Sebuah Perjuangan

Oleh: Yusuf Efendy

Ruangan itu tidak terlalu luas. Dindingnya bercat putih seperti yang belum begitu lama dikerjakan. Ukurannya kurang lebih tiga kali empat meter. Di bagian luar sebelah atas tampak ujung gulungan rolling door. Sedangkan di bagian dalam sebelah kirinya ada sebuah pintu tertutup untuk jalan ke ruang bagian belakang. Bila melihat ke sisi itu terdapat white-board besar yang menutupi dua pertiga bagian atas tembok. Di tengah ruangan terdapat enam buah meja ‘Olimpic’ berwarna abu-abu muda, yang disusun melingkar, dengan dikelilingi dua belas kursi untuk pertemuan. Ruangan ini mungkin garasi mobil pemilik rumah sebelum disulap menjadi ruang rapat oleh sebuah kantor Dinas PEMDA Kota yang baru berusia tiga tahun.

Yudi duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu. Di sebelah kanan kirinya, duduk teman-temannya yang mantan juara. Ada yang mantan juara tingkat Nasional, ada yang mantan juara tingkat Propinsi seperti dirinya, dan ada juga yang hanya mantan juara tingkat Kabupaten atau Kota. Persis di hadapannya duduk seorang Kepala Sub Dinas yang juga mantan juara, sedang memimpin rapat. Yudi mengikuti rapat panitia pemilihan guru teladan tingkat Kota.

“Mohon ma’af, acara kita agak sedikit terlambat dimulai.” Pimpinan rapat membuka acara, sambil menyampaikan beberapa alasan keterlambatan acara itu.

“Pelaksanaan seleksi ini, tidak bisa ditunda lagi. Mau tidak mau, besok harus kita laksanakan. Ada dua alasan. Pertama, pendaftaran terakhir ke tingkat Propinsi adalah tanggal …(sambil mencari-cari tanggal yang dimaksud dalam surat pemberitahuan dari panitia tingkat Propinsi yang ada di hadapannya)… oh ya, hari kemarin. Ah, gampanglah itu, pelaksanaannya kan masih satu bulan lagi. Kedua, peringatan HUT Kota sudah di depan mata. Orang PEMDA sudah meminta nama-nama juara tingkat Kota kepada kita untuk diumumkan pada peringatan HUT itu,” lanjut pimpinan rapat, seperti rapat itu ingin cepat ia tinggalkan.

“Besok, aku tidak bisa,” kata Yudi di dalam hati.

“Ah, bagaimana aku mengatakannya? Bagaimana kira-kira, tanggapan teman-temanku nanti? Bagaimana pula reaksi pimpinan rapat, yang langsung atau tidak adalah atasanku, dan berpengaruh pada karirku, bila aku mengatakan bahwa aku tidak bisa hadir besok?” lanjut Yudi sambil menampakkan kerut dahi dan tatapan kosongnya.

“Nanti saja, setelah rapat aku akan berbisik kepada pak Kasubdin, sambil aku jelaskan semuanya mengapa aku tidak bisa datang,” pikir Yudi dengan kemantapan yang agak dipaksakan.

Pimpinan rapat mengecek kesiapan untuk pelaksanaan besok. Dia memulai, dengan menanyakan apakah soal-soal untuk besok sudah dipersiapkan. “Sudah, Pak! Hanya saja belum digandakan,” sahut seorang staf yang duduk di sebelah, yang tidak mantan juara.

“Bagaimana dengan tempat pelaksanaannya?” Pimpinan rapat mengecek.

“Siap, Pak!” jawab staf itu sambil menggaruk-garuk kepalanya dan sedikit tersenyum. “Nanti saya konfirmasi lagi dengan kepala sekolahnya.” Staf itu meyakinkan sang pimpinan rapat.

Setelah merasa tidak ada persoalan lain, pimpinan rapat mempersilakan yang hadir untuk memberikan masukan.

“Kita tidak boleh lupa, bahwa pemilihan guru teladan bukan pemilihan guru terpintar,” begitu kata pak Nurdin, salah seorang anggota panitia dengan suara sedikit ngebas, mengingatkan yang lain.

“Betul!” kata pak Fachrudin menimpali. Ia menambahkan, bahwa penentuan juara jangan hanya didasarkan pada kemampuan akademis semata.

“Persoalannya adalah bagaimana caranya kita mengetahui kemampuan non akademis peserta besok,” tanya pimpinan rapat mencari solusi.

Ketika yang lain nampak sedang berpikir, Yudi memberi masukan. “Menurut saya, kita siapkan semacam formulir biodata, yang memberikan ruang selebar-lebarnya bagi peserta, untuk menuliskan pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar yang pernah diikutinya, dan juga penghargaan-penghargaan yang pernah mereka terima, termasuk menyebutkan karya-karya mereka yang patut dihargai. Dan kita tidak perlu menuntut peserta untuk memperlihatkan bukti fisiknya pada tahap penyisihan besok. Kita dapat meminta peserta yang masuk nominasi tiga besar, untuk membawa bukti fisik itu pada saat wawancara keesokan harinya.”

“Saya setuju dan sekaligus menugaskan pak Yudi untuk mempersiapkan konsep formulirnya,” Pimpinan rapat memberikan persetujuan, sekaligus perintahnya.

Mendengar itu, Yudi tersentak kembali karena dia benar-benar tidak bisa hadir besok. Dalam kepalanya berkumpul semua perasaan. Yudi sungkan, dia takut, dan dia malu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.

“Sebelumnya, saya mohon maaf karena sebenarnya saya tidak bisa membantu rekan-rekan dalam pelaksanaan besok,” Yudi memberanikan diri dengan suara agak sedikit bergetar. “Professor saya sudah menjadwalkan, bahwa besok adalah waktunya Ujian Tengah Semester, dan saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Oleh karena itu, sepulang dari rapat ini, saya akan segera berangkat ke Bandung,” lanjut Yudi tanpa menyebutkan bahwa dia belum lulus mata kuliah ini. Yudi gagal dan harus mengulang lagi mata kuliah dari Professor ini, karena semester lalu dia tidak mengikuti Ujian Akhir Semester yang disebabkan sakit. Dan syarat lulus mata kuliah yang diberikan oleh Professor ini, adalah ikut presentasi, ikut UTS dan ikut UAS. Sepertinya, hanya Professor ini saja dari sekian puluh Professor yang ada di Program Pasca Sarjana tempat Yudi kuliah, yang menerapkan peraturan itu. Bila salah satu tidak diikuti, meskipun dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan, maka mahasiswa yang bersangkutan harus memulainya lagi dari awal. “Di Amerika, waktu saya kuliah dulu, tidak ada dosen yang memberikan excuse, meskipun sakit. Tapi mereka tetap saja baik kepada mahasiswa. Dan mahasiswa pun menghormatinya,” begitu komentar Profesornya di depan mahasiswa yang lain ketika Yudi melaporkan ketidak ikut sertaannya dalam UAS semester lalu.

“Baiklah kalau begitu. Ujian harus dinomorsatukan,” komentar pak Kasubdin yang membuat wajah Yudi sedikit cerah. “Saya mohon bantuan Pak Nurdin dan Pak Fachrudin untuk menangani tugas Pak Yudi,” tambah pak Kasubdin tanpa menunggu jawaban, dan segera menutup rapat itu.

***

Seperti biasa, hari ini Yudi sudah berada di kampus, sebelum waktu menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Seperti kebiasaannya pula, dia sudah menyantap sepiring kupat tahu seharga dua ribu rupiah di sebuah pasar ketika dalam perjalanannya menuju kampus tempatnya menimba ilmu. Pasar itu hanya berjarak delapan puluh meter dari kontrakan yang ia isi seminggu sekali.

Ketika beberapa teman kuliahnya sudah berdatangan, ada yang memberi khabar bahwa UTS tidak jadi dilaksanakan hari ini. Ada jadwal wawancara untuk calon mahasiswa baru. Dan memang, di papan pengumuman yang berada di sisi kanan tembok koridor lantai bawah, Yudi sudah melihat jadwal itu dipampangkan. Yudi tidak begitu yakin dengan berita yang didengarnya itu, karena sepengetahuannya, Professor ini sering lebih memilih memberikan kuliah, meskipun hanya tiga puluh menit, dari pada harus meninggalkannya sama sekali. Namun demikian, Yudi merasa sedikit agak kecewa. Dia menyesal, kenapa tidak menelpon temannya dahulu sebelum berangkat ke Bandung kemarin. Kenapa dia tidak mencari tahu tentang kepastian ada tidaknya kuliah hari ini. Namun logikanya sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. “Ah, tidak mungkin Professor yang selalu tepat waktu ini tidak hadir lagi hari ini. Selain hari ini adalah jadwal UTS yang beliau tetapkan sendiri, minggu lalu pun beliau sudah tidak masuk karena ada acara Wisuda,” begitu pikir Yudi ketika akan berangkat kemarin sore.

Setelah menunggu, kurang lebih dua puluh menit dari jadwal biasanya, akhirnya muncul Nyonya Professor, istri Professor yang Yudi tunggu. Nyonya Professor itu, bukan suruhan suaminya. Dia mempunyai jadwal sendiri, dan dia juga memegang mata kuliah keahliannya. Jadwal kuliah Ibu yang belum bergelar professor ini, sebenarnya jam sepuluh nanti, setelah jadwal suaminya berakhir. Tapi, karena memang mereka berdua sering bertukar jam mengajar, yang mereka rundingkan di rumah, kehadiran Ibu ini pada jam pertama belum mengurangi kecemasan Yudi yang mengkhawatirkan ketidakhadiran Professornya. Yudi tetap ingin tahu kebenaran berita yang ia terima dari temannya tadi.

Meskipun sebenarnya, Ibu Doktor yang berwajah mirip Krisdayanti, dan berpostur tubuh seperti Yuni Sarah ini, (sepadan dengan kegagahan dan kegantengan suaminya), biasanya menginformasikan sebab-sebab pertukaran jam di awal kuliahnya, Yudi tidak bisa menunggu lebih lama. Oleh karena itu, ketika sang dosen baru saja melangkahkan kakinya memasuki ruangan, Yudi langsung menyongsongnya di muka pintu. Yudi memberondong Ibu ini dengan pertanyaan.

“Bu, saya dengar hari ini Bapak tidak masuk.”

“Betul, Beliau ke Surabaya.” Ibu Doktor menjawab sambil menahan langkah.

“Apakah Bapak menitipkan pelaksanaan UTS kepada IBU?” Yudi menginginkan penegasan.

“Tidak. Dan Bapak juga, sepengetahuan saya, tidak menyerahkannya kepada bagian Akademik. Beliau ke Surabaya,” jawab Ibu Doktor sambil menampakkan sikap bersahabat.

“Kalau begitu, saya mohon izin untuk tidak ikut sit in di kelas Ibu hari. Saya ada keperluan.” Yudi memohon izin untuk pergi. Biasanya, untuk menyeimbangkan antara waktu di perjalanan dengan keberadaannya di Bandung, Yudi sering mengikuti kuliah yang diberikan oleh Ibu Doktor ini, meskipun sebenarnya sudah lulus. Dia melakukannya untuk memantapkan teori-teori yang dia pelajari semester lalu.

“Silakan, silakan!” Ibu Doktor memberikan izin sambil berjalan ke meja depan, tempat biasanya ia duduk, sebelum mempersilakan presenter yang giliran maju.

Tanpa menunggu lama, dan dengan tergesa-gesa Yudi berjalan agak sedikit berlari menuju rumah kontrakannya. Sesampainya di rumah, Yudi meletakkan tas kuliahnya, mengambil tas pakaian, dan pergi dengan motornya, yang tadi tidak dia bawa ke kampus. Ketika berangkat tadi pagi, motor Yudi tidak bisa dikeluarkan karena terhalang oleh Feroza milik pengontrak lain yang bekerja di kantor Telkom.

Yudi terus memacu motornya. Seperti orang kesetanan, Yudi memacu Suzuki Tornadonya yang masih gres itu, dengan kecepatan tinggi. Jarak dari rumah ke rumah, yang biasanya dia tempuh selama kurang lebih lima jam, bila menggunakan kendaraan umum, mampu dia taklukkan dalam waktu tiga jam. Oleh karena itu, sebelum arloji di tangannya menunjukkan tepat pukul sebelas siang, Yudi sudah berada di lokasi pemilihan guru teladan, lokasi yang sedianya tidak akan dikunjungi.

Tanpa basa basi, Yudi langsung berbaur dengan panitia lain. Yudi langsung ikut makan, ketika dia lihat teman-temannya sedang makan. Yudi ikut ke ruangan, ketika temannya pergi ke ruangan untuk mengawasi test tertulis yang sedang diikuti peserta. Yudi juga ikut memeriksa hasil pekerjaan peserta, ketika panitia yang lain melakukannya. Dan acara, baru berakhir sekitar pukul empat sore. Seperti anggota panitia lainnya, Yudi pun pulang dengan sebuah amplop dari Bendahara, yang isinya ditaksir sama dengan yang lain. “Alhamdulillah,” ucapnya terdengar.

Cibinong, 25 April 2002

Tanggal Dua Puluh

Oleh: Yusuf Efendy

Yudi sedang membersihkan head VCD. Ia berdiri menghadap VCD yang diletakkan di atas lemari TV, menyalakannya, menekan tombol open, meneteskan beberapa tetes alkohol ke CD cleaner yang sudah ia pegang, memasukkan CD cleaner itu, dan menekan tombol close dilanjutkan dengan menekan tombol play. Setelah kurang lebih dua menit, Yudi menekan tombol stop, lalu tombol open. Yudi menetesi lagi CD cleaner itu, dan melakukan proses pembersihan kedua.

Di luar, terdengar suara langkah sepatu yang sudah sangat ia kenal. Melalui kaca jendela ruang tamu, terlihat sosok istrinya, Nitya, menggerser pintu pagar, masuk ke teras rumah dan mengucapkan assalamu’alaikum, sambil langsung membuka pintu, yang memang biasa tidak terkunci. Nitya langsung ke kamar, meletakkan tas kerjanya, dan mengganti pakaian seperti biasanya, sebelum ia keluar lagi untuk makan siang.

“Sudah kamu bayar semua rekening bulan ini, yah?!” Nitya bertanya sambil mengambil piring.

“Belum. Ada beberapa rekening yang perlu ditunda,” jawab Yudi sambil terus mengutak-atik VCD di hadapannya.

“Kenapa?” Nitya meminta penjelasan sambil menyendok nasi dari Magic Jar.

“Duitnya engga cukup.” Yudi menjelaskan sambil mengecek gambar VCD tanpa menghidupkan suara.

“Tapi kan besok sudah tanggal dua puluh!” lanjut Nitya setelah kunyahan nasi yang baru ditelan.

“Iya, kalau duitnya kurang mau diapakan? Kita berdoa saja, mudah-mudahan besok dapat pinjaman,” jawab Yudi menenangkan istrinya.

Yudi sering tampak sedikit stress setiap tanggal menunjukkan angka dua puluh. Ini adalah tanggal terakhir pembayaran rekening, bila tidak ingin terkena denda. Maklum, selain sebagai guru Yudi pun berprofesi sebagai business man. Ia melayani semua jasa pembayaran seperti rekening telepon, rekening listrik, rekening air, dan pembayaran cicilan KPR. Orang sering meyebut profesi sampingannya itu dengan “Kolektor”.

“Memangnya, kurang berapa lagi?!” Nitya masih penasaran.

“Kurang lebih delapan ratus ribu.” Yudi sudah duduk di kursi tamu.

“Semuanya?!” desak Nitya sambil menghampiri Yudi.

“Belum juga sih. Rekening rumah kan masih kurang tiga ratus ribu lagi. Jadi, ya, kalau dijumlah, sekitar satu juta seratus.” Yudi memberikan total kekurangan rekening yang belum di bayar.

“Ya udah, kalau begitu kita jual saja sisa gelang saya, termasuk cincin kawin ini. Bayar semua rekening. Dan lunasi semua hutang kamu. Kartu Kredit jangan dipakai lagi. Kalau perlu dimatiin aja. Pusing saya kalau begini terus.” Nitya memberikan solusi.

Pikiran Yudi melayang-layang. Dia tidak tahu, apa yang ada di kepala istrinya sampai menawarkan solusi seperti itu. Yudi teringat, perhiasan istrinya yang pernah dia jual dulu pun belum terganti. Apalagi membelikan yang baru. Dan yang membuat Yudi semakin heran sebenarnya, kenapa istrinya ingin menjual perhiasan itu. Padahal semua perhiasan yang dimiliki istrinya itu, kecuali cincin kawin, merupakan jerih payah istrinya sendiri untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit.

Yudi mencoba untuk mengingat-ingat. Dia bertanya dalam hatinya, kenapa kehidupannya bisa jadi seruwet itu. Kenapa setiap tanggal dua puluh, jantungnya sering berdenyut kencang. Kenapa di saat seperti ini, kepalanya sering terasa sakit. Padahal, tahun lalu dia masih merasa happy-happy saja. Sekarangpun sebenarnya, orang lain, teman, sahabat, tetangga, dan semua saudaranya, masih melihat Yudi seperti orang yang tidak mempunyai beban seberat itu. Apa yang sebenarnya dia rasakan, tidak pernah terlihat atau tertangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Mungkin inilah, salah satu kelebihan Yudi sebagai guru. Dia terlatih untuk tidak menampakkan persoalan pribadi yang dia hadapi di depan murid-muridnya.

Akhirnya, Yudi menemukan pangkal persoalan yang dia hadapi sekarang. Dia menuduh mismanagement sebagai biang keladi semua ini. Persoalan yang membuatnya stress ini sebagai akibat kesalahan pengaturan. Dia salah mengatur keuangan keluarga. Dia tidak dengan sungguh-sungguh mengikuti Ulas Uang di Tabloid yang sering dibaca istrinya. Singkatnya, dia melakukan sesuatu, pada saat yang tidak tepat.

Selama ini, sebenarnya Yudi dikenal dengan positive thinker. Orang yang selalu berpikir positif. Yudi sadar bahwa segala hal terdiri dari campuran positif dan negatif. Hanya saja, bila kebanyakan orang di sekitarnya cenderung memperhatikan keburukan-keburukan, kejelekan-kejelekan, kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, dan semua hal negatif dari segala sesuatu, Yudi justru sebaliknya. Yudi lebih memperhatikan hal-hal positif dari sesuatu atau seseorang meskipun prosentasenya kecil. Dia jarang, kalau tidak mau dikatakan tidak pernah, menyalahkan keadaan. Apa lagi menyalahkan waktu untuk sebuah kegagalan. Dia ingat dari bukunya Stephen Covey yang terkenal itu bahwa orang yang mencari penyebab kegagalan di luar dirinya sendiri, tidak akan pernah menemukan solusi, karena persoalannya justru terletak pada cara dia memandang. Oleh karena itu, Yudi cukup gentleman untuk mengakui, bahwa ini semua adalah kesalahannya sendiri tanpa harus menyalahkan waktu atau tempat.

Meskipun begitu, Yudi mencoba mengurai persoalan yang menghimpitnya itu dengan urutan waktu.

Juli 2000. Yudi seperti juga teman-temannya, ‘melamar’ menjadi pegawai BPD (Bank Pembangunan Daerah), istilah yang digunakan teman-temannya untuk mengajukan pinjaman kredit bank dengan jaminan SK dan Taspen. Ada lagi istilah lain yang sudah menjadi ‘jargon’ mereka yaitu, ‘demi keamanan’ dari serangan rayap, sebaiknya semua SK yang kita miliki dititipkan di Bank. Entahlah, yang jelas hanya satu dua orang saja dari temannya, yang tidak menitipkan SK.

Entah karena petugasnya cekatan atau karena apa, proses pencairan pinjaman hanya memakan waktu dua hari. Mulai Yudi mendatangi BPD untuk meminta formulir, mengisinya, memintakan tanda tangan atasannya, mengumpulkan semua persyaratan, sampai kembali lagi untuk menyerahkan berkas yang sudah lengkap, hanya memakan waktu dua hari. Yudi mendapat pinjaman dua puluh juta rupiah tanpa banyak pertanyaan. Kepala Bagian Kredit di Bank tersebut, hanya memeriksa kelengkapan berkas dan kolom-kolom tanda tangan yang harus diisi, menyetujuinya, dan menyuruh Yudi untuk mengambil uangnya di kasir. Yudi tidak membawa uang itu. Tapi sejumlah uang telah dipindah bukukan ke dalam rekeningnya di Bank itu.

Entah terpikir atau tidak olehnya, bahwa uang yang baru cair itu sebenarnya hanya tersisa lima belas juta. Hal itu terjadi karena, tentu saja diperlukan biaya untuk administrasi, premi asuransi, tabungan wajib di bank tersebut, dan melunasi sisa pinjaman sebelumnya yang langsung dipotong dari uang yang baru saja dipinjam.

Entah terbayang atau tidak olehnya, bahwa mulai bulan depan, uang gaji bulanannya yang biasa ia terima dari bendaharawan gaji tempat ia bekerja, akan berkurang enam ratus ribu rupiah selama kurun waktu lima tahun.

“Tenang! Meskipun dipotong enam ratus ribu sebulan, toh honor tambahanku disini dan di tempat lain, bila dikumpul-kumpulkan, akan sampai juga lima ratus ribu,” kata Yudi di dalam hati ketika itu. “Lagi pula, istriku bukan tipe wanita yang sering mengeluhkan keterbatasan keuangan. Ia sendiri juga punya gaji sebagai PNS. Pokoknya tidak perlu khawatir.” Begitu pikir Yudi selanjutnya.

Sadar bahwa ia memiliki sejumlah uang di bank, Yudi mulai berpikir, mau dia apakan uang itu. “Aku perlu komputer.” Sesuatu melintas dalam pikirannya. Dia merasakan kerepotan yang berarti sejak komputer lamanya dijual. Dia tidak leluasa menggunakan komputer sekolah, meskipun tidak ada yang melarang. Ia malu dijuluki ‘kuncen’ sekolah, hanya karena ia terlihat masih di depan komputer, ketika teman-temannya satu persatu pulang setelah selesai mengerjakan tugas. Rasa takutnya mirip dengan ketakutan seorang tokoh politik beken yang tidak mau dituduh berpolitik dagang sapi dengan hanya menyapa lawan politiknya di suatu tempat terbuka. Atau mirip dengan ketakutan anak kecil yang menjerit-jerit dan bersembunyi di bawah tempat tidur ketika ondel-ondel lewat. Tak taulah.

“Dari pada uang habis tidak karuan, lebih baik kita gunakan memperbaiki rumah saja,” suatu waktu istrinya mengingatkan.

“Memperbaiki rumah itu perlu biaya banyak. Uang kita cuma tiga belas juta,” tegas Yudi memohon pertimbangan matang.

Rumah itu akhirnya diperbaiki. Semua sisa uang pinjaman yang ada di Bank Yudi habiskan. Seperti telah Yudi duga sebelumnya, rumah itu meminta uang yang lain. Oleh karena itu, sebuah Vespa Exclusive tahun sembilan tujuh, terpaksa Yudi jual dengan harga lima juta rupiah ke tempat jual beli motor bekas. Tanpa ditawar lagi, karena harganya sangat di bawah harga pasaran, Vespa itu langsung dibayar. Tidak cuma itu, HP yang selama ini menjadi alat komunikasi dan penambah gengsi itu, juga dilepas dengan harga yang sangat murah. Sebuah Nokia 5110, ditambah nomor cantik Simpati dengan voucher seratus ribu, plus nomor perdana Mentari dengan voucher dua ratus lima puluh ribu rupiah, hanya dihargai satu juta rupiah.

Sejak saat itulah, Yudi merasa agak grogi menghadapi tanggal dua puluh. Angka yang sebenarnya merupakan coretan hitam di kalender itu, baginya nampak seperti monster. Lewat tanggal itu dalam membayar rekening, berarti pengeluaran extra. “Kalau cuma satu rekening sih, dendanya hanya lima rebu perak. Tapi kalau harus didenda untuk seratus nomor, wah dari mana nombokinnya?” keluh Yudi suatu saat.

Tanggal dua puluh pun tiba. Yudi sudah bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Dia sudah berpakaian, sudah sarapan pagi, dan menyiapkan tas kerjanya.

“Nih, ada uang dua ratus dua puluh lima ribu rupiah yang bisa dipakai. Hari Senin nanti harus diganti,” kata Nitya sebelum Yudi berangkat kerja.

Dengan ketenangan yang dipaksakan Yudi berangkat ke tempat kerja. Yudi memang mempunyai Dewa Penolong di tempatnya bekerja. “Mudah-mudahan ibu Rokayah bisa meminjami aku uang,” bisiknya di dalam hati.

Yudi selalu merasakan ketenangan, bila ia ingat ibu Rokayah pada saat ia memiliki persoalan keuangan. Kebaikan orang yang satu ini, sudah terkenal di kalangan teman kerjanya, jauh sebelum ia menjabat Ketua Koperasi. Kapanpun Yudi memerlukan bantuan ia lebih sering memintanya kepada Ibu yang satu ini. Dan seingat Yudi, dia belum pernah kecewa. Setiap kali Yudi membutuhkannya, setiap kali itu juga dia mendapatkannya. Mungkin, ini merupakan buah dari kebiasaannya memegang janji. Yudi tidak pernah melanggar janji untuk mengembalikan uang, terlebih-lebih pada ibu Rokayah. Bahkan, pernah, untuk menepati janjinya pada ibu Rokayah, suatu waktu dulu, Yudi meminjamkannya dulu dari orang lain karena belum punya uang untuk membayar.

Yudi baru saja selesai mengajar dua jam pelajaran. Yudi kembali ke ruang guru. Dia harus mengajar lagi pada jam kelima dan keenam. Dia mempunyai waktu kosong dua jam pelajaran.

Di ruang guru berukuran delapan kali sepuluh meter, mata Yudi mencari-cari. Dia arahkan pandangannya ke semua meja, meskipun dia tahu dimana meja kerja orang yang sedang dia cari. Siapa lagi yang ia cari kalau bukan ibu Rokayah, satu-satunya orang yang mampu membuat detak jantungnya normal kembali.

Tidak ditemuinya di ruangan itu, Yudi pun mencari ke ruang TU, ruang yang berada di bagian depan gedung sekolah, bersanding dengan ruang Kepala Sekolah. Dia tahu, bahwa ibu yang satu ini dekat dengan semua orang, termasuk dengan karyawan TU. Yudi senang, ketika melihat sosok yang ia cari, berada di dekat pintu. Meskipun tampak dari samping, Yudi tahu betul, bahwa itu adalah orang yang benar-benar sedang ia butuhkan.

“Bu Yayah,” sapa Yudi dengan suara yang agak dipelankan. Dia tidak ingin suaranya menarik perhatian orang lain, meskipun orang lain tahu bahwa berurusan dengan ibu Yayah berarti urusan uang.

Seperti biasanya, ibu Rokayah yang ia panggil Yayah itu, sudah dapat menerka ujung sapaan Yudi.

“Berapa?” tanya ibu Rokayah sebelum Yogi berkata lebih lanjut sambil menampakkan senyum pengertiannya. Yudi menjawab dengan membuka secara reflek kepalan tangannya, sambil melihat reaksi ibu Rokayah, yang tidak perlu menghitung lagi, berapa jumlah jari kanan yang Yudi acungkan.

“Waah, duitnya mau dipakai dulu,” jawab ibu Rokayah yang membuat Yudi agak sedikit tersentak. Seperti tahu kebingungan yang dihadapi temannya, ibu Rokayah melanjutkan kalimatnya. “Tunggu, kayaknya di Ibu Euis, ada uang yang bisa dipergunakan. Kemarin, dia lapor ada duit dana sosial,” kata ibu Rokayah sambil pergi meninggalkan Yogi. Ibu Euis yang dimaksud adalah seorang karyawan TU, yang mengurusi keuangan di sekolah itu, termasuk uang dana sosial yang dikumpulkan dari sumbangan guru atau siswa.

Tidak lama waktu yang dibutuhkan ibu Rokayah, untuk mericek informasi yang dia dengar kemarin. Disamping orang yang punya informasi ada di tempat, jaraknya pun hanya sepuluh meter dari tempat ia berdiri. “Ada,” kata ibu Rokayah dari kejauhan. Dan serta merta wajah Yudi pun tampak berseri kembali. “Alhamdulillah,” bisiknya penuh kekhusukan.

Cibinong, 21 April 2001.