Pengalaman Baru

Oleh: Yusuf Efendy

Seperti biasa, setelah istrinya sampai di rumah dari tempatnya mengajar, Yudi bersiap-siap hendak pergi Ke Bandung. Namun, ketika melewati mesin cuci yang terletak di dekat pintu kamar mandi, Yudi mencium aroma busuk comberan dari pakaian yang sudah terendam lama.

Istrinya tidak sempat mencuci dulu sebelum ia berangkat bekerja. Dan itu artinya tugas Yudi lah untuk membereskannya. Oleh karena itu tanpa perintah dari siapapun, Yudi menghidupkan mesin cuci itu dan membiarkan cucian di dalamnya diputar-putar dengan tenaga turbo yang dimiliki mesin itu.

“Kok, baru dicuci?! Nasi sudah dimatengin belum?!,” tanya istrinya sambil menekan dan memutar ke sebelah kiri tombol kompor gas yang di atasnya terletak dandang berisi aronan nasi dalam kukusan. Yudi tidak menjawab pertanyaan itu karena dia pikir itu bukan pertanyaan. Yang Yudi lakukan adalah mengucek-ngucek pakaian di mesin cuci dan memasukkannya satu persatu ke tempat pengering di mesin itu. Yudi memutar tombol pengering dilanjutkan dengan tombol drain untuk mengosongkan mesin itu dari air deterjen yang sudah menimbulkan aroma bau. Tidak lama kemudian Yudi memasang selang dari kran air ke mesin cuci dan mengisinya sampai batas bertanda ‘H’. Dia keluarkan pakaian-pakaian dari tabung pengering dan memasukkannya lagi ke tempat penggilingan pakaian yang sudah berisi air bersih itu dan membiarkan pakaian-pakaian itu digiling lagi beberapa saat. Setelah itu dia masukkan lagi ke pengering, memutar tombol, dan dia tinggalkan pakaian yang sedang dikeringkan itu ke kamar mandi. Yudi masih di kamar mandi ketika tanpa isyarat dan tanpa komando istrinya mengambil dan mengeluarkan cucian itu dan membawanya ke luar untuk dijemur.

Selesai membersihkan tubuhnya, berpakaian dan melaksanakan shalat dzuhur, Yudi memasukkan ke dalam tas pakaian yang biasa ia bawa; satu stel pakaian, satu buah T-shirt dan satu celana pendek, serta dua stel pakaian dalam. Dia juga memasukkan ke dalam tasnya, sebuah helm yang hanya bisa dipakai untuk melindungi kepala dari sengatan matahari seperti yang banyak dijual orang di pinggiran jalan, dan sebuah pamplet di selembar kertas quarto yang ia buat dengan power point kemarin malam yang sekarang sudah dilaminating.

Yudi berangkat setelah sebelumnya makan siang dengan nasi yang baru saja tanak. Sisa ikan Mas yang digoreng istrinya kemarin sore masih mampu membangkitkan selera makannya.

Yudi akan ke Bandung dengan sepeda motor mengikuti rutinitasnya setiap Selasa siang menjelang sore. Setiap Rabu pagi, Yudi harus mengikuti kuliah karena semester lalu dia belum lulus untuk mata kuliah ini. Hanya saja, kepergiannya kali ini diilhami oleh sesuatu yang melintas dalam kepalanya ketika dia sedang dalam perjalanan pulang minggu yang lalu. Ya, dalam perjalanan pulang minggu lalu itu terlintas ide untuk mencari orang yang mau pergi ke Bandung atau ke tempat-tempat yang ia lalui dengan membonceng sepeda motor miliknya. Yudi ingin merangkap menjadi tukang ojeg. “Selain mendapat teman di perjalanan aku pun akan mendapat uang pengganti bensin. Sedangkan orang yang mau ikut dapat menghemat waktu perjalanan. Orang itu bisa langsung berangkat dan terbebas dari kemacetan,” pikir Yudi waktu itu sambil muka berseri-seri. Dia tidak mau keterlambatan beasiswa untuk biaya hidup yang sudah hampir satu bulan ia tunggu membuatnya agak sedikit repot.

Di dekat jembatan penyeberangan yang hanya berjarak tiga puluh meter dari terminal Baranang Siang Bogor, Yudi menepikan motornya. Di mulut jalan kecil depan gedung salah satu milik IPB yang agak teduh dengan rindangnya pepohonan di kiri kanan jalan itu terdapat tiga minibus Mitsubishi jurusan Cianjur yang sedang menunggu penumpang. Sedangkan minibus jurusan Sukabumi mencari dan menunggu penumpangnya di bawah jembatan penyeberangan. Yudi memarkir motornya di bagian pinggir sebuah trotoar. Dia keluarkan sebuah pamplet dari dalam tasnya dan dengan ragu-ragu dia kalungkan tali pamplet itu ke leher. Yudi berdiri di samping motornya dengan bertopikan helm dari tasnya untuk menghalangi sengatan matahari. Yudi tampak seperti mahasiswa baru yang sedang dipelonco atau seperti buruh pabrik yang sedang melakukan aksi menuntut kenaikan gaji. Yudi memperhatikan orang-orang yang baru turun dari angkot atau dari Miniarta. Mereka berjalan melewati Yudi ke arah terminal dengan menghindari jembatan penyeberangan yang ada. Karena itulah dia berdiri di situ dengan suatu keyakinan bahwa semua orang yang lewat di depannya pasti menuju terminal. Dan memang dengan memperhatikan semua orang yang lewat, Yudi hanya melihat seorang bapak tua, berpakaian hitam-hitam agak lusuh tanpa alas kaki dengan menggendong sebuah karung terigu kumal yang tidak tahu apa isinya, yang terus berjalan ke arah pintu jalan tol.

Yudi menunggu dan terus menunggu dengan keringat yang mulai menetes dari keningnya. Dia rogoh saku celananya dan dengan saputangan yang dia temukan dari kantong celananya itu dia usap lelehan keringat di kening, turun ke leher dan dia putar sapu tangan itu sampai ke kuduknya. Belum ada seorang pun yang mau ikut pergi. Bahkan belum ada seorang pun yang secara khusus berhenti di depannya dan membaca apa yang tertulis dan terpampang di dadanya. Ada satu dua orang yang mencoba membaca apa yang tertulis itu dari kejauhan, tapi ketika mata mereka beradu pandang dengan Yudi, bagaikan kilat mereka langsung mengalihkan perhatian ke tempat lain. Mungkin mereka menganggap Yudi sedang melakukan aksi damai dan menuntut sesuatu. Mereka tidak peduli dan tidak perlu bersusah-susah untuk mencari tahu karena hal-hal seperti itu sudah menjadi kegiatan dimana-mana sejak reformasi terjadi dan tentu saja itu bukan lagi perkara aneh. Atau mungkin mereka menganggap Yudi sebagai orang gila baru yang sekarang masih berpakaian bersih, rapi dan lengkap yang dengan lamanya waktu akan berubah seperti orang gila yang biasa melintas di tempat itu tanpa busana, berambut seperti bekas sumbu kompor minyak tanah dan kotor seperti kerbau dari kubangan, yang tentu saja baunya seperti segerobolan kecoak yang keluar dari bagian bawah WC yang sedang dibongkar.

Minibus ke Cianjur yang paling depan sudah dipenuhi penumpang dan siap berangkat. Sopir mobil berikutnya memajukan kendaraannya agak sedikit ke depan ke posisi yang ditinggalkan mobil pertama dan turun setelah mematikan mesin. Yudi berjalan mendekati sopir itu sambil berkata dengan bahasa Sunda, “Pak, punten ngiringan milarian panumpang?” “Naon eta?” tanya sopir itu sambil membaca yang terpampang di dada. Dia membaca tulisan itu. Bunyinya, “Mau coba naik motor? Ke Bandung Rp. 11.000. Ke Cianjur Rp. 6.000. Langsung Ngacir. Bebas Macet. Kecepatan bisa diatur.” “Naon maksudna?”, tanya sopir itu meminta penjelasan. “Kalau ada orang yang mau ke Bandung atau ke Cianjur bonceng motor saya siap membawanya dengan ongkos seperti ini”, jawab Yudi dengan penuh semangat. “Ooo, kalau gini mah hari libur coba!”, nasihat sopir itu sambil berjalan ke arah teman-teman yang tadi dia tinggalkan. Yudi merasa senang. Paling tidak dia tahu bahwa masih ada orang yang ingin tahu maksud kehadirannya di tempat itu.

Yudi kembali lagi ke tempat tadi dia berdiri. Masih belum didapat seorang pun penumpang. Kali ini, setiap ada yang lewat Yudi memanggil-manggil sambil menunjuk-nunjukkan telunjuk jari kanannya ke tulisan yang ada di dadanya. Memang hampir semua orang yang Yudi panggil meresponnya dengan menoleh, tapi mereka semuanya tetap terus berjalan tanpa peduli apa yang Yudi maksudkan.

Waktu sudah berlalu kurang lebih satu jam sejak dia pertama kali sampai di tempat itu. Mobil kedua pun kini sudah terisi penuh dan siap berangkat. Ketika Yudi berpikir betapa sulitnya mencari, meskipun hanya seorang, penumpang, dia teringat pertanyaan ‘naon maksudna’ yang dilontarkan sopir tadi. Bila sopir yang sudah membaca tulisan itu saja masih juga meminta penjelasan, bagaimana dengan yang belum atau tidak membaca? Yudi baru sadar bahwa cara yang dia lakukan tidak efektif untuk menyampaikan maksud yang ingin dia sampaikan. Oleh karena itu Yudi mencoba cara yang dia lihat dilakukan oleh para kondektur dan para calo minibus yang dari tadi beraksi. Bila Yudi melihat ada orang berjalan sendiri, baik pria maupun wanita yang ditaksir beratnya tidak lebih dari delapan puluh kilogram, dia mendekati orang itu sambil nyerocos Cianjur Bandung, Cianjur Bandung, yang tentu saja sambil ditinggalkan berlalu oleh orang-orang yang dia sapa. Ketika dia menawari Cianjur Bandung pakai motor, orang yang dia tawari hanya tersenyum. Dan ada juga yang ketika dia tawari Cianjur Bandung, orang itu mengatakan saya mau ke Jakarta. Yudi tidak mengejar orang ini dengan pertanyaan berikutnya karena itu bukan orang yang sedang dia cari dan orang itu juga mungkin tidak bermaksud untuk pergi ke Jakarta dengan diantar motor.

Hari semakin senja. Orang yang lewat semakin jarang. Frekuensi bulak balik menepi untuk berteduh dan mendekati orang yang lewat yang dilakukan Yudi sudah semakin kecil. Dan akhirnya setelah mobil ketiga siap-siap untuk berangkat meskipun belum terisi penuh, Yudi menghentikan usahanya. Yudi naiki sepeda motornya, dia hidupkan, dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Perasaan penasaran Yudi untuk mendapatkan penumpang belum meredup. Dia ingat teori-teori tentang keberhasilan seperti; jangan pernah menyerah, bila sudah tiga kali gagal coba sekali lagi anda pasti berhasil, jarak antara sukses dan gagal itu hanya beberapa detik atau hanya beberapa mili meter, anda akan berhasil kalau anda yakin berhasil, dan sebagainya dan sebagainya. Oleh karena itu ketika baru saja Yudi selesai memutar di jalan tol dan keluar lagi, karena semua kendaraan diarahkan kesana termasuk sepeda motor, dia masih menyusuri pinggiran jalan tempat orang-orang biasanya menunggu kendaraan. Persis di depan Hero yang berseberangan dengan mesjid besar Al-Ghifari, berdiri seorang perempuan berambut lurus yang mengenakan semacam sweater berwarna hijau tentara dan bercelana hitam sebetis sambil menyelendangkan tas dan menenteng bungkusan plastik putih yang agak digulung. Yudi memberhentikan motornya persis di depan gadis itu, membuka kaca helm, dan menyapanya. “Mbak, Cipanas, Cianjur, Bandung?” “Lewat sini terus, lurus sampai Ciawi. Nanti kalau disuruh muter lewat jalan tol di Ciawi, dari situ belok kiri jangan ambil lurus. Kalau lurus ke Sukabumi”, jawab gadis itu sedikit sopan. Tahu bahwa gadis itu bukan menjawab pertanyaannya, Yudi pergi sambil mengucapkan terima kasih.

Tidak lama menarik gas motornya Yudi sampai di daerah deretan rumah-rumah besar yang terhalang pohon-pohon yang rindang yang berseberangan dengan Hotel Ririn, hotel kelas melati yang berada di daerah lembah di sisi kanan jalan. Di depan gerbang pagar sebuah rumah duduk sambil bersandar di tembok pagar seorang perempuan berambut lurus yang ia ikat seperti ekor kuda, berkaus putih bergambar Donald bebek yang berlengan hijau muda, dan bercelana putih panjang sebetis. Sambil memperlambat laju motornya Yudi memperhatikan perempuan itu. Kurang lebih enam puluh meter dari tempat perempuan itu berada, masih dengan motor yang lambat, Yudi menoleh ke belakang bagian kiri ke tempat wanita itu duduk. Ketika itulah Yudi melihat wanita itu berdiri dan memandang ke arahnya. Yudi memberhentikan motornya dan ketika dia lihat wanita itu masih memandang ke arahnya, dia memutar lagi motornya untuk menghampiri perempuan itu. Tahu bahwa motor itu menghampirinya, wanita itu mendekat ke tepi jalan.

“Kemana? Puncak, Cipanas, Cianjur?” Yudi tetap di atas motor dan mengharap bahwa ini adalah buah dari kesabarannya.

“Ke Hotel.” Wanita itu berbisik genit sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Yudi. Dalam pikirannya terbayang bahwa ini adalah hidung belang pertama yang akan mengisi dompetnya yang tinggal berisi lima lembar ribuan plus dua buah coin lima ratusan yang ia sembunyikan di balik sepotong photo yang telah digunting sebesar kartu gaple yang terselip di sela-sela dompetnya.

“Hotel mana?” Yudi telah menduga profesi perempuan yang ada di sampingnya itu. “Kalau dia perempuan baik-baik, kenapa harus berbisik ke telingaku hanya untuk mengatakan hotel sebagai tujuannya,” pikir Yudi di dalam hati.

“Terserah Mas! Ada Monalisa, ada Mawar.” Perempuan itu tambah yakin bahwa rizkinya sudah di depan mata.

“Di daerah mana itu?” Yudi ingin tahu tempat yang biasanya dipakai berbuat begituan oleh para hidung belang dan penjaja daging sekerat ini.

“Tuh, di daerah situ.” Perempuan itu menunjuk arah yang akan Yudi lalui. “Di Monalisa tempatnya agak bersihan. Kalau di Mawar tempatnya agak kotor. Padahal harganya sama. Empat puluh lima ribu.” Perempuan itu memberi referensi tempat sambil ingin menunjukkan kepada Yudi bahwa ia orang yang memperhatikan kebersihan.

“Untuk kamunya berapa?” Yudi menyelidik sambil menyembunyikan apa yang ada di kepalanya. “Berapa sebenarnya harga sewa yang ditawarkan perempuan ini untuk sekerat daging miliknya yang seharusnya menjadi semahal harga diri itu?” Yudi bertanya di dalam hati.

“Terserah, Mas! Kalau saya sih mintanya seratus lima puluh. Mas mau ngasihnya berapa?” Perempuan itu bergelayut manja di pundak kiri Yudi sambil sedikit merebahkan badannya ke bagian kiri tubuh Yudi. “Kalau ditawar lima puluh ribu pun, karena sebagai penglaris, aku mau,” tambah perempuan itu di dalam hati.

“Masak siang-siang begini?” Yudi yang belum pernah melakukan itu dengan istrinya di siang hari selama perkawinannya yang menghasilkan tiga putra seperti sekarang ini membayangkan rasa yang lain.

“Kalau malam, sekarang tidak ada perempuan, Mas! Mereka takut kena razia. Polisi sering mengadakan razia.” Perempuan itu memberi alasan sambil menampakkan raut wajah yang membayangkan keadaan razia.

“Oh…, sangkain lebih enak.” Yudi tidak bisa memendam apa yang dia pikirkan sambil sedikit mesam mesem. “Kalau begitu kita ke Bandung aja, yuk!” Yudi berniat mengakhiri pertemuan itu. Dia tidak mau perempuan itu menyeretnya ke perbuatan yang menjadi penghambat diterimanya semua amal baik. Dia juga tidak mau uang di dompetnya yang hanya cukup untuk makan sehari di Bandung itu berpindah tangan. Dia justru mau bersusah-susah mencari penumpang seperti itu pun sebenarnya karena ingin mencari duit untuk sekedar beli bensin.

Keyakinan Yudi bahwa perempuan ini tidak akan mau diajak pergi selain ke hotel, membuatnya mampu mengucapkan ajakannya itu dengan sedikit mantap. Dan seperti dugaan Yudi, perempuan itu menolaknya sambil menunjukkan kekecewaan usahanya yang tidak berbuah duit. Sebagai trik pamungkas untuk memindah isi dompet Yudi, perempuan itu merengek manja minta diberi sekedar uang jajan.

“Kalau mau duit, makanya ikut ke Bandung,” bujuk Yudi sambil menginjak gigi satu dan menarik gas motornya ngeloyor pergi. Perempuan yang ditinggalkan itu bengong, tapi Yudi tidak peduli.

Yudi memacu motornya seperti orang kesetanan tanpa mengharap lagi ada penumpang yang mau ikut dengannya. Mobil terakhir yang tadi berangkat beberapa menit lebih dulu sudah dia lewati. Mobil kedua, dia jumpai di sekitar Rindu Alam Puncak. Dan ketika Yudi masuk Cipanas, mobil pertama baru hendak berjalan lagi setelah menurunkan atau menaikkan penumpang. Yudi membayangkan komentar para sopir dan mungkin penumpang yang tadi memperhatikan tingkah laku dan gerak geriknya di dekat jembatan penyeberangan depan terminal. Yudi tidak perduli sampai akhirnya dia tiba di Bandung bersamaan dengan berkumandangnya azan maghrib.

Cibinong, 2 Mei 2002

Advertisements

Ide Dalam Tanda Petik

Oleh: Yusuf Efendy

“Mengarang itu gampang,” begitu kata Arswendo dengan judul bukunya. Aku setuju. Bahkan aku yakin bahwa mengarang bukan cuma gampang tetapi juga menyenangkan dan menghasilkan. Meskipun makna ungkapan itu baru aku rasakan setelah menanti selama tujuh belas tahun tahun!

***

Aku seorang sarjana. Namaku Yudi. Umur 38 tahun. Tinggi 157 cm. Rambutku lurus pendek. Muka bundar. Aku berkumis dan memiliki janggut yang aku bersihkan seminggu sekali. Pekerjaanku guru.

Aku mengajar di sebuah SMU Negeri. Anak-anak aku bimbing belajar Bahasa Inggris. Kemampuan mereka berbahasa Inggris menjadi tanggung jawabku. Aku harus membuat murid-muridku terampil menyimak semua yang berbahasa Inggris. Aku juga harus membuat mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Murid-muridku harus mahir membaca semua tulisan berbahasa Inggris, dan tentu saja mereka juga harus bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan, pendapat dan lain-lain dalam bahasa Inggris. Dari semua keterampilan yang harus diajarkan, keterampilan mereka menulis lebih mendapat perhatianku.

Untuk memupuk keterampilan murid-muridku menulis, aku sering meminta mereka untuk menuliskan apa yang mereka alami dan mereka lakukan pada saat liburan. Atau aku sering meminta mereka menuliskan pendapat, perasaan, tanggapan dan sejenisnya terhadap informasi yang mereka lihat, mereka dengar, atau yang mereka baca.

Jika aku melihat ada muridku yang tampak bingung mengerjakan perintahku, karena perintahnya sendiri memang sering tidak jelas, aku sering tanpa sadar mengucapkan kata-kata, ‘‘tulis saja apa yang ada dan lewat di kepalamu!” “Jangan takut salah, jangan takut ditertawakan, dan jangan takut tidak ada yang membaca.” Begitu aku sering memberi nasihat. Anehnya, aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang sering aku perintahkan kepada murid-muridku yang kebingungan itu.

Sekarang aku melakukannya. Aku akan menuliskannya. Dan aku akan menuliskan apa saja yang ada di kepalaku. Aku akan menceritakan apa yang aku pikirkan, ketika aku menyusuri belokan demi belokan jalan mendaki dengan sepeda motorku di kegelapan kabut suatu subuh di Puncak.

***

Hari ini aku bangun dini sekali. Suara kodok masih terdengar lamat-lamat dari pinggiran kali yang tidak terlalu jauh. Tidak ada kokok ayam. Tapi, suara burung tekukur Pak De Wagiman sesekali terdengar. Di luar hujan, meskipun tidak terlalu deras. Suara pak Haji yang biasa terdengar dari Mushalla di dekat rumah, yang biasanya muncul setengah jam sebelum waktu shalat subuh tiba, juga belum terdengar. Pak Husin, tetangga sebelah yang seorang pemilik sekaligus sopir angkot itu, belum memanaskan mesin angkotnya. Pak De Wagiman di depan rumah, belum berangkat ke pasar. Suara vespa tuanya yang menjadi tanda kepergiannya, belum terdengar ia nyalakan. Namun, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara speaker dari mesjid di kampung seberang kali Ciliwung. Meskipun demikian, suara hujan mampu memecah kesunyian malam.

Aku ke kamar mandi, mengambil air wudlu, kemudian shalat malam dua raka’at. Aku bangunkan istriku. Juga anak tertuaku yang sudah kelas enam SD. Kami bertiga makan sahur bersama dengan ikan ayam goreng Sukabumi yang sengaja aku beli sepulang mengawas Ujian Akhir Semester, mahasiswa Sekolah Tinggi tempatku biasa mencari tambahan uang belanja. Kami bermaksud melakukan puasa Sunnah Arafah sebelum Idul Adha tiba.

Selesai makan, anakku menyalakan Televisi. Dia mendapatkan acara yang selalu ingin dia tonton, pertandingan bola Liga Champion. Istriku melanjutkan tidurnya. Sedangkan aku sendiri membaca buku “Menulis dengan Emosi” yang baru aku beli kemarin.

Pukul empat tiga puluh, suara pak H. Kunkun membangunkan orang, terdengar dari Mushalla di dekat rumah.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihin nusuur. Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah. Waktu di Musholla At-Taqwa menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Sekali lagi, waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Waktu shubuh hari ini, jatuh pada pukul empat lewat tiga puluh delapan menit. Berarti masih ada waktu kurang lebih delapan menit lagi sebelum kita masuk ke waktu shubuh. Kepada Kaum Muslimin yang masih tidur, segeralah banguuun. Banguuun….! Ashsholatu Khoirum Minan Naum. Shalat itu lebih baik dari pada tidur. Bagi kaum muslimin yang ingin melaksanakan shalat subuh berjama’ah, harap bersiap-siap dan segeralah berangkat menuju Mushalla. Sekian terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Aku tutup buku yang sedang kubaca. Lalu aku ke kamar mandi. Adzan shubuh berkumandang ketika aku sedang mengguyur badan setelah memakai sabun. Selesai mandi aku pakai t-shirt, kupakai sarung, kuambil peci yang tersangkut di paku, kubentangkan sajadah. Aku melaksanakan shalat shubuh.

Setelah selesai, Aku ambil baju dan celana panjang yang tergantung. Kulipat. Kumasukkan ke dalam tas pakaian biru, yang biasa aku bawa. Kukenakan jinsku. Kupakai sweater. Kupakai jaketku yang bersleting sampai ke dagu. Kemudian kulapisi lagi dengan jaket hitam yang agak longgar. Kupakai sepatu setelah berkaus kaki. Kumasukkan kunci kontak. Kutaruh tas pakaian di lekukan antara stang dan jok. Kupakai helm. Kugunakan sarung tangan. Kukeluarkan Suzuki Tordano tahun 2000 kebanggaanku. Dan kuhidupkan.

Ketika aku menginjak gigi satu dan siap menarik gas, anakku yang bungsu bangun dan berteriak memanggilku dari dalam rumah. Dia meminta aku mengajaknya dulu mutar-mutar sebelum aku berangkat seperti biasanya. Aku ajak dulu dia memutari satu blok. Kemudian dia turun. Salim. Dan minta dicium.

Aku berangkat. Aku akan pergi ke Bandung. Setiap minggu aku memang harus pergi pulang ke Bandung dengan motorku. Aku belum selesai menjalani tugas belajar program S2. Naik bis sebenarnya jauh lebih nyaman. Apalagi, kalau naik Patas AC Executive. Lagi pula, uang beasiswa dari proyek yang aku terima, terhitung cukup untuk naik bis. Tapi, menurut hitunganku, dengan motor hanya menguras seperempat isi dompetku, dibandingkan kalau aku naik Bis Patas. Waktu tempuh pun relatif lebih cepat.

Kurang lebih satu kilometer aku meninggalkan rumah, hujan kembali turun rintik-rintik. Meskipun hujan hanya gerimis, kuputuskan untuk berhenti. Kubuka mantel hujanku dan kupakai, sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan. Aku terus melaju dalam remang lampu jalan yang belum dimatikan sambil menahan sakitnya tetes hujan yang mengenai mataku. Aku memang tidak memiliki jarak pandang yang cukup, bila kaca helmku aku turunkan.

Hujan baru reda setelah aku melewati Taman Safari. Persisnya di antara restaurant yang berbentuk pesawat dengan restaurant yang berbentuk kapal pinisi. Aku sengaja tidak melepas mantel hujanku. Aku mulai merasakan aroma dinginnya udara Puncak.

Baru saja aku memasuki Puncak, tepatnya di Gunung Mas, aku digulung kabut tebal. Udara dingin menembus lapis demi lapis jaketku, termasuk mantel hujanku. Aku merasakan dingin udara sampai ke tulang sum-sum. Tangan terasa kaku, kaki susah bergerak. Jarak pandang hanya sekitar dua meter. Lampu motor tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Kendaraan dari depan, baru tampak setelah di depan mata. Dan itu membuatku sering terkejut-kejut. Aku hanya bisa melaju dengan kecepatan 20 km/jam. Itupun harus aku lakukan dengan sering menahan napas. Terpaan angin yang kencang pada mantelku membuat motorku berjalan meliuk-liuk seperti penari ular. Dalam keadaan seperti itu aku membiarkan pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku sadar bahwa aku sudah sampai di Cianjur dan cuaca cukup terang.

***

Banyak yang terlintas di kepalaku saat aku berada di daerah Puncak. Aku ingat, bahwa aku kemarin baru saja mengambil jam tangan istriku, yang telah kutitipkan di service center Blok M lebih dari dua minggu. Aku ingat, bahwa aku lebih dari tiga kali, pergi pulang ke tempat itu hanya untuk membawa jam yang tidak sanggup bertahan lebih dari tiga hari setelah diperbaiki. Aku ingat tatapan penuh tanya, wanita-wanita penjaga show room di lantai bawah setiap kali aku lewat menyusuri tangga di sisi sebelah kanan. Aku ingat senyum manis pelayan bagian service, yang ia sunggingkan sesaat aku membelokkan badan ke bagian kiri setelah anak tangga terakhir. Aku ingat lambaian tangan Mas Yanto, si petugas service, dari balik kaca tembus pandang, tempat ia melakukan tugasnya.

Aku juga ingat, bahwa aku sengaja pergi hari itu ke blok M karena teman-teman istriku akan datang ke rumah. Aku ingat istriku bilang, bahwa bila aku ada di rumah ketika teman-temannya datang, mereka tidak akan merasa bebas. Aku ingat, bahwa istriku dan teman-temannya membuat buras (lontong isi) untuk acara hari ini di tempat mereka bekerja.

Aku ingat, bahwa sebelum pulang dari mengambil jam, aku mampir ke Gramedia. Aku ingat ketika aku pura-pura melihat-lihat sebelum akhirnya keluar lagi dari tempat alat tulis menulis di lantai bawah, karena aku salah masuk. Aku ingat tatapan curiga satpam toko itu ketika aku keluar lagi tanpa membeli apa-apa. Aku ingat bahwa aku meletakkan buku yang aku pilih di lantai dua, di tumpukan buku best seller, yang ada di lantai tiga. Aku ingat bahwa aku hanya membeli tiga buah buku seharga enam puluh ribuan.

Aku ingat, bahwa tadi malam aku selesai membaca buku kiat menulis cerpen. Aku ingat bahwa tadi malam aku bermimpi membuat cerpen yang bagus. Aku ingat bahwa aku masih mencari ide cerita untuk sebuah cerpen.

Dalam perjalanan itupun, aku mencoba merangkai kata-kata sebuah cerpen dalam imajinasiku. Aku membayangkan cerpenku dimuat di koran terkenal. Aku membayangkan bahwa aku, dengan penuh bangga, memperlihatkan cerpenku yang dimuat koran kepada dosen writing-ku. Aku juga membayangkan Professorku mengganti nilai writing-ku menjadi ‘A’.

Aku merasa puas. Ide yang aku cari untuk sebuah cerpen menampakkan wujudnya dalam perjalanan ini. Dan aku tidak merasakan dinginnya perjalanan itu.

Cibinong, Kamis, 21 Februari 2002