aku terus melaju dalam remang lampu jalan yang belum dimatikan sambil menahan sakitnya tetes hujan yang mengenai mataku. Aku memang tidak memiliki jarak pandang yang cukup, bila kaca helmku aku turunkan.

Hujan baru reda setelah aku melewati Taman Safari. Persisnya di antara restaurant yang berbentuk pesawat dengan restaurant yang berbentuk kapal pinisi. Aku sengaja tidak melepas mantel hujanku. Aku mulai merasakan aroma dinginnya udara Puncak.

Baru saja aku memasuki Puncak, tepatnya di Gunung Mas, aku digulung kabut tebal. Udara dingin menembus lapis demi lapis jaketku, termasuk mantel hujanku. Aku merasakan dingin udara sampai ke tulang sum-sum. Tangan terasa kaku, kaki susah bergerak. Jarak pandang hanya sekitar dua meter. Lampu motor tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Kendaraan dari depan, baru tampak setelah di depan mata. Dan itu membuatku sering terkejut-kejut. Aku hanya bisa melaju dengan kecepatan 20 km/jam. Itupun harus aku lakukan dengan sering menahan napas. Terpaan angin yang kencang pada mantelku membuat motorku berjalan meliuk-liuk seperti penari ular. Dalam keadaan seperti itu aku membiarkan pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku sadar bahwa aku sudah sampai di Cianjur dan cuaca cukup terang.

***

Banyak yang terlintas di kepalaku saat aku berada di daerah Puncak. Aku ingat, bahwa aku kemarin baru saja mengambil jam tangan istriku, yang telah kutitipkan di service center Blok M lebih dari dua minggu. Aku ingat, bahwa aku lebih dari tiga kali, pergi pulang ke tempat itu hanya untuk membawa jam yang tidak sanggup bertahan lebih dari tiga hari setelah diperbaiki. Aku ingat tatapan penuh tanya, wanita-wanita penjaga show room di lantai bawah setiap kali aku lewat menyusuri tangga di sisi sebelah kanan. Aku ingat senyum manis pelayan bagian service, yang ia sunggingkan sesaat aku membelokkan badan ke bagian kiri setelah anak tangga terakhir. Aku ingat lambaian tangan Mas Yanto, si petugas service, dari balik kaca tembus pandang, tempat ia melakukan tugasnya.

Aku juga ingat, bahwa aku sengaja pergi hari itu ke blok M karena teman-teman istriku akan datang ke rumah. Aku ingat istriku bilang, bahwa bila aku ada di rumah ketika teman-temannya datang, mereka tidak akan merasa bebas. Aku ingat, bahwa istriku dan teman-temannya membuat buras (lontong isi) untuk acara hari ini di tempat mereka bekerja.

Aku ingat, bahwa sebelum pulang dari mengambil jam, aku mampir ke Gramedia. Aku ingat ketika aku pura-pura melihat-lihat sebelum akhirnya keluar lagi dari tempat alat tulis menulis di lantai bawah, karena aku salah masuk. Aku ingat tatapan curiga satpam toko itu ketika aku keluar lagi tanpa membeli apa-apa. Aku ingat bahwa aku meletakkan buku yang aku pilih di lantai dua, di tumpukan buku best seller, yang ada di lantai tiga. Aku ingat bahwa aku hanya membeli tiga buah buku seharga enam puluh ribuan.

Aku ingat, bahwa tadi malam aku selesai membaca buku kiat menulis cerpen. Aku ingat bahwa tadi malam aku bermimpi membuat cerpen yang bagus. Aku ingat bahwa aku masih mencari ide cerita untuk sebuah cerpen.

Dalam perjalanan itupun, aku mencoba merangkai kata-kata sebuah cerpen dalam imajinasiku. Aku membayangkan cerpenku dimuat di koran terkenal. Aku membayangkan bahwa aku, dengan penuh bangga, memperlihatkan cerpenku yang dimuat koran kepada dosen writing-ku. Aku juga membayangkan Professorku mengganti nilai writing-ku menjadi ‘A’.

Aku merasa puas. Ide yang aku cari untuk sebuah cerpen menampakkan wujudnya dalam perjalanan ini. Dan aku tidak merasakan dinginnya perjalanan itu.

Cibinong, Kamis, 21 Februari 2002

Kucing Itu

Oleh: Yusuf Efendy

Sekarang sudah hari ke sembilan. Yudi masih belum mengerti lewat mana kucing itu biasa masuk, jam berapa kucing itu biasanya masuk, dan apa yang merangsang kucing itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

Akhir-akhir ini Yudi kembali mengulang kebiasaannya bangun malam. Kebiasaan untuk melakukan sekedar dua raka’at shalat tahajud atau shalat sunnah hajat. Kebiasaan itu sebelumnya sudah terhenti agak lama. Apalagi setelah dia merasakan hidupnya sedikit agak senang. Tapi sekarang, dia merasakan bahwa kehidupannya agak sedikit oleng. Dia tidak dapat memberikan uang yang diminta istrinya meskipun hanya sepuluh ribu rupiah untuk belanja harian. Oleh karena itu dia sudi bangun malam untuk mengadukan persoalannya kepada sang Khalik sambil memohon solusi.

Malam itu Yudi bangun pukul dua lewat empat puluh lima menit. Ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu’, dan melakukan shalat di ruang tengah, persis di depan kamar tidur anaknya. Dia tidak melakukan shalat di kamar, tempat dia biasanya melakukan shalat sendiri di rumah. Dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya.

Setelah selesai mengadukan persoalan dan mengajukan permohonan untuk ditunjukkan solusi menghadapi sulitnya hidup, Yudi mengambil sebuah buku dari deretan buku yang ada dalam rak miliknya. Dia berjalan ke ruang tamu sambil menekan saklar lampu yang menempel di dinding, kurang lebih lima langkah dari tempat dia mengambil buku.

“Sialan!” Yudi memekik ketika seekor kucing melompat dari kursi tamu ke arah pintu depan, bersamaan dengan menyalanya lampu. Kucing berwarna hitam pekat sebesar bidak catur kreasi seniman Bali yang dimainkan di halaman sebuah hotel sebagai penarik wisatawan itu, menatap Yudi sambil menyiratkan permohonannya untuk dibukakan pintu. Yudi tidak memperhatikan apa jenis kelamin kucing yang membuatnya terperanjat itu.

Entah karena Yudi mengerti bahasa kucing atau karena dia ingin mengusir kucing itu keluar, tanpa diperintah Yudi membuka pintu depan. Seolah bahasanya dimengerti oleh manusia dihadapannya, tanpa pamit dan tanpa disuruh, kucing itu berjalan keluar dengan tenangnya. Kucing itu tidak berlari seperti kucing yang ketakutan. “Aku tahu dari tatapan matanya bahwa orang ini tidak galak,” mungkin begitu kira-kira yang ada di kepala kucing itu, sambil berlalu. Yudi menutup kembali pintu dan mulai membaca buku yang telah dipegangnya. Konsentrasi Yudi membaca terganggu oleh pertanyaan lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke dalam rumahnya. Yudi menduga bahwa kucing itu masuk lewat pintu depan ketika anaknya lupa menutup pintu saat keluar menemui temannya. Tujuannya paling-paling hanya untuk mencuri ikan asin, baik yang sudah digoreng maupun yang masih mentah, yang biasanya terdapat di dalam rumah.

Malam berikutnya kejadian kemarin berulang kembali. Yudi bangun, ke kamar mandi, melakukan shalat, mengambil buku dari rak, dan ke ruang tamu sambil menyalakan lampu. Melompat seekor kucing ke arah pintu depan, Yudi membuka pintu, kucing keluar, Yudi menutup pintu, dan duduk di kursi tamu untuk mulai membaca buku. Hanya saja, kali ini Yudi tidak mengeluarkan sumpah serapah seperti malam sebelumnya. Tapi, ketika Yudi baru hendak mulai membaca buku, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Yudi merasakan bahwa ion-ion rasa ketakutan sedang menjalar dalam sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar agak kencang dan sumsum tulang belakangnya terasa mendesak ke atas.

Yudi mengarahkan pandangannya ke ruang-ruang di bagian belakang. Dari ruang tamu tempat dia duduk, dia melihat ke arah kamar belakang di pojok sebelah kiri yang berfungsi seperti gudang. Kemudian ke arah kamar mandi dan ke arah dapur di sisi kanan. Semuanya lengang. Lampu lima watt di kamar belakang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang bergerak. Karena suasana malam itu sudah menjelang pagi, dan Yudi tahu bahwa anak-anak serta istrinya ada di rumah, rasa takutnya tidak sehebat seperti yang dia rasakan ketika sesuatu terjadi padanya sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi, kehadiran kucing misterius ini justru mengingatkannya pada kejadian tiga tahun yang lalu itu.

Waktu itu, Yudi baru pulang dari Banten dengan membawa mobil Suzuki Carry milik temannya. Malam sebenarnya belum begitu larut. Arloji di tangan Yudi menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit. Tapi demi kepraktisan dan setelah menelpon pemiliknya, mobil itu tidak dikembalikan kepada tuannya. Ketika mobil diparkir di depan rumah tetangga yang persis di depan rumahnya. Dari dalam mobil Yudi melihat dari dalam rumahnya seorang perempuan menyibakkan gorden dan memandang ke arahnya. Yudi dapat melihat bayangan itu dengan jelas karena di bagian tengah rumahnya, sebelum direnovasi seperti sekarang ini, terletak sebuah aquarium berlampu yang mampu memperjelas sosok seseorang di depannya.

Yudi mengunci pintu mobil dan memeriksa kaca-kaca jendela. Kemudian ia berjalan ke arah pintu rumah setelah menggeser pintu gerbang beroda yang biasa tidak terkunci. Tapi, ketika Yudi hendak masuk ke dalam rumah, dia merasa heran. Kenapa istrinya yang sudah tahu bahwa ia pulang tidak membukakan pintu. “Mungkin si Mamah menyangka bahwa yang bawa mobil itu bukan aku.” Yudi menduga apa yang ada di kepala istrinya. Dan ini logis. Selain Yudi tidak punya mobil, tempat mobil itu diparkir juga memperkuat dugaan ini. Oleh karena itu, tanpa harus mengetuk pintu, Yudi dapat membuka pintu itu dengan sebuah anak kunci yang selalu ia bawa dalam saku celananya.

Yudi masuk sambil mengucapkan salam yang tidak terlalu keras. Dan memang, maksud salam ini hanya sebagai etika memasuki rumah yang selalu ia jaga. Oleh karena itu, ketika salamnya tidak ada yang menjawab, Yudi tidak terlalu risau. Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk membuka pakaian. Ketika masuk ke dalam kamar sambil menyalakan lampu, Yudi tidak melihat istrinya tertidur di situ. “Mungkin si Mamah ikut tidur di kamar anak-anak,” pikir Yudi sambil melepas pakaian.

Yudi masuk ke kamar mandi yang pintunya berhadap-hadapan dengan pintu kamar tidurnya. Mengambil air wudlu’ lalu melaksanakan shalat isya yang belum sempat dilakukannya di perjalanan. Setelah selesai melakukan shalat dan berdoa sebentar, Yudi merasakan keanehan. Mengapa istrinya tidak menghampirinya di kamar depan? Apakah istrinya tidak terganggu oleh suara Yudi di kamar mandi ketika mengambil air wudlu? Tidak mungkin, jika istrinya tidak tahu bahwa dia sudah pulang. Bukankah sebentar tadi, istri Yudi sudah melihat kepulangannya lewat gorden? “Si Mamah dengan Anak-anak ingin menciptakan keceriaan rumah dengan bermain petak umpet.” Yudi menepis keanehannya.

Yudi bangkit. Melepaskan kain sarung yang ia kenakan ketika shalat, melipat sajadah yang tadi ia bentangkan, dan berjalan ke arah kamar anaknya. Yudi menyibakkan kain gorden di kamar anaknya dan menyalakan lampu. Yudi tidak menemukan kedua anaknya yang masih kecil-kecil, dan juga istrinya. “Jangan bercanda akh!” teriak Yudi sambil berjalan ke arah kamar belakang. Kamar ini sebelumnya merupakan kamar pembantu yang pernah bekerja untuk keluarga Yudi sebelum para pembantu itu berhenti.

Yudi mendorong pintu kamar yang tidak terkunci, dan menyalakan lampu kamar itu. Dia pun tidak menemukan anak-anak dan istrinya disana. “Enggak takut weeee!” teriak Yudi lagi sambil menuju pintu belakang. “Mereka pasti bersembunyi di luar rumah lewat pintu belakang,” pikir Yudi di dalam hati. Dan betapa terkejutnya Yudi ketika dia tahu bahwa pintu belakang masih terkunci rapat. Sambil agak sedikit berlari, Yudi kembali ke kamar depan. Dia tidak melihat siapapun disana, dan tidak terdengar cekikikan tanda kemenangan dalam permainan petak umpet.

Secepat kilat Yudi berlari ke ruang tamu, menyalakan lampu, dan membuka pintu depan sampai ternganga. Yudi berdiri di sisi luar pintu, merasakan detak jantung yang berdebar-debar kencang sambil memikirkan apa dan siapa yang tadi dia lihat menyibakkan gorden rumah.

Entah karena mendengar bunyi pintu dibuka, atau karena kebetulan, atau karena merasa dititipi pesan yang harus disampaikan, Bude Wagiman tetangga Yudi di depan rumah keluar sambil berkata. “Pak, Ibu dengan anak-anak tadi sore pergi ke Depok. Katanya mau nginap.” “Oh, … Terima kasih Bude,” kata Yudi sambil menyembunyikan rasa takutnya. Bude Wagiman masuk lagi ke dalam rumahnya setelah menyampaikan pesan itu tanpa bertanya ini itu.

Yudi masuk ke kamar, mengambil kunci mobil, dan keluar rumah dengan menutup dan mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. Lalu Yudi membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya, menutup pintu, dan merebahkan badanya di jok bagian tengah. Matanya tidak bisa terpejam.

Setelah tidak berhasil mencoba memejamkan mata di dalam mobil selama kurang lebih dua puluh satu menit, Yudi bangkit dan keluar dari dalam mobil itu. Kemudian, Yudi masuk ke dalam rumah, menyalakan semua lampu di seluruh ruangan, masuk ke dalam kamar tidur, mengunci pintu kamar itu, dan membaringkan tubuhnya di atas spring bed sambil menutupi bagian muka dan kepala dengan bantal sampai akhirnya ia pun tertidur.

Pengalaman yang Yudi alami tersebut membuat dia percaya bahwa di rumahnya juga tinggal sejenis makhluk halus sebangsa jin. Dan jauh sebelum komplek tempat rumahnya ramai dihuni orang, Yudi pernah mendengar suara-suara aneh seperti langkah orang berjalan, suara orang di kamar mandi, dan lain-lain ketika dia sesekali coba menginap di rumah ini sebelum mereka tempati seperti sekarang. Kehadiran kucing misterius ini mempertebal keyakinannya.

Malam berikutnya dan berikutnya lagi, kehadiran kucing itu terus berulang sampai malam kesembilan ini. Kucing itu tetap menyisakan tiga pertanyaan yang belum terjawab. Lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke rumah Yudi.

Cibinong, 28 April 2002