Ide Dalam Tanda Petik

Oleh: Yusuf Efendy

“Mengarang itu gampang,” begitu kata Arswendo dengan judul bukunya. Aku setuju. Bahkan aku yakin bahwa mengarang bukan cuma gampang tetapi juga menyenangkan dan menghasilkan. Meskipun makna ungkapan itu baru aku rasakan setelah menanti selama tujuh belas tahun tahun!

***

Aku seorang sarjana. Namaku Yudi. Umur 38 tahun. Tinggi 157 cm. Rambutku lurus pendek. Muka bundar. Aku berkumis dan memiliki janggut yang aku bersihkan seminggu sekali. Pekerjaanku guru.

Aku mengajar di sebuah SMU Negeri. Anak-anak aku bimbing belajar Bahasa Inggris. Kemampuan mereka berbahasa Inggris menjadi tanggung jawabku. Aku harus membuat murid-muridku terampil menyimak semua yang berbahasa Inggris. Aku juga harus membuat mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Murid-muridku harus mahir membaca semua tulisan berbahasa Inggris, dan tentu saja mereka juga harus bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan, pendapat dan lain-lain dalam bahasa Inggris. Dari semua keterampilan yang harus diajarkan, keterampilan mereka menulis lebih mendapat perhatianku.

Untuk memupuk keterampilan murid-muridku menulis, aku sering meminta mereka untuk menuliskan apa yang mereka alami dan mereka lakukan pada saat liburan. Atau aku sering meminta mereka menuliskan pendapat, perasaan, tanggapan dan sejenisnya terhadap informasi yang mereka lihat, mereka dengar, atau yang mereka baca.

Jika aku melihat ada muridku yang tampak bingung mengerjakan perintahku, karena perintahnya sendiri memang sering tidak jelas, aku sering tanpa sadar mengucapkan kata-kata, ‘‘tulis saja apa yang ada dan lewat di kepalamu!” “Jangan takut salah, jangan takut ditertawakan, dan jangan takut tidak ada yang membaca.” Begitu aku sering memberi nasihat. Anehnya, aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang sering aku perintahkan kepada murid-muridku yang kebingungan itu.

Sekarang aku melakukannya. Aku akan menuliskannya. Dan aku akan menuliskan apa saja yang ada di kepalaku. Aku akan menceritakan apa yang aku pikirkan, ketika aku menyusuri belokan demi belokan jalan mendaki dengan sepeda motorku di kegelapan kabut suatu subuh di Puncak.

***

Hari ini aku bangun dini sekali. Suara kodok masih terdengar lamat-lamat dari pinggiran kali yang tidak terlalu jauh. Tidak ada kokok ayam. Tapi, suara burung tekukur Pak De Wagiman sesekali terdengar. Di luar hujan, meskipun tidak terlalu deras. Suara pak Haji yang biasa terdengar dari Mushalla di dekat rumah, yang biasanya muncul setengah jam sebelum waktu shalat subuh tiba, juga belum terdengar. Pak Husin, tetangga sebelah yang seorang pemilik sekaligus sopir angkot itu, belum memanaskan mesin angkotnya. Pak De Wagiman di depan rumah, belum berangkat ke pasar. Suara vespa tuanya yang menjadi tanda kepergiannya, belum terdengar ia nyalakan. Namun, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara speaker dari mesjid di kampung seberang kali Ciliwung. Meskipun demikian, suara hujan mampu memecah kesunyian malam.

Aku ke kamar mandi, mengambil air wudlu, kemudian shalat malam dua raka’at. Aku bangunkan istriku. Juga anak tertuaku yang sudah kelas enam SD. Kami bertiga makan sahur bersama dengan ikan ayam goreng Sukabumi yang sengaja aku beli sepulang mengawas Ujian Akhir Semester, mahasiswa Sekolah Tinggi tempatku biasa mencari tambahan uang belanja. Kami bermaksud melakukan puasa Sunnah Arafah sebelum Idul Adha tiba.

Selesai makan, anakku menyalakan Televisi. Dia mendapatkan acara yang selalu ingin dia tonton, pertandingan bola Liga Champion. Istriku melanjutkan tidurnya. Sedangkan aku sendiri membaca buku “Menulis dengan Emosi” yang baru aku beli kemarin.

Pukul empat tiga puluh, suara pak H. Kunkun membangunkan orang, terdengar dari Mushalla di dekat rumah.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da ma amatana wa ilaihin nusuur. Kaum Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah. Waktu di Musholla At-Taqwa menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Sekali lagi, waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Waktu shubuh hari ini, jatuh pada pukul empat lewat tiga puluh delapan menit. Berarti masih ada waktu kurang lebih delapan menit lagi sebelum kita masuk ke waktu shubuh. Kepada Kaum Muslimin yang masih tidur, segeralah banguuun. Banguuun….! Ashsholatu Khoirum Minan Naum. Shalat itu lebih baik dari pada tidur. Bagi kaum muslimin yang ingin melaksanakan shalat subuh berjama’ah, harap bersiap-siap dan segeralah berangkat menuju Mushalla. Sekian terima kasih. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Aku tutup buku yang sedang kubaca. Lalu aku ke kamar mandi. Adzan shubuh berkumandang ketika aku sedang mengguyur badan setelah memakai sabun. Selesai mandi aku pakai t-shirt, kupakai sarung, kuambil peci yang tersangkut di paku, kubentangkan sajadah. Aku melaksanakan shalat shubuh.

Setelah selesai, Aku ambil baju dan celana panjang yang tergantung. Kulipat. Kumasukkan ke dalam tas pakaian biru, yang biasa aku bawa. Kukenakan jinsku. Kupakai sweater. Kupakai jaketku yang bersleting sampai ke dagu. Kemudian kulapisi lagi dengan jaket hitam yang agak longgar. Kupakai sepatu setelah berkaus kaki. Kumasukkan kunci kontak. Kutaruh tas pakaian di lekukan antara stang dan jok. Kupakai helm. Kugunakan sarung tangan. Kukeluarkan Suzuki Tordano tahun 2000 kebanggaanku. Dan kuhidupkan.

Ketika aku menginjak gigi satu dan siap menarik gas, anakku yang bungsu bangun dan berteriak memanggilku dari dalam rumah. Dia meminta aku mengajaknya dulu mutar-mutar sebelum aku berangkat seperti biasanya. Aku ajak dulu dia memutari satu blok. Kemudian dia turun. Salim. Dan minta dicium.

Aku berangkat. Aku akan pergi ke Bandung. Setiap minggu aku memang harus pergi pulang ke Bandung dengan motorku. Aku belum selesai menjalani tugas belajar program S2. Naik bis sebenarnya jauh lebih nyaman. Apalagi, kalau naik Patas AC Executive. Lagi pula, uang beasiswa dari proyek yang aku terima, terhitung cukup untuk naik bis. Tapi, menurut hitunganku, dengan motor hanya menguras seperempat isi dompetku, dibandingkan kalau aku naik Bis Patas. Waktu tempuh pun relatif lebih cepat.

Kurang lebih satu kilometer aku meninggalkan rumah, hujan kembali turun rintik-rintik. Meskipun hujan hanya gerimis, kuputuskan untuk berhenti. Kubuka mantel hujanku dan kupakai, sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan. Aku terus melaju dalam remang lampu jalan yang belum dimatikan sambil menahan sakitnya tetes hujan yang mengenai mataku. Aku memang tidak memiliki jarak pandang yang cukup, bila kaca helmku aku turunkan.

Hujan baru reda setelah aku melewati Taman Safari. Persisnya di antara restaurant yang berbentuk pesawat dengan restaurant yang berbentuk kapal pinisi. Aku sengaja tidak melepas mantel hujanku. Aku mulai merasakan aroma dinginnya udara Puncak.

Baru saja aku memasuki Puncak, tepatnya di Gunung Mas, aku digulung kabut tebal. Udara dingin menembus lapis demi lapis jaketku, termasuk mantel hujanku. Aku merasakan dingin udara sampai ke tulang sum-sum. Tangan terasa kaku, kaki susah bergerak. Jarak pandang hanya sekitar dua meter. Lampu motor tidak sanggup menembus tebalnya kabut. Kendaraan dari depan, baru tampak setelah di depan mata. Dan itu membuatku sering terkejut-kejut. Aku hanya bisa melaju dengan kecepatan 20 km/jam. Itupun harus aku lakukan dengan sering menahan napas. Terpaan angin yang kencang pada mantelku membuat motorku berjalan meliuk-liuk seperti penari ular. Dalam keadaan seperti itu aku membiarkan pikiranku melayang-layang sampai akhirnya aku sadar bahwa aku sudah sampai di Cianjur dan cuaca cukup terang.

***

Banyak yang terlintas di kepalaku saat aku berada di daerah Puncak. Aku ingat, bahwa aku kemarin baru saja mengambil jam tangan istriku, yang telah kutitipkan di service center Blok M lebih dari dua minggu. Aku ingat, bahwa aku lebih dari tiga kali, pergi pulang ke tempat itu hanya untuk membawa jam yang tidak sanggup bertahan lebih dari tiga hari setelah diperbaiki. Aku ingat tatapan penuh tanya, wanita-wanita penjaga show room di lantai bawah setiap kali aku lewat menyusuri tangga di sisi sebelah kanan. Aku ingat senyum manis pelayan bagian service, yang ia sunggingkan sesaat aku membelokkan badan ke bagian kiri setelah anak tangga terakhir. Aku ingat lambaian tangan Mas Yanto, si petugas service, dari balik kaca tembus pandang, tempat ia melakukan tugasnya.

Aku juga ingat, bahwa aku sengaja pergi hari itu ke blok M karena teman-teman istriku akan datang ke rumah. Aku ingat istriku bilang, bahwa bila aku ada di rumah ketika teman-temannya datang, mereka tidak akan merasa bebas. Aku ingat, bahwa istriku dan teman-temannya membuat buras (lontong isi) untuk acara hari ini di tempat mereka bekerja.

Aku ingat, bahwa sebelum pulang dari mengambil jam, aku mampir ke Gramedia. Aku ingat ketika aku pura-pura melihat-lihat sebelum akhirnya keluar lagi dari tempat alat tulis menulis di lantai bawah, karena aku salah masuk. Aku ingat tatapan curiga satpam toko itu ketika aku keluar lagi tanpa membeli apa-apa. Aku ingat bahwa aku meletakkan buku yang aku pilih di lantai dua, di tumpukan buku best seller, yang ada di lantai tiga. Aku ingat bahwa aku hanya membeli tiga buah buku seharga enam puluh ribuan.

Aku ingat, bahwa tadi malam aku selesai membaca buku kiat menulis cerpen. Aku ingat bahwa tadi malam aku bermimpi membuat cerpen yang bagus. Aku ingat bahwa aku masih mencari ide cerita untuk sebuah cerpen.

Dalam perjalanan itupun, aku mencoba merangkai kata-kata sebuah cerpen dalam imajinasiku. Aku membayangkan cerpenku dimuat di koran terkenal. Aku membayangkan bahwa aku, dengan penuh bangga, memperlihatkan cerpenku yang dimuat koran kepada dosen writing-ku. Aku juga membayangkan Professorku mengganti nilai writing-ku menjadi ‘A’.

Aku merasa puas. Ide yang aku cari untuk sebuah cerpen menampakkan wujudnya dalam perjalanan ini. Dan aku tidak merasakan dinginnya perjalanan itu.

Cibinong, Kamis, 21 Februari 2002

Advertisements

Kucing Itu

Oleh: Yusuf Efendy

Sekarang sudah hari ke sembilan. Yudi masih belum mengerti lewat mana kucing itu biasa masuk, jam berapa kucing itu biasanya masuk, dan apa yang merangsang kucing itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

Akhir-akhir ini Yudi kembali mengulang kebiasaannya bangun malam. Kebiasaan untuk melakukan sekedar dua raka’at shalat tahajud atau shalat sunnah hajat. Kebiasaan itu sebelumnya sudah terhenti agak lama. Apalagi setelah dia merasakan hidupnya sedikit agak senang. Tapi sekarang, dia merasakan bahwa kehidupannya agak sedikit oleng. Dia tidak dapat memberikan uang yang diminta istrinya meskipun hanya sepuluh ribu rupiah untuk belanja harian. Oleh karena itu dia sudi bangun malam untuk mengadukan persoalannya kepada sang Khalik sambil memohon solusi.

Malam itu Yudi bangun pukul dua lewat empat puluh lima menit. Ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu’, dan melakukan shalat di ruang tengah, persis di depan kamar tidur anaknya. Dia tidak melakukan shalat di kamar, tempat dia biasanya melakukan shalat sendiri di rumah. Dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya.

Setelah selesai mengadukan persoalan dan mengajukan permohonan untuk ditunjukkan solusi menghadapi sulitnya hidup, Yudi mengambil sebuah buku dari deretan buku yang ada dalam rak miliknya. Dia berjalan ke ruang tamu sambil menekan saklar lampu yang menempel di dinding, kurang lebih lima langkah dari tempat dia mengambil buku.

“Sialan!” Yudi memekik ketika seekor kucing melompat dari kursi tamu ke arah pintu depan, bersamaan dengan menyalanya lampu. Kucing berwarna hitam pekat sebesar bidak catur kreasi seniman Bali yang dimainkan di halaman sebuah hotel sebagai penarik wisatawan itu, menatap Yudi sambil menyiratkan permohonannya untuk dibukakan pintu. Yudi tidak memperhatikan apa jenis kelamin kucing yang membuatnya terperanjat itu.

Entah karena Yudi mengerti bahasa kucing atau karena dia ingin mengusir kucing itu keluar, tanpa diperintah Yudi membuka pintu depan. Seolah bahasanya dimengerti oleh manusia dihadapannya, tanpa pamit dan tanpa disuruh, kucing itu berjalan keluar dengan tenangnya. Kucing itu tidak berlari seperti kucing yang ketakutan. “Aku tahu dari tatapan matanya bahwa orang ini tidak galak,” mungkin begitu kira-kira yang ada di kepala kucing itu, sambil berlalu. Yudi menutup kembali pintu dan mulai membaca buku yang telah dipegangnya. Konsentrasi Yudi membaca terganggu oleh pertanyaan lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke dalam rumahnya. Yudi menduga bahwa kucing itu masuk lewat pintu depan ketika anaknya lupa menutup pintu saat keluar menemui temannya. Tujuannya paling-paling hanya untuk mencuri ikan asin, baik yang sudah digoreng maupun yang masih mentah, yang biasanya terdapat di dalam rumah.

Malam berikutnya kejadian kemarin berulang kembali. Yudi bangun, ke kamar mandi, melakukan shalat, mengambil buku dari rak, dan ke ruang tamu sambil menyalakan lampu. Melompat seekor kucing ke arah pintu depan, Yudi membuka pintu, kucing keluar, Yudi menutup pintu, dan duduk di kursi tamu untuk mulai membaca buku. Hanya saja, kali ini Yudi tidak mengeluarkan sumpah serapah seperti malam sebelumnya. Tapi, ketika Yudi baru hendak mulai membaca buku, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Yudi merasakan bahwa ion-ion rasa ketakutan sedang menjalar dalam sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar agak kencang dan sumsum tulang belakangnya terasa mendesak ke atas.

Yudi mengarahkan pandangannya ke ruang-ruang di bagian belakang. Dari ruang tamu tempat dia duduk, dia melihat ke arah kamar belakang di pojok sebelah kiri yang berfungsi seperti gudang. Kemudian ke arah kamar mandi dan ke arah dapur di sisi kanan. Semuanya lengang. Lampu lima watt di kamar belakang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda yang bergerak. Karena suasana malam itu sudah menjelang pagi, dan Yudi tahu bahwa anak-anak serta istrinya ada di rumah, rasa takutnya tidak sehebat seperti yang dia rasakan ketika sesuatu terjadi padanya sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi, kehadiran kucing misterius ini justru mengingatkannya pada kejadian tiga tahun yang lalu itu.

Waktu itu, Yudi baru pulang dari Banten dengan membawa mobil Suzuki Carry milik temannya. Malam sebenarnya belum begitu larut. Arloji di tangan Yudi menunjukkan pukul sebelas lewat tiga belas menit. Tapi demi kepraktisan dan setelah menelpon pemiliknya, mobil itu tidak dikembalikan kepada tuannya. Ketika mobil diparkir di depan rumah tetangga yang persis di depan rumahnya. Dari dalam mobil Yudi melihat dari dalam rumahnya seorang perempuan menyibakkan gorden dan memandang ke arahnya. Yudi dapat melihat bayangan itu dengan jelas karena di bagian tengah rumahnya, sebelum direnovasi seperti sekarang ini, terletak sebuah aquarium berlampu yang mampu memperjelas sosok seseorang di depannya.

Yudi mengunci pintu mobil dan memeriksa kaca-kaca jendela. Kemudian ia berjalan ke arah pintu rumah setelah menggeser pintu gerbang beroda yang biasa tidak terkunci. Tapi, ketika Yudi hendak masuk ke dalam rumah, dia merasa heran. Kenapa istrinya yang sudah tahu bahwa ia pulang tidak membukakan pintu. “Mungkin si Mamah menyangka bahwa yang bawa mobil itu bukan aku.” Yudi menduga apa yang ada di kepala istrinya. Dan ini logis. Selain Yudi tidak punya mobil, tempat mobil itu diparkir juga memperkuat dugaan ini. Oleh karena itu, tanpa harus mengetuk pintu, Yudi dapat membuka pintu itu dengan sebuah anak kunci yang selalu ia bawa dalam saku celananya.

Yudi masuk sambil mengucapkan salam yang tidak terlalu keras. Dan memang, maksud salam ini hanya sebagai etika memasuki rumah yang selalu ia jaga. Oleh karena itu, ketika salamnya tidak ada yang menjawab, Yudi tidak terlalu risau. Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk membuka pakaian. Ketika masuk ke dalam kamar sambil menyalakan lampu, Yudi tidak melihat istrinya tertidur di situ. “Mungkin si Mamah ikut tidur di kamar anak-anak,” pikir Yudi sambil melepas pakaian.

Yudi masuk ke kamar mandi yang pintunya berhadap-hadapan dengan pintu kamar tidurnya. Mengambil air wudlu’ lalu melaksanakan shalat isya yang belum sempat dilakukannya di perjalanan. Setelah selesai melakukan shalat dan berdoa sebentar, Yudi merasakan keanehan. Mengapa istrinya tidak menghampirinya di kamar depan? Apakah istrinya tidak terganggu oleh suara Yudi di kamar mandi ketika mengambil air wudlu? Tidak mungkin, jika istrinya tidak tahu bahwa dia sudah pulang. Bukankah sebentar tadi, istri Yudi sudah melihat kepulangannya lewat gorden? “Si Mamah dengan Anak-anak ingin menciptakan keceriaan rumah dengan bermain petak umpet.” Yudi menepis keanehannya.

Yudi bangkit. Melepaskan kain sarung yang ia kenakan ketika shalat, melipat sajadah yang tadi ia bentangkan, dan berjalan ke arah kamar anaknya. Yudi menyibakkan kain gorden di kamar anaknya dan menyalakan lampu. Yudi tidak menemukan kedua anaknya yang masih kecil-kecil, dan juga istrinya. “Jangan bercanda akh!” teriak Yudi sambil berjalan ke arah kamar belakang. Kamar ini sebelumnya merupakan kamar pembantu yang pernah bekerja untuk keluarga Yudi sebelum para pembantu itu berhenti.

Yudi mendorong pintu kamar yang tidak terkunci, dan menyalakan lampu kamar itu. Dia pun tidak menemukan anak-anak dan istrinya disana. “Enggak takut weeee!” teriak Yudi lagi sambil menuju pintu belakang. “Mereka pasti bersembunyi di luar rumah lewat pintu belakang,” pikir Yudi di dalam hati. Dan betapa terkejutnya Yudi ketika dia tahu bahwa pintu belakang masih terkunci rapat. Sambil agak sedikit berlari, Yudi kembali ke kamar depan. Dia tidak melihat siapapun disana, dan tidak terdengar cekikikan tanda kemenangan dalam permainan petak umpet.

Secepat kilat Yudi berlari ke ruang tamu, menyalakan lampu, dan membuka pintu depan sampai ternganga. Yudi berdiri di sisi luar pintu, merasakan detak jantung yang berdebar-debar kencang sambil memikirkan apa dan siapa yang tadi dia lihat menyibakkan gorden rumah.

Entah karena mendengar bunyi pintu dibuka, atau karena kebetulan, atau karena merasa dititipi pesan yang harus disampaikan, Bude Wagiman tetangga Yudi di depan rumah keluar sambil berkata. “Pak, Ibu dengan anak-anak tadi sore pergi ke Depok. Katanya mau nginap.” “Oh, … Terima kasih Bude,” kata Yudi sambil menyembunyikan rasa takutnya. Bude Wagiman masuk lagi ke dalam rumahnya setelah menyampaikan pesan itu tanpa bertanya ini itu.

Yudi masuk ke kamar, mengambil kunci mobil, dan keluar rumah dengan menutup dan mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu. Lalu Yudi membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya, menutup pintu, dan merebahkan badanya di jok bagian tengah. Matanya tidak bisa terpejam.

Setelah tidak berhasil mencoba memejamkan mata di dalam mobil selama kurang lebih dua puluh satu menit, Yudi bangkit dan keluar dari dalam mobil itu. Kemudian, Yudi masuk ke dalam rumah, menyalakan semua lampu di seluruh ruangan, masuk ke dalam kamar tidur, mengunci pintu kamar itu, dan membaringkan tubuhnya di atas spring bed sambil menutupi bagian muka dan kepala dengan bantal sampai akhirnya ia pun tertidur.

Pengalaman yang Yudi alami tersebut membuat dia percaya bahwa di rumahnya juga tinggal sejenis makhluk halus sebangsa jin. Dan jauh sebelum komplek tempat rumahnya ramai dihuni orang, Yudi pernah mendengar suara-suara aneh seperti langkah orang berjalan, suara orang di kamar mandi, dan lain-lain ketika dia sesekali coba menginap di rumah ini sebelum mereka tempati seperti sekarang. Kehadiran kucing misterius ini mempertebal keyakinannya.

Malam berikutnya dan berikutnya lagi, kehadiran kucing itu terus berulang sampai malam kesembilan ini. Kucing itu tetap menyisakan tiga pertanyaan yang belum terjawab. Lewat mana kucing itu masuk, kapan kucing itu masuk, dan untuk apa kucing itu masuk ke rumah Yudi.

Cibinong, 28 April 2002

Tiga Musibah Beruntun

Oleh: Yusuf Efendy

Hari semakin malam. Ia merebahkan badannya sejam yang lalu setelah menutup warungnya yang hampir bangkrut. Sudah berkali-kali ia rubah posisi tidurnya. Menghadap ke dinding sambil memunggungi istrinya. Menghadap ke arah istrinya yang sudah terlelap bersama putrinya yang baru berusia dua tahun. Menghadap ke langit-langit yang terbuat dari bilik bambu. Tengkurab sambil menutupi kepala dengan satu lagi bantal. Semua posisi itu tidak ada yang mampu mengantarnya tidur. Waktu selama satu jam belum cukup untuk membuatnya benar-benar tertidur.

Hendri heran. Dia bingung. Dia tidak habis pikir. Dan dia tidak pernah mengerti mengapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini. Mengapa Tuhan tidak menunjukkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Mengapa Tuhan tidak mengingatkan apa-apa yang sudah dia lupakan. Mengapa. Mengapa Tuhan harus memberinya semua cobaan berat ini. Mengapa Dia menghukumnya seberat ini. Mengapa. Mengapa harus tiga musibah beruntun yang ia alami dalam waktu yang begitu singkat.

***

Sekembalinya dia bekerja selama tiga tahun di Johor Bahru Malaysia dia menikahi Tugimah gadis asal Kebumen yang ia kenal ketika sama-sama bekerja di sebuah Mal di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Dia memilih mengontrak sebuah rumah di pinggiran komplek tempat keluarga kakaknya tinggal di daerah Cibinong Bogor.

Ia membuka usaha sendiri. Dia membuka sebuah warung kelontong.

Dia belanjakan semua sisa uang hasil jerih payahnya bekerja di Malaysia. Dia isi warungnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Di warungnya tersedia beras, telur ayam, minyak goreng, kecap, deterjen, sabun cuci, sabun mandi, minyak tanah, air mineral, gas elpiji, dan lain-lain. Dia pun menyediakan rokok. Meskipun kecil warung itu terlihat cukup lengkap.

Sejak saat itu hari-harinya menjadi sibuk. Pagi-pagi dia buka warungnya. Dia layani pembeli yang hampir tidak putus sampai sekitar pukul sepuluh pagi. Pada jam-jam sepi pembeli dia pergi ke pasar, belanja keperluan warung, segera pulang kembali untuk melayani pembeli yang biasa datang sore hari. Begitu rutinitasnya sehari-hari.

***

Baru saja satu tahun Hendri merasakan banyaknya pembeli yang mengunjungi warungnya, dia menghadapi ancaman serius. Tidak tanggung-tanggung dan tidak mungkin terlawan. Sebuah mini market berdiri tegak tidak jauh dari warungnya. Mini market itu tampak seperti raksasa yang mencibir di depan seorang kerdil. Dan memang, akhirnya apa yang dia cemaskan menjadi kenyataan. Warungnya hanya mampu menyisakan gas elpiji dan air mineral sebagai barang dagangan. Kedua barang ini mampu bertahan karena sistem penjualannya diantar ke rumah. Rokok masih laku karena jarang orang pergi ke mini market hanya untuk membeli sebatang rokok, meskipun ingin membeli rokok Dji Sam Soe. Oleh karena itu ketika ada kerabatnya yang bersuamikan orang Malaysia dan menetap di sana, membantunya menambah modal, uang itu dia belikan tabung-tabung gas elpiji dan galon-galon air mineral. Dia pun membeli sebuah motor bebek tahun delapan puluh empatan yang dia gunakan untuk mengantar gas elpiji dan atau air mineral yang dipesan pelanggan melalui telepon.

Suatu sore dua hari menjelang lebaran Hendri bermaksud mengantar pesanan elpiji dari pelanggan di perumahan sebelah. Seperti biasa dia harus melewati jalan raya yang ramai. Tapi jalan ramai yang harus dia lalui sebelum sampai ke perumahan itu hanya sekitar dua ratus meter panjangnya. Oleh karena itu dia mengendarai motornya hanya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, dan dia hanya berani menjalankan motornya di jalan itu dengan memilih agak ke tepi.

Kurang lebih lima puluh meter sebelum sampai di rumah pelanggan, persis di mulut sebuah gang, tiba-tiba pantat sebuah kerbau menabrak motor yang sedang ia kendarai. Rupanya kerbau itu sedang mengadu kekuatan dengan si penuntun yang menariknya memasuki gang itu. Hendri tersungkur. Dia terpelanting ke tengah jalan. Dia lupa segalanya untuk sesaat. Dia tersadar kembali setelah beberapa saat dan melihat kerumunan orang. Rupanya di dekatnya juga tergeletak sebuah vespa dengan seorang pengendaranya yang terluka. Hendri tahu dari salah seorang yang menolongnya bahwa kerbau yang mendorongnya dan kemudian tertabrak oleh pengendara vespa itu, juga menyeret si penuntunnya yang tidak sempat membuka lilitan tali pada tangannya.

Untunglah Hendri tidak luka terlalu parah. Meskipun velk depan sepeda motornya membentuk angka delapan dan tidak bisa dipakai lagi, namun dia hanya mengalami luka-luka yang tidak terlalu serius di bagian lutut, paha, dan lengan sebelah kanan. Setelah diperban di rumah sakit dia masih bisa berjalan. Dan diantar oleh tetangganya, dia mencoba menyusuri jejak kaki kerbau sampai ke pemiliknya.

Sesampainya di sekitar tempat kerbau itu berada, dia datangi rumah pak RT untuk meminta izin menemui pemiliknya. Pak RT menjelaskan bahwa kerbau itu adalah kerbau tandingan, kerbau yang dimiliki banyak orang untuk disemblih besok sebelum Idul Fitri. Hendri mohon izin untuk menemui ketua kelompok tandingan itu, tapi pak RT menyarankannya untuk datang keesokan harinya agar suasana bisa lebih tenang. Hendri mengikuti saran itu dan terus pulang.

Besoknya setelah lewat pukul tiga sore, dengan diantar oleh kakaknya, Hendri datang lagi ke kampung itu dan menjumpai ketua RT yang kemarin dia temui. Dengan wajah yang tampak agak sedikit masam, pak RT menemui mereka. Mereka merasakan aroma kekecewaan yang akan mereka hadapi. Dan benar, Pak RT mendapat laporan dari penuntun kerbau itu bahwa kerbau mereka ditabrak motor dan kabur menyeret penuntunnya. Kerbau itu sudah disembelih tadi pagi. Keinginan mereka untuk menemui ketua kelompok tandingan itu tidak dikabulkan pak RT karena takut terjadi keributan. Pak RT berjanji setelah hari raya nanti akan datang ke rumah Hendri bersama yang lainnya. Dijanjikan seperti itu mereka akhirnya pulang masih dengan memendam rasa penasaran.

Lebaran sudah berlalu hampir satu bulan. Sepeda motor sudah diperbaiki. Tapi pak RT dan ketua kelompok tandingan belum juga muncul. Hendri sudah tidak perduli dan dia sudah pasrah.

Menggunakan sepeda motor bekas kecelakaan membuat Hendri tidak tenang. Stang motornya terasa agak berat. Keseimbangan motor terasa agak kurang. Oleh karena itu dia putuskan untuk menjual motor itu dan menggantinya dengan yang lain.

Baru saja dia mencoba untuk menawarkan motor itu dari mulut ke mulut, sudah ada orang yang berminat membelinya. Entah karena harganya murah atau karena orang tersebut betul-betul membutuhkan motor, yang jelas harga sudah disepakati tiga juta rupiah. Besok akan diadakan transaksi.

Sore harinya Hendri pergi membetulkan saklar lampu sen yang sedikit macet. Dia pergi ke sebuah bengkel yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Dia lakukan ini karena dia merasa tidak enak menjual barang yang sedikit ada masalah. Sepulang dari membetulkan saklar sen ini, ketika di pikirannya terbayang uang yang akan dia terima besok, tiba-tiba sebuah sedan putih yang sedang meluncur tidak terlalu cepat menyambarnya dari belakang seperti burung elang menangkap mangsa. Dia tersungkur. Motornya terpelanting beberapa meter.

Menyadari kejadian ini, pengemudi sedan putih yang berpakaian seperti seragam PEMDA keluar dari mobilnya. Dengan dibantu oleh orang yang berada di sekitar tempat kejadian, mereka mengangkat Hendri ke dalam mobil itu dan membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah yang hanya berjarak kurang lebih tujuh ratus meter. Lukanya tidak begitu parah tapi lengan kanannya agak sedikit retak. Hendri pulang. Dan motornya dibawa oleh penambrak untuk diperbaiki. Hari berikutnya Hendri pergi ke Cimande untuk mengurutkan tangannya yang retak.

Seperti yang sudah dijanjikan, calon pembeli motor datang ke rumah Hendri. Dia membawa sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membayar motor. Karena motor itu sudah diberinya tanda jadi seratus ribu, paling tidak uang yang dibawa calon pembeli itu sebesar dua juta sembilan ratus ribu rupiah. Karena uangnya pecahan seratus ribu, maka uang sebanyak itu bisa dia sembunyikan di dalam kantong celana.

Transaksi tidak jadi dilaksanakan. Selain motornya tidak ada di tempat, kondisinya pun diperkirakan tidak semulus sebelumnya. Tanpa penjelasan pun sebenarnya calon pembeli itu tahu sebab-sebab batalnya transaksi. Calon pembeli tidak membatalkan keinginannya untuk membeli motor itu. Oleh karena itu dia tidak meminta kembali tanda jadi yang sudah ia serahkan. Namun demikian, calon pembeli itu mengatakan bahwa harga yang sudah disepakati mohon untuk ditinjau ulang. Dan ini akan dibicarakan kembali setelah motor itu selesai diperbaiki.

Satu minggu sudah berlalu. Motor yang dijanjikan akan diperbaiki dalam waktu dua hari, baru selesai setelah Hendri beberapa kali menelpon. Itupun minta tempo satu hari lagi setiap Hendri menghubunginya. Dan Hendri mulai menanyakan keberadaan motornya sejak hari yang dijanjikan. Yang membuat Hendri tambah kecewa adalah bahwa motor yang katanya mau diantarkan ke rumah, terpaksa harus diambil sendiri. Hendri benar-benar kecewa, tapi tak berdaya.

Sekembalinya motor di tangan, Hendri tidak menunggu lama. Dia datangi rumah calon pembeli yang kebetulan hanya berjarak tiga ratus meter dari tempat Hendri membuka warung. Yang dicari tidak ada di tempat. “Tolong, nanti, datang ke rumah.” Hendri menitipkan pesan melalui perempuan yang mengaku sebagai istrinya.

Selepas maghrib menjelang isya, orang yang sedang Hendri tunggu datang ke rumahnya. Setelah bercakap-cakap sebentar, mereka keluar. Orang itu memperhatikan motor yang di depannya dengan seksama. Dia perhatikan bagian-bagian motor yang menurutnya perlu diperhatikan. Menatap, memegang, menggoyang-goyang, dan mencoba menghidupkan mesin. Tanpa mencoba menjalankan motor itu barang beberapa meter, si calon pembeli merasa tidak keberatan untuk meneruskan transaksi. Hanya saja dia meminta harga sedikit diturunkan. Dan entah apa sebabnya, motor itu tetap dia beli meskipun harganya hanya dikorting seratus ribu.

Hendri senang. Motor yang sudah dia anggap sebagai pembawa sial itu masih bisa dijualnya dengan harga yang cukup tinggi.

***

Hari Idul Adha, sekitar dua minggu setelah kecelakaan kedua terjadi, Hendri tidak pergi kemana-mana. Sakit pada lengan kanannya belum begitu sembuh. Tangannya belum bisa dia gunakan untuk mengangkat yang berat-berat. Namun hari itu dia lalui seperti biasa.

Entah karena apa malam setelah Idul Adha ini dia dan juga istrinya agak sedikit susah tidur. Mereka baru bisa tertidur sekitar pukul dua belas malam. Ini tidak seperti biasanya. Tidak ada hal-hal yang mencurigakan. Tidak ada firasat apapun yang perlu dicermati dan diwaspadai.

Pagi harinya Hendri bangun agak terlambat. Ini dia maklumi karena tidur terlalu malam. Tapi begitu terkejutnya dia ketika melihat jendela gantung di sebelah pintu agak sedikit terbuka. Dia bangunkan istrinya yang masih tertidur dan dia sampaikan kemungkinan apa yang sudah terjadi dengan rumah mereka. Hendri merasa lebih terkejut lagi ketika melihat TV Samsung yang belum lunas cicilannya itu tidak ada di tempat, VCD yang biasa digunakan untuk menghentikan tangis anaknya raib, Active Speaker yang biasa membuat ruangan sempitnya menjadi bingar melayang, dan satu baki roti yang dititipkan orang untuk dijualkan tidak ada lagi entah kemana. Hendri lemas. Istrinya menjerit. Hendri keluar rumah, masuk lagi, dan keluar lagi. Dia suruh istrinya yang masih seperti orang limbung itu untuk menelpon kakaknya dan melaporkan apa yang telah menimpa mereka. Hendri sendiri pergi melapor ke tetangga sebelah rumah dan melapor juga kepada ketua RT.

Sebelum merasa terlambat Hendri yang ditemani kakaknya pergi menemui alamat orang pintar yang pernah direkomendasikan oleh salah seorang langganannya. Mereka pergi ke Ciracas. Mereka membawa seorang anak sebagai syarat bantuan orang pintar itu bisa dilaksanakan.

Setelah sampai dan ngobrol beberapa saat di tempat yang dituju, proses pencarian pun dimulai. Dengan menghitamkan kuku jempol kiri anak yang mereka bawa dengan menggunakan spidol dan dibacakan sedikit mantra, maka anak tersebut dapat melihat melalui kukunya apa yang ditanyakan kepadanya. Untuk mengetes kesiapan anak itu, mula-mula ditanyakan kepada anak itu apakah dia dapat melihat kakaknya melalui kuku yang sudah dihitamkan itu. Dia jawab “ada”. Ketika ditanya dimana sekarang kakaknya berada. Dia jawab “di dalam kelas”. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukan kakaknya. Dia menjawab ‘sedang ngobrol’. Ketika ditanya ‘apakah ada guru di dalam kelas itu’. Dia menjawab ‘tidak’. Selanjutnya ditanyakan pula tentang ibunya, sepupunya, adiknya, dan embah putrinya yang tinggal jauh dari tempat tinggalnya.

Setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab anak itu dengan cukup meyakinkan, barulah mereka bertanya tentang kejadian semalam. Hendri bertanya berapa orang maling yang datang. Anak itu menjawab ‘empat orang’. Lewat mana mereka masuk. “Lewat jendela”. Bagaimana cara mereka mengambil barang-barang yang hilang itu. “Dua orang di dalam dan dua orang di luar”. Menggunakan apa mereka membawa barang-barang itu. “Pakai motor”. Ada berapa motor yang mereka bawa. “Ada dua”. Motor apa yang mereka bawa. “RX King dan Yamaha bebek”. Apa warna motor-motor itu. “RX hitam, bebek merah”. Dimana mereka menyimpan barang-barang itu. “Di dalam rumah”. Bagai mana bentuk rumah tempat menyimpan barang-barang itu. “Rumah kontrakan”. Dan seterusnya dan seterusnya. Anak itu bisa melihat dan menunjukkan tempat-tempat barang itu disembunyikan. Hanya saja, terdapat sedikit kesulitan ketika anak itu harus menggambarkan lokasi yang dia maksud secara detil. Mungkin karena anak itu tidak mengenali di daerah mana persisnya tempat-tempat yang dia sebutkan tadi berada.

Dengan gambaran yang tidak begitu detil tentang tempat yang dimaksud, Hendri dan kakaknya mencoba untuk menyusuri tempat yang dimaksud. Dengan memfokuskan pencarian pada rumah kontrakan dua pintu mereka mulai bergerak. Mereka berharap, jenis motor yang dimaksud terdapat pula di rumah yang akan mereka cari. Tidak terpikir oleh mereka bahwa bisa saja motor itu merupakan motor pinjaman yang segera dikembalikan setelah pekerjaan mencurinya selesai dilaksanakan. Pencarian terus dilakukan dengan menyusuri jalan-jalan yang kadang-kadang melewati pematang sawah. Mereka mencari sampai Matahari hampir masuk ke peraduannya. Karena sudah hampir gelap, akhirnya mereka pulang. Tentu saja mereka tidak menemukan barang-barang yang sedang dicarinya.

Cibinong, Senin, 25 Februari 2002